
Seiring dengan pemanasan global yang semakin serius, dunia menghadapi ancaman suhu temperatur yang kian tinggi, pemakaian AC pendingin dan persentase pemakaian semakin tinggi, untuk mengurangi terjadinya cedera panas.
Akan tetapi pemakaian AC pendingin sangat boros listrik dan juga dapat menyebabkan suhu semakin
panas, berbagai negara mulai memikirkan langkah penyesuaian, yang dimulai dari konstruksi bangunan hingga penataan kota, para arsitektur bertukar pikiran untuk mencari jalan keluar, ide penggunaan ventilasi, lapisan peneduh panas, pembuangan suhu panas, anti panas (atau insulasi) agar dalam ruangan terasa lebih sejuk, mengurangi permintaan penggunaan AC pendingin.
Selain lingkungan Taiwan yang lembap, tingkat kepadatan masyarakat juga cukup tinggi, maka dari itu konstruksi dan penataan kota yang berhubungan dengan mengurangi suhu udara sangat penting sekali, kondisi demikian akan sangat membantu Taiwan dalam menghadapi pemanasan iklim yang terus berlanjut. