History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Humantek 260924: Picobaby, Suvenir Robot Mini Taiwan dari PCB Bekas

  • 26 September, 2024
Humantek - RtiFM Online Kamis

Taiwan akan Menerima Batch Pertama Tank M1A2T Abrams pada Bulan Desember.

Angkatan Darat telah mengalokasikan NT$40,52 miliar (Rp19 triliun) dari tahun 2019 hingga 2027 untuk membeli 108 tank M1A2T dari AS. Tank-tank tersebut akan ditempatkan di Korps Angkatan Darat ke-6 untuk mempertahankan wilayah utara Taiwan.

Sebanyak 38 tank akan dikirim pada tahun 2024, 42 pada tahun 2025, dan 28 pada tahun 2026, dilansir dari CNA.

Instruktur pelatihan di AS akan kembali ke Taiwan pada akhir November. Setelah menyelesaikan prosedur yang diperlukan, pelatihan pemeliharaan dan persenjataan dijadwalkan dimulai pada Februari 2025, setelah Tahun Baru Imlek.

Pangkalan Chang An dan lapangan uji Kengzikou sedang direnovasi sebagai persiapan kedatangan tank-tank tersebut. Lapangan uji akan memiliki jarak tembak baru yang diperpanjang hingga 1.800 meter dengan target tetap dan bergerak.

Tank M1A2T Abrams dilengkapi dengan meriam laras halus (smoothbore) 120mm yang mampu menembus baja setebal 850mm. Armor komposit pada tank ini juga memberikan perlindungan terhadap peluru penembus baja 850mm.

Selain membeli tank baru, Angkatan Darat juga sedang meng-upgrade armada tank M60 Patton yang sudah tua. Pada tahun 2022, mereka mengalokasikan NT$444,01 juta (US$13,95 juta) untuk meningkatkan sistem kontrol tembak, penargetan, dan penglihatan tank tersebut.

Peningkatan ini dilakukan oleh National Chung-Shan Institute of Science and Technology dan diharapkan selesai tahun depan.

Militer juga sedang mengembangkan varian baru Clouded Leopard dengan meriam 105mm. Setelah memproduksi dua kendaraan prototipe, D1 dan D2, Biro Persenjataan berencana menyelesaikan prototipe D3 pada Juni tahun depan.

Army Recognition Global Defense and Security news

(foto: Twitter Ronkainen)

 

Kebijakan Lokalisasi Energi Lepas Pantai Taiwan Hadapi Tantangan di Bawah Tekanan Uni Eropa

Industri angin lepas pantai Taiwan berada di tengah badai karena keluhan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terhadap persyaratan “lokalisasi” dari pemerintah Taiwan yang dianggap dapat mengacaukan strategi energi terbarukan di Taiwan. Kebijakan ini mengharuskan proyek-proyek energi angin menggunakan produk dan layanan dari pemasok lokal. Tujuannya adalah untuk membantu industri lokal berkembang. Namun, kebijakan ini dikritik oleh para pengembang internasional, terutama dari Eropa.

Kritikan tersebut muncul karena aturan konten lokal ini dianggap terlalu ketat dan memperlambat pembangunan proyek ladang angin, yang sangat dibutuhkan Taiwan untuk menghasilkan energi terbarukan. Para pengembang internasional berpendapat bahwa fokus utama seharusnya adalah menyelesaikan proyek ladang angin tepat waktu, bukan memaksakan penggunaan produk lokal. Mereka berpendapat bahwa jika proyek berjalan lancar, maka rantai pasokan lokal akan berkembang secara alami.

Pemerintah Taiwan sekarang mempertimbangkan untuk melonggarkan aturan ini pada proyek-proyek mendatang, terutama untuk fase proyek Round 3.3. Pengembang berharap agar aturan tersebut lebih fleksibel agar proyek dapat diselesaikan tanpa banyak penundaan. Beberapa proyek saat ini bahkan ditunda hingga tahun 2029, yang menimbulkan frustrasi di kalangan pengembang.

Perubahan kebijakan ini bisa berdampak besar pada masa depan industri angin Taiwan. Jika aturan lokalisasi diperlonggar, hal itu bisa menarik lebih banyak investasi internasional. Namun, ada kekhawatiran bahwa ini bisa melemahkan daya saing pemasok lokal dalam jangka panjang.

Kini, Taiwan sedang berada di titik penting dalam menentukan apakah ingin melanjutkan kebijakan lokalisasi yang ketat atau membuatnya lebih fleksibel untuk memastikan proyek energi angin terbarukan bisa berjalan sesuai rencana.

