History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pekan Interaktif 080324: Berapa Biaya Hidup Per Bulan Mahasiswa di Taiwan?

  • 08 March, 2024
Pekan Interaktif - RtiFM Online Jumat

Delegasi Serikat Pekerja Indonesia Berkunjung ke Taiwan, Mengupayakan Penyetaraan Hak-hak Pekerja Perikanan

Delegasi serikat pekerja Indonesia baru saja mengakhiri kunjungannya ke Taiwan. Mereka tidak hanya bertemu dengan organisasi nelayan Indonesia di Taiwan, “FOSPI”, tapi juga berkunjung ke Departemen Perikanan dan Kantor Ekonomi dan Dagang Indonesia di Taipei (KDEI – Taipei) untuk membahas perundingan jasa ketenagakerjaan antara Taiwan dan Indonesia.

Dalam rangka mempererat hubungan kerja sama ketenagakerjaan antara Taiwan dan Indonesia, kedua belah pihak mengadakan pertemuan rutin dan sebelumnya telah menandatangani nota kerja sama ketenagakerjaan, dengan penandatanganan yang dilakukan pada tahun 2011 dan 2018.

Delegasi serikat pekerja Indonesia beberapa waktu lalu kembali melobi pemerintah Indonesia dan Taiwan untuk memperkuat perlindungan hak dan kepentingan para nelayan, sehingga melakukan kunjungan khusus ke Taiwan. Pada 28 Februari hingga 3 Maret, delegasi tidak hanya bertemu dengan organisasi nelayan Indonesia di Taiwan, “FOSPI”, tapi juga berkunjung ke Ditjen Perikanan Taiwan dan KDEI Taipei. Mereka percaya, bahwa perlindungan kebebasan berserikat para nelayan asing (ABK), pembangunan mekanisme penanganan keluhan yang efektif, penerapan kebijakan bebas biaya, dan perlindungan hak komunikasi dengan menggunakan Wi-Fi di laut perlu dimasukkan dalam memorandum, sehingga hak-hak mereka lebih dapat terlindungi.

Delegasi serikat pekerja Indonesia terdiri dari Serikat Pekerja Perikanan Indonesia(SPPI), Serikat Buruh Migran Indonesia(SBMI), Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia(SAKTI), Serikat Awak Kapal Perikanan Bersatu Sulawesi Utara(SAKTI Sulut), dan Pelaut Borneo Bersatu(PBB).

Syofyan Rozali, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SAKTI), menyampaikan, bahwa serikat pekerja tersebut berkantor pusat di Jakarta dengan lebih dari 1.000 anggota di seluruh dunia dan 100-200 orang di antaranya berada di Taiwan. Sebagian bekerja di kapal ikan dan sebagian lainnya bekerja di kapal kargo. Ia menyampaikan, bahwa kondisi ketenagakerjaan di armada Taiwan memang lebih baik dibandingkan di Tiongkok, tapi masih banyak ruang untuk perbaikan. Keluhan yang paling umum dari para anggota serikat adalah adanya tunggakan gaji, di mana majika Taiwan sering menunda gaji antara 1 hingga 3 bulan. Ia pun menambahkan, “kemudian masalah lain di tahun lalu adalah kru yang tidak mendapatkan asuransi (kompensasi). Perusahaan tidak memberikan asuransi jiwa bagi para awak kapal dan pekerja, sehingga ketika ada awak kapal yang meninggal, tidak ada kompensasi yang diterima.”

Arnon Hiborang, Ketua Serikat Pekerja Perikanan Terpadu Sulawesi Utara (SAKTI Sulut), menyampaikan, bahwa ada sekitar 270 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sulawesi Utara yang berada di Taiwan, atau sekitar setengah anggota serikat tersebut. Permasalahan yang dikeluhkan serikat pekerja antara lain tidak dibayarkannya upah, isi kontrak yang tidak jelas, pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh pemberi kerja, dan pekerja yang jatuh sakit atau mengalami kecelakaan kerja padahal tidak memiliki asuransi. Ia mengungkapkan, dirinya pernah bekerja di Taiwan sejak tahun 2002 hingga 2015. Tujuan utamanya berkunjung ke Taiwan kali ini adalah dengan harapan agar nota kerja sama perburuhan yang sedang dirundingkan pemerintah Indonesia dan Taiwan memuat ketentuan untuk melindungi nelayan dan memastikan nelayan Indonesia Taiwan berada di Taiwan dapat bekerja dengan bermartabat.

印尼工會代表團訪台 爭取將漁工勞權納入台灣印尼移工備忘錄

(foto: 陳念宜)

MRT Taoyuan Jalur Coklat akan Segera Dibangun

Kabinet pada hari Jumat (1 Maret) menyetujui proyek pembangunan Jalur Coklat Mass Rapid Transit (MRT) Taoyuan untuk menghubungkan Taipei dan New Taipei dengan Kota Taoyuan.

