(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 10 November 2023, media keuangan Amerika Serikat "Bloomberg News" melaporkan bahwa Taiwan akan segera merekrut hingga 100.000 pekerja migran dari India, dan kedua negara mungkin akan menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) kerja sama tenaga kerja pada bulan Desember tahun ini.
Berita ini menimbulkan kegaduhan di dalam negeri, meskipun Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) telah berkali-kali mengklarifikasi bahwa laporan media asing tentang "segera mengimpor 100.000 pekerja migran India" adalah murni fiksi, tetapi hal ini masih tidak bisa menghilangkan kekhawatiran masyarakat.
Bahkan, masyarakat berencana untuk melakukan protes di Ketagalan Boulevard pada awal Desember. Media kemudian mewawancarai warga India di Taiwan, serta orang Taiwan yang saat ini merekrut pekerja India, kelompok pekerja migran, dan pakar studi India, untuk mengetahui pandangan mereka tentang gelombang protes ini, serta masalah dan tantangan yang harus ditangani Taiwan sebelum mengimpor pekerja migran India.
Pernyataan Diskriminatif, Orang India di Taiwan Khawatir
Profesor Fang Tian-ci (方天賜), Wakil Direktur Pusat Studi India di Universitas Nasional Tsing Hua (NTHU), berkomentar, "Jujur saja, bagi perusahaan, mereka ingin mendatangkan pekerja murah, tetapi yang datang adalah manusia yang hidup!"
Hal ini menunjukkan bahwa masalah mendatangkan pekerja migran lebih kompleks dan sulit diatasi dibandingkan dengan mengimpor produk/barang.
Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan di Taiwan yang mengalami kesulitan dalam perekrutan tenaga kerja, seruan untuk membuka lebih banyak peluang bagi pekerja migran terus meningkat, sehingga menimbulkan tekanan yang tidak kecil bagi pemerintah Taiwan.
Pada bulan September tahun ini, media berbahasa Inggris India, "Hindustan Times", pertama kali mengungkapkan bahwa India sedang dalam pembicaraan dengan Taiwan, untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) kerja sama tenaga kerja, dan India diharapkan menjadi sumber tenaga kerja migran terbaru untuk Taiwan.
Tak lama kemudian, pada tanggal 10 November 2023, media keuangan AS "Bloomberg News" melaporkan bahwa Taiwan akan segera merekrut hingga 100.000 pekerja migran dari India, dengan kesepakatan yang mungkin ditandatangani pada bulan Desember tahun ini.
Kabar ini kemudian menciptakan kegaduhan di dalam negeri. Meskipun MOL telah berkali-kali mengklarifikasi bahwa laporan media asing tersebut adalah fiktif, tetapi kekhawatiran publik tersebut tetap ada.
Pemerintah akan mengambil pendekatan bertahap, pragmatis, dan hati-hati dalam merencanakan pembukaan akses pekerja migran India.
Bahkan, beberapa judul artikel yang provokatif sempat mewarnai jagad maya Taiwan, "Membuka 100.000 Pekerja Migran India, Apakah Taiwan Akan Menjadi Pulau Pelecehan Seksual?"
Lee Mei-jun (李眉君), seorang penerjemah berkebangsaan India yang telah tinggal di Taiwan selama lebih dari 30 tahun, mengatakan bahwa dia merasa sangat sedih mendengar komentar rasis ini, dan persepsi masyarakat India tentang Taiwan juga telah berubah.
Dia berkata, "Sekarang di India, ada beberapa video dan berita yang mengatakan, jika pandangan orang Taiwan terhadap orang India seperti ini, apakah kita masih ingin mengirim orang India ke sana (Taiwan)? Apakah mereka akan aman di sana? Setelah pandemi berakhir, persepsi negara lain, termasuk India, terhadap Taiwan selalu sangat positif, karena Taiwan telah membantu banyak orang, dan Taiwan hampir menjalani kehidupan normal selama dua tahun pandemi, sementara negara lain menutup perbatasannya. Jadi, persepsi India terhadap Taiwan selalu sangat positif, hingga sekarang, seluruh upaya kami selama dua atau tiga tahun terakhir, reputasi yang kami bangun, sepertinya akan hancur. Saya hampir menangis!"
Taiwan Tidak Terlalu Mengerti Tentang India, Kesalahpahaman di Masa Depan Akan Lebih Banyak.