Wind power in Taiwan - Wikipedia

(foto: WIkipedia)

 

Kopi Tanpa Biji Kopi?
Perubahan iklim semakin mengancam tanaman kopi di seluruh dunia, memicu munculnya "kopi tanpa biji" di berbagai negara. Beberapa perusahaan rintisan berupaya mengembangkan alternatif kopi tanpa menggunakan biji kopi, dengan tujuan mempertahankan cita rasa dan efek kafein sambil mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Menurut data dari Dana Dunia untuk Alam (WWF), tanaman kopi merupakan penyebab deforestasi terbesar keenam di dunia. Perubahan iklim memperburuk masalah ini, memaksa perkebunan kopi pindah ke daerah yang lebih tinggi. Diperkirakan, pada tahun 2050, luas lahan yang cocok untuk menanam kopi akan berkurang setengahnya.Untuk menghadapi tantangan ini, beberapa perusahaan rintisan mulai mengembangkan alternatif kopi tanpa biji:

  • Atomo Coffee: Berbasis di Seattle, menggunakan bahan-bahan seperti jambu biji, guava, fruktosa, biji ramon (makanan tradisional Maya), protein kacang polong, millet, lemon, dan biji fenugreek untuk membuat pengganti kopi. Mereka mengklaim bahwa produk mereka menggunakan air 94% lebih sedikit dan emisi gas rumah kaca berkurang 93% dibandingkan kopi tradisional.
  • Minus Coffee: Didirikan oleh Maricel Saenz dari Kosta Rika, salah satu produsen kopi terbesar. Perusahaan ini menggunakan teknik fermentasi untuk membuat kopi tanpa biji, dengan memanfaatkan limbah industri makanan seperti akar chicory, biji kurma, dan carob. Setelah dipanggang dan digiling, bahan-bahan tersebut difermentasi bersama dengan kafein untuk menghasilkan campuran mirip kopi.
  • Northern Wonder: Perusahaan rintisan asal Belanda, menggunakan bahan-bahan seperti kacang lupin, kacang arab, barley yang telah bertunas, dan akar chicory untuk membuat kopi pengganti.
  • Prefer Coffee: Perusahaan rintisan asal Singapura, menggunakan limbah industri makanan seperti roti yang sudah kedaluwarsa, ampas susu kedelai dari produksi tahu, dan barley yang dihasilkan dari industri pembuatan bir untuk menciptakan alternatif kopi.

Perusahaan-perusahaan ini mengklaim bahwa produk mereka memiliki rasa yang mendekati kopi tradisional, sekaligus mengurangi penggunaan air dan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Beberapa produk mereka sudah tersedia di kafe dan supermarket di Amerika Serikat, Belanda, Swiss, dan Singapura.

Namun, kopi tanpa biji masih menghadapi tantangan. Misalnya, produk ini belum sepenuhnya mampu meniru aroma kopi asli, serta tidak memiliki keterkaitan emosional dengan daerah penghasil kopi. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa peralihan ke kopi tanpa biji dapat memengaruhi petani kecil yang menggantungkan hidup mereka pada budidaya tanaman kopi.

Meskipun demikian, dengan adanya peraturan baru Uni Eropa yang akan melarang penjualan produk yang terkait dengan deforestasi, serta dampak perubahan iklim terhadap produksi kopi tradisional, kopi tanpa biji mungkin akan memainkan peran yang lebih besar di masa depan. Inovasi ini tidak hanya memberikan pilihan yang lebih ramah lingkungan bagi para pecinta kopi, tetapi juga mencari arah baru untuk keberlanjutan industri kopi secara keseluruhan.

(foto: Atomo Coffee)

TAIWAN KEMBANGKAN PUSAT DATA AI

Pembuat elektronik kontrak yang berbasis di Taiwan, Wistron Corp., akan bermitra dengan Zettabyte, penyedia perangkat lunak dan solusi sistem pusat data kecerdasan buatan (AIDC) terkemuka di Asia, untuk membangun pusat data AI skala besar pertama di Taiwan.

Dalam pernyataan yang dirilis pada akhir Agustus, Zettabyte mengatakan kemitraan dengan Wistron bertujuan untuk memenuhi permintaan komputasi AI yang terus meningkat di Taiwan serta di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, kehadiran pusat data AI skala besar pertama ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan teknologi AI Taiwan.

Pusat data skala besar mengacu pada pusat data canggih yang menyediakan kemampuan skalabilitas ekstrem dan dirancang untuk beban kerja skala besar dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan yang dioptimalkan, konektivitas jaringan yang efisien, dan latensi yang diminimalkan.

Selaras dengan platform perangkat keras AI canggih milik perancang chip AI yang berbasis di AS, Nvidia Corp., Zettabyte mengatakan kerja sama ini menandai tonggak penting karena perusahaan akan memanfaatkan produk, layanan, dan pengalaman luas Wistron dalam teknologi informasi dan komunikasi.

Ketua Wistron Simon Lin (林憲銘) mengatakan dalam pernyataan tersebut bahwa pusat data AI skala besar ini akan dilengkapi dengan sistem AIDC pendingin cair tercanggih.

"Pusat data AI baru ini diharapkan akan memainkan peran penting dalam meningkatkan infrastruktur AI Taiwan, mendukung berbagai aplikasi mulai dari semikonduktor, perawatan kesehatan, dan keuangan hingga manufaktur dan kota pintar," kata Lin.

"Inisiatif ini akan mendorong inovasi, meningkatkan efisiensi operasional, dan menumbuhkan generasi baru profesional AI di Taiwan."

Ketua Zettabyte Kenneth Tai (邰中和) mengatakan melalui kemitraan ini, perusahaannya dan Wistron akan menggabungkan keahlian mereka dan perangkat lunak Infrastruktur sebagai layanan (IaaS), sejenis solusi komputasi awan.

"Kami bertujuan untuk menciptakan fasilitas komputasi AI kelas dunia yang akan mendorong inovasi dan pertumbuhan di sektor AI, tidak hanya di Taiwan tetapi di seluruh wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah," kata Tai.

(foto: Canva)

 

Kisah Merek Picobaby, Suvenir Robot Mini Taiwan dari Papan Sirkuit Bekas

Industri semikonduktor merupakan industri andalan Taiwan, yang setiap tahunnya menghasilkan banyak papan sirkuit terintegrasi yang sudah tidak terpakai. Namun, dengan tangan kreatif desainer Taiwan, Zhan Ling-jun (詹玲君) dan suaminya, papan sirkuit bekas yang tampak biasa dapat "berubah" menjadi robot mini yang luar biasa.

Zhan Ling-jun, seorang desainer kreatif asal Kabupaten Yilan, Taiwan, telah berkecimpung di dunia desain selama 19 tahun dan selalu fokus pada "mengubah sampah menjadi harta". Ia menggunakan resistor, kapasitor, dan komponen elektronik lain dari papan sirkuit bekas untuk membuat robot mini. “Karena resistor dan kapasitor dilapisi plastik, pengolahannya rumit, dan sulit terurai jika dibuang begitu saja. Awalnya, saya membuat ini dengan semangat ramah lingkungan,” katanya.

Komponen-komponen elektronik seperti kapasitor dan resistor, dengan tampilan khas mekaniknya, mudah mengingatkan orang pada robot.  Zhan Ling-jun berharap untuk mengubah pandangan orang terhadap robot. Namun, membuat robot yang memiliki kesan “maskulin” sekaligus “menggemaskan” bukanlah hal yang mudah.

Saat mendapatkan sebuah papan sirkuit, Zhan pertama-tama harus melepas komponen-komponen yang dapat digunakan secara manual, membersihkan elektrolit di dalamnya, kemudian melalui proses pembersihan dan pengamplasan. Setelah itu, komponen-komponen ini disusun dan dipasang menggunakan sekrup. Zhan tidak pernah menggambar desain sebelumnya, juga tidak secara sengaja mencari material tertentu. Ia baru mulai memikirkan bagaimana menciptakan sesuatu setelah semua komponen yang telah diproses tersedia di depannya, tanpa merusak struktur asli komponen tersebut.

 “Sebelum jadi, saya tidak bisa membayangkan seperti apa hasilnya, jadi sangat sulit membuat ‘produk yang sama’. Setiap robot unik,” ungkap Zhan.

Robot-robot yang dibuat secara manual ini, ukurannya berkisar dari yang sekecil kuku hingga sekitar tiga hingga lima sentimeter, dan setiap robot bisa menggunakan lebih dari sepuluh komponen elektronik. Waktu pembuatannya biasanya lebih dari lima jam. Yang menarik, komponen-komponen tersebut dipertahankan semaksimal mungkin dalam bentuk aslinya, dengan tulisan-tulisan seperti tegangan yang tetap jelas terbaca. Bagian seperti “leher” dan “sendi” robot juga dipasang menggunakan sekrup, agar robot tersebut bisa bergerak dengan leluasa.

