Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記
量子糾纏獲諾貝爾獎Keterikatan kuantum Raih Nobel
Jarang sekali jurnal mengajak Anda membahas yang berat-berat apalagi yang sangat ilmiah seperti Quantum Entanglement susah menyuarakannya dan beruntung sekali sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Keterikatan kuantum yang meraih Penghargaan Nobel Fisika 2022. Yang mengatakan bahwa Penelitian mereka tidak hanya membuktikan bahwa Einstein salah, tetapi juga menjadi fondasi untuk teknologi seperti komputasi kuantum dan komunikasi kuantum. Namun, butuh lebih dari 40 tahun untuk mendapatkan penghargaan Nobel.
Di Wiki bahasa Indonesia Quantum Entanglement Keterikatan kuantum dijelaskan sebagai berikut : Keterikatan kuantum adalah fenomena yang terjadi ketika sekelompok partikel dihasilkan, berinteraksi, atau berbagi kedekatan spasial sedemikian rupa sehingga keadaan kuantum dari setiap partikel kelompok tidak dapat dijelaskan secara independen dari keadaan yang lain, termasuk ketika partikel dipisahkan oleh jarak yang jauh. Topik keterikatan kuantum merupakan inti perbedaan antara fisika klasik dan fisika kuantum: keterikatan adalah ciri utama mekanika kuantum yang tidak ada dalam mekanika klasik. Dalam bahasa lain, Keterikatan kuantum adalah fenomena mekanika kuantum dimana kuantum menyatakan bahwa dua atau lebih objek harus dideskripsikan dengan referensi antar objek, meskipun objek-objek tersebut tidaklah berkaitan secara spasial. Hal ini mengarah pada korelasi antara atribut fisik objek yang dapat diamati dari suatu sistem. Contohnya, adalah mungkin untuk menyiapkan 2 partikel dalam satu kondisi kuantum seperti ketika yang satu diteliti adalah "spin up" maka yang satunya adalah "spin down" dan begitu pula seterusnya.
Eksperimen mengenai fenomena keterikatan kuantum ini didemonstrasikan dengan menggunaka foton, neutrino, elektron, molekul sebesar bukminsterfulerena, hingga menggunakan berlian kecil. Saat ini sejumlah ilmuwan meneliti pemanfaatan keterikatan kuantum untuk bidang komunikasi, komputasi, dan radar kuantum.
Peraih Nobel dalam Fisika baru-baru ini diberikan kepada Alain Aspect, John F. Clauser dan Anton Zeilinger atas penelitian mereka tentang foton terikat dan merintis ilmu informasi kuantum, yang kemudian akan digunakan untuk mengembangkan teknologi informasi kuantum.
Dan ada yang mengatakan bahwa :
Quantum Entanglement Keterikatan kuantum Menunggu Lebih dari 40 Tahun untuk Mendapatkan Nobel: Pakar Mengatakan Karena Sangat Sedikit yang Memahaminya.
Penghargaan Nobel Fisika 2022 diumumkan pada 4 Oktober, dengan penerima adalah Alain Aspect, fisikawan Prancis; John Francis Clauser, fisikawan teoretis dan eksperimental Amerika; dan Anton Zeilinger, fisikawan teori kuantum dari Austria. Ketiganya sudah membuktikan teori mekanika kuantum pada 1980-an, tetapi baru mendapatkan penghargaan saat ini. Beberapa pakar menjelaskan bahwa alasan keterlambatan ini adalah karena hanya sedikit orang yang memahami temuan tersebut.
Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyebutkan bahwa melalui eksperimen yang inovatif, Aspect, Clauser, dan Zeilinger menunjukkan potensi penelitian dan kontrol keadaan quantum entanglement. Penemuan mereka menjadi dasar era baru teknologi kuantum, sehingga penghargaan Nobel diberikan sebagai pengakuan atas kontribusi ini.
Ketiga penerima penghargaan menyempurnakan celah dalam teori mekanika kuantum pada 1980-an. Clauser pertama kali mengusulkan pendekatan eksperimental untuk menguji ketidaksamaan Bell dengan menggunakan pasangan foton yang terjerat. Pada 1982, tim yang dipimpin oleh Aspect membuktikan hasil eksperimen yang melanggar ketidaksamaan Bell, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa dua partikel yang terpisah jauh dapat memiliki hubungan yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, fenomena yang dikenal sebagai "quantum entanglement Keterikatan kuantum ". Zeilinger, pada 1998, menjadi ilmuwan pertama yang mendemonstrasikan quantum entanglement swapping atau Pertukaran Keterikatan kuantum.
Penelitian mereka tidak hanya membuktikan bahwa Einstein salah, tetapi juga menjadi fondasi untuk teknologi seperti komputasi kuantum dan komunikasi kuantum. Namun, butuh lebih dari 40 tahun untuk mendapatkan penghargaan Nobel. Nicolas Gisin, fisikawan dari Universitas Jenewa, Swiss, berkomentar: "Penghargaan ini sangat pantas, tetapi datang terlambat. Sebagian besar penelitian dilakukan pada 1970-an dan 1980-an."
Gisin menjelaskan bahwa keterlambatan Nobel untuk sains kuantum disebabkan oleh sangat sedikitnya orang yang memahami ketidaksamaan Bell. "Hingga hari ini, hanya segelintir orang yang benar-benar memahami ketidaksamaan Bell. Konsep non-lokalitas acak baru muncul belakangan, dan gagasan bahwa kejadian acak bisa terjadi di berbagai tempat secara bersamaan masih sangat tidak masuk akal bagi banyak orang."
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 