Dalam postingan Facebook, Wakil Perdana Menteri Cheng Wen-tsan (鄭文燦) mengatakan bahwa Perdana Menteri Chen Chien-jen (陳建仁) menyetujui studi kelayakan dan laporan perencanaan komprehensif untuk pembangunan Jalur Coklat MRT Taipei di Distrik Guishan Kota Taoyuan. Jalur metro ini akan beroperasi dari Stasiun Taoyuan melalui Distrik Guishan ke Stasiun Huilong di Distrik Xinzuang Kota New Taipei, memberikan pilihan perjalanan tambahan bagi penduduk Taoyuan utara.

Menurut Cheng, total anggaran untuk proyek MRT Taoyuan Brown Line adalah NT$45,65 miliar (US$1,44 miliar), dengan pemerintah pusat menyumbang NT$23,84 miliar, dan pemerintah daerah menanggung NT$21,81 miliar. Pemerintah Kota Taoyuan berupaya agar jalur tersebut dapat beroperasi delapan tahun dari sekarang.

Jalur Coklat MRT Taoyuan akan membentang sepanjang 11 kilometer dengan tujuh stasiun, menghubungkan dari Stasiun Taoyuan ke Stasiun Huilong, yang merupakan salah satu ujung jalur Zhonghe – Xinlu atau Oranye. Jalur baru ini akan menghubungkan Stasiun Taoyuan, Jalur Hijau Taoyuan, Jalur Zhonghe-Xinlu, dan Jalur Wanda-Zhonghe-Shulin, sehingga menciptakan jaringan angkutan massal baru untuk wilayah utara Taoyuan.

Planned route of Taoyuan MRT Brown Line. (Taoyuan City Government image)

(foto: Pemkot Taoyuan)

Taiwan Menduduki Peringkat Kedua Dunia dengan IQ Tertinggi

Tingkat kecerdasan atau IQ (Intelligence Quotient) merupakan sebuah standar pengukuran yang digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang.

Rata-rata IQ manusia adalah 85 hingga 115. Namun angka ini dapat bervariasi antar negara, negara bagian, dan bahkan wilayah geografis.

Menurut psikolog Inggris Richard Lynn dan David Becker yang melakukan penilaian dan pengukuran tingkat kecerdasan penduduk dari 199 negara. Jepang merupakan negara dengan penduduk paling cerdas dengan rata-rata IQ penduduk Jepang berjumlah 106,48.

Kemudian, Taiwan menduduki peringkat kedua dengan selisih 0,01 poin dari Jepang, yaitu IQ rata-rata berjumlah 106,47 dan disusul dengan Singapura yang rata-rata memiliki IQ 105,89.

Adapun penduduk Indonesia berada di urutan 129 dunia dengan rata-rata IQ sebesar 78,49.

(foto: Warta Ekonomi)

Berapa Biaya Hidup Per Bulan Mahasiswa di Taiwan?

Sebagian besar masyarakat kini meninggalkan kampung halaman untuk kuliah. Para orang tua juga menyediakan akomodasi dan biaya hidup anak-anaknya ketika kuliah. Namun, seorang warganet Taiwan baru-baru ini memposting sebuah artikel, mempertanyakan, berapa biaya hidup yang dibutuhkan seorang mahasiswa di Taiwan agar dianggap cukup per bulannya, tanpa menghitung biaya akomodasi?

Postingan yang beredar di forum PTT tersebut pun dengan segera menjadi diskusi hangat para warganet. Banyak warganet yang berpendapat, bahwa biaya bulanan yang dibutuhkan sebagai standar adalah NT$10.000 per bulan untuk saat ini. Ada yang menyampaikan, “NT$5.000 berlaku 10 tahun lalu, sehingga sekarang menjadi 2 kali lipat. “NT$10.000 merupakan yang terendah,” ada pula yang menyampaikan, antara NT$10.000 – NT$15.000.

Ada yang berbagi pengalaman saat kuliah di masa lalu. “Sekitar NT$5.000, utamanya karena merupakan anak rumahan dan tidak memiliki banyak keinginan.” “10 tahun lalu saat kuliah, sebulan adalah NT$8.000, cukup untuk makan dan pulan, tapi kini setelah bekerja, sebulan NT$8.000 tidak cukup untuk makan.” “10 tahun lalu, keluarga memberiku NT$5.000 untuk hidup di Taipei, tapi kini setidaknya 2 kali lipat,” “kalau di selatan, sekitar NT$6.000 – NT$7.000 sudah cukup baik.”

(foto: Canva)

 

Penyiar

Komentar