Semakin ahli dalam karyanya, Zhan menambahkan lebih banyak ide kreatif dalam karyanya, seperti menggunakan bahan logam untuk menambah kekuatan, atau menghiasinya dengan kristal agar terlihat lebih elegan. Di usia 44 tahun, Zhan Lingjun tampak sangat antusias saat bercerita tentang robot-robotnya kepada para pelanggannya.

Dua robot yang terlihat seperti Minion dengan sayap di punggungnya, berkat desain khususnya, dapat berdiri dengan satu kaki. Mereka tampak sedang bersandar, berpose seperti sedang melakukan gerakan sumo. Beberapa kapasitor yang sedikit dimodifikasi berubah menjadi set drum, dan dengan tambahan beberapa "penyanyi", terbentuklah sebuah band dari papan sirkuit. Ide-ide unik semacam ini membawa pelanggan ke dalam dunia penuh imajinasi, membuat mereka jatuh hati.

Tiga tahun setelah memulai usahanya, Zhan membuka sebuah toko kreatif di Red House, sebuah landmark di Taipei, dengan nama “Picobaby”. Selama bertahun-tahun, ia telah mengumpulkan banyak pelanggan setia. Ia juga membuka workshop DIY untuk orang tua dan anak, di mana anak-anak dapat belajar membuat kerajinan tangan.

Zhan mengatakan bahwa meskipun jumlah pengunjung berkurang akibat pandemi COVID-19, ia kini memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada karyanya. Semua robot yang ia buat bisa dijadikan kalung atau bros, dan sangat diminati oleh generasi muda.

Di antara banyak robot dengan berbagai desain yang mengisi tokonya, Zhan paling menyayangi "karya perdananya"—sebuah robot yang dibuat dari kapasitor dan sakelar mikro. Robot kecil ini, dengan tampilan persegi yang sedikit kasar, tidak semenarik robot-robot lainnya, sehingga jarang ada yang meliriknya. Namun, bagi Zhan, robot ini memiliki kekuatan penyembuhan. “Robot-robot ini berawal dari tampilan seperti ini, dan secara perlahan mulai diterima dan disukai orang.”

Dari robot bergaya “mekanis” yang awalnya tidak banyak diminati, hingga kini menjadi robot menggemaskan yang memikat banyak orang, perjalanan ini mencerminkan dedikasi Zhan selama belasan tahun dalam berkarya. Toko kecil “Picobaby” di Red House, yang dikenal sebagai “tempat lahirnya kreativitas”, kini telah bertahan selama 16 tahun. Perjuangan mereka membesarkan nama Picobaby bukannya tanpa halangan. Dulu, Zhan dan suaminya sempat membuka toko di eslite, tetapi akhirnya harusmenutupnya dan menanggung kerugian sebesar 1,5 milyar rupiah. Namun, mereka  tidak menyerah dan memutuskan mencari tempat baru yaitu di Red House, Ximending.

Selain pelanggan setia dari Taiwan, Zhan juga memiliki banyak penggemar dari daratan Tiongkok, Hong Kong, bahkan hingga Singapura. Saat ini, studionya menawarkan layanan kustom tanpa biaya desain, namun tetap dikelola hanya oleh Zhan dan suaminya. “Saya hanya ingin melakukan satu hal dengan baik, dan itu tidak pernah berubah.”

Zhan pernah membuka cabang di Ningbo, Zhejiang, namun harus tutup karena pandemi. Meski begitu, ia terus mengikuti perkembangan industri kreatif di daratan Tiongkok, dan telah beberapa kali pergi ke Beijing untuk menghadiri pameran kreatif, serta melakukan riset dan pertukaran pengalaman. Tempat-tempat seperti Wudaoying dan kawasan seni 798 adalah lokasi yang sering ia kunjungi.

“Semakin banyak desainer muda di daratan Tiongkok, dan pengetahuan serta ide-ide mereka berbeda dengan generasi kami. Saya sangat ingin berinteraksi dan bertukar pikiran dengan mereka. Dengan ide-ide segar, kita bisa menciptakan lebih banyak kreasi,” ujar Zhan.

No photo description available.

No photo description available.

(foto: Picobaby)

 

Penyiar

Komentar