(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 26 Mei 2024, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, tiba di Jerman untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari atas undangan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier.
Kunjungan ini menandai pertama kalinya dalam 24 tahun terakhir seorang presiden Prancis melakukan kunjungan kenegaraan ke Jerman.
Setelah serangkaian perdebatan terbuka antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir mengenai berbagai isu penting, kunjungan Macron ini mendapat sorotan besar.
Pertama dalam Seperempat Abad
Presiden Macron tiba di Jerman untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari, yang merupakan kunjungan pertama seorang presiden Prancis ke Jerman dalam seperempat abad sejak kunjungan Jacques Chirac pada tahun 2000.
Hubungan erat antara Prancis dengan Jerman telah lama dianggap sebagai "mesin ganda" yang mendorong integrasi Eropa pasca-perang, menopang Uni Eropa dan mata uang tunggalnya.
Meskipun Brexit mengguncang rasa persatuan Eropa dan meningkatkan skeptisisme Eropa, kerja sama antara Prancis dan Jerman tetap menjadi kekuatan kokoh dalam menjaga perdamaian Eropa.
Dalam pidato publik pertamanya setelah tiba di Jerman, Macron menekankan bahwa "hubungan Prancis-Jerman sangat penting bagi Eropa."
Namun, meskipun memikul nasib integrasi Eropa, "mesin ganda" Prancis-Jerman telah mengalami gesekan terus-menerus dalam beberapa tahun terakhir. Terutama sejak Kanselir Jerman Olaf Scholz menjabat pada tahun 2021, ketegangan dan perbedaan antara kedua negara semakin meningkat, termasuk dalam isu nuklir dan proyek pengadaan pertahanan penting.
Selain itu, perbedaan pandangan kedua negara mengenai bantuan militer ke Ukraina dan isu pertahanan Selat Taiwan berpotensi mempengaruhi kebijakan luar negeri Eropa.
Paris dan Berlin semakin berbeda pandangan mengenai pengiriman misil jarak jauh ke Ukraina dan kemungkinan keterlibatan dalam konflik Rusia-Ukraina.
Pernyataan Macron pada bulan Februari tahun ini yang menyampaikan bahwa Barat tidak boleh mengesampingkan kemungkinan mengirim pasukan untuk membantu Ukraina, memicu respons keras dari Scholz.
Scholz menegaskan, "Kesepakatan yang telah kita capai sejak awal tetap berlaku untuk masa depan, yaitu baik negara-negara Eropa maupun NATO tidak akan mengirim pasukan ke tanah Ukraina."
Perbedaan Pandangan antara Prancis dan Jerman
Dalam kunjungannya ke Tiongkok pada tahun 2023, Macron menimbulkan kontroversi dengan menyatakan bahwa Eropa tidak boleh menjadi satelit Washington atau Beijing, atau terlibat dalam konflik Selat Taiwan.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mengkritik pernyataan Macron sebagai "menyedihkan" dan mengatakan, "Kita tidak pernah berada dalam bahaya menjadi satelit Amerika Serikat."
Ketua Komite Urusan Luar Negeri Bundestag, Michael Roth, juga mengecam Macron, menuduhnya akan menyebabkan perpecahan di Eropa dan jatuh ke dalam perangkap Tiongkok.
Perbedaan gaya kepemimpinan membuat Macron dan Scholz sering berselisih pendapat. Pejabat Jerman kadang-kadang merasa tidak nyaman dengan gaya diplomasi Macron yang dramatis.
Meskipun ada banyak tantangan dalam hubungan Prancis-Jerman selama 75 tahun terakhir, Macron menekankan bahwa kedua negara selalu berhasil menemukan jalan bersama.
Steinmeier juga menepis anggapan bahwa hubungan kedua negara sedang bermasalah, dengan mengatakan bahwa ini adalah salah paham dan "keragaman" adalah kekuatan Eropa.
Para ahli berpendapat bahwa kunjungan Macron menunjukkan bahwa Paris dan Berlin memahami pentingnya momen ini bagi Eropa. Perpecahan antara Prancis dan Jerman tidak boleh berlanjut, karena Eropa sedang menghadapi bahaya geopolitik besar, termasuk perang di Ukraina dan kemungkinan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.
Yann Wernert, seorang ahli di Institut Jacques Delors Prancis, mengatakan bahwa ketegangan dalam hubungan Prancis-Jerman sebagian besar disebabkan oleh masalah-masalah sulit yang sedang mereka hadapi, tetapi kedua negara juga sepakat dalam isu-isu seperti perluasan Uni Eropa.
Kolaborasi Uni Eropa
Mujtaba Rahman, Direktur Eropa di Eurasia Group, menyatakan bahwa kunjungan Macron adalah upaya di tingkat politik tertinggi untuk menunjukkan bahwa hubungan kedua negara berfungsi, meskipun ada perbedaan mendasar dalam isu-isu besar yang
Salah satu perbedaan utama adalah masalah pertahanan Eropa, terutama jika Trump memenangkan pemilihan presiden AS pada bulan November.
Para ahli percaya bahwa Trump, dibandingkan dengan Biden yang mencari masa jabatan kedua, akan menjadi sekutu yang lebih tidak dapat diprediksi bagi Eropa.
Pemilihan Parlemen Eropa yang akan berlangsung dari 6 Juni hingga 9 Juni juga menjadi perhatian. Para ahli khawatir bahwa Trump menyediakan model kebangkitan bagi ekstrem kanan Eropa yang semakin kuat.
Susi Dennison dari European Council on Foreign Relations (ECFR) menyatakan bahwa jika Trump terpilih kembali, prioritas strategis Uni Eropa akan menjadi "sangat, sangat sulit dicapai."
Rachel Rizzo dari Atlantic Council mengatakan bahwa dalam banyak hal, Trump telah menyediakan skenario bagi ekstrem kanan yang berkembang pesat di Eropa.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa Macron memilih saat ini untuk mengunjungi Jerman dan memperingatkan bahaya ekstrem kanan bagi Eropa.
Berdasarkan jajak pendapat, saingan utama Macron, Marine Le Pen dari partai ekstrem kanan National Rally, mungkin mengalahkan tim Macron pada bulan Juni.
Sementara di Jerman, partai ekstrem kanan Alternative for Germany (AfD) juga unggul dalam jajak pendapat atas Partai Sosial Demokrat yang dipimpin Scholz.
Bloomberg melaporkan bahwa kunjungan Macron ke Jerman akan menguji kemampuan kedua pemimpin ini, yang sama-sama menghadapi kebangkitan ekstrem kanan di negara mereka, untuk menetapkan agenda Uni Eropa menjelang pemilu dan menunjukkan solidaritas Eropa.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 