Menurut Fang Tian-ci, ketakutan dan kecemasan masyarakat Taiwan ini sebenarnya menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Taiwan tentang India secara keseluruhan masih sangat terbatas. Meskipun perbedaan waktu antara Taiwan dan India hanya 2,5 jam, tetapi jarak psikologisnya sangat jauh.
Hong Ming-qian (洪銘謙), seorang peneliti studi Thailand, juga menunjukkan bahwa tingkat ketidaktahuan Taiwan terhadap India mirip dengan pandangan Taiwan terhadap Asia Tenggara pada 20 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa Taiwan sangat membutuhkan sistem pengetahuan untuk memahami India.
Hong Ming-qian mengatakan, "Masalahnya adalah, saat ini ada terlalu sedikit orang di Taiwan yang memahami India, dan bahkan lebih sedikit yang memahami bahasanya. Hal ini menyebabkan tingkat pemahaman Taiwan terhadap mereka sangat rendah. Ketika masalah muncul, jika situasi yang tidak kita inginkan benar-benar terjadi, atau ketika terjadi konflik budaya, ini dapat menyebabkan prasangka orang Taiwan terhadap orang India dan memperdalam kesalahpahaman kita terhadap India. Inilah yang paling mengkhawatirkan."
Hong Ming-qian dan Fang Tian-ci sama-sama mengingatkan bahwa sebelum mengimpor tenaga kerja migran dari India, Taiwan harus terlebih dahulu menyiapkan bakat, pengetahuan, dan ruang hidup yang sesuai.
Dari segi bahasa, selain bahasa Inggris, India saat ini memiliki 22 bahasa resmi dan tidak memiliki bahasa nasional yang terpadu. Hindi adalah bahasa yang paling banyak digunakan di India, tetapi hanya sekitar 40% populasi India yang fasih berbahasa Hindi.
Namun, di antara institusi pendidikan tinggi di Taiwan, tidak ada satupun yang memiliki jurusan atau departemen studi Hindi atau studi India.
Menurut Lee Mei-jun, sangat jarang menemukan orang di Taiwan yang fasih berbahasa India, dan jumlah mereka mungkin bisa dihitung dengan jari.
Selama ia berada di Taiwan, ia hanya melihat satu atau dua orang Taiwan yang dapat berbicara bahasa Hindi, tetapi kemampuan mereka belum mencapai tingkat yang memungkinkan mereka bekerja dengan bahasa tersebut.
Namun, dia menekankan bahwa orang India tumbuh dalam lingkungan multibahasa sejak kecil, dan ia yakin akan kemampuan serta kecepatan orang India dalam belajar bahasa.
Ketika dia mengetahui bahwa tidak ada persyaratan bahasa untuk tenaga kerja migran yang diperkenalkan di Taiwan saat ini, dia terkejut dan berkata, "Apakah itu benar?"
Bagaimana dengan kemampuan dan sikap etos kerja warga India? Hsu Yi-chun, pengusaha Taiwan yang memiliki pabrik percetakan tekstil di India menyatakan, berdasarkan pengalamannya hampir 20 tahun di India bahwa tenaga kerja India memiliki dua karakteristik utama.
Pertama, mereka biasanya dapat menyelesaikan tugas dengan baik jika diberi instruksi yang jelas, yaitu, mereka akan mengikuti perintah dan tidak banyak berinisiatif atau tawar-menawar.
Kedua, mereka memiliki tingkat loyalitas tinggi di tempat kerja. Selama mereka tidak diperlakukan secara tidak adil, maka mereka jarang berganti pekerjaan.
Hsu berkata, "Sebenarnya, mereka jarang berganti pekerjaan. Misalnya, saya tinggal di hotel selama 15 tahun, dan Anda selalu melihat orang yang sama yang membersihkan, orang yang sama yang bertanggung jawab atas kebun, dan orang yang sama yang membantu Anda memesan sarapan di restoran, dan orang yang sama yang membantu Anda memesan makan malam. Selama bertahun-tahun, mereka semua masih di sana, jadi sebenarnya, dalam hal kesetiaan, saya pikir pekerja India memiliki tingkat kesetiaan yang tinggi terhadap pekerjaan mereka, mereka tidak sering berganti pekerjaan."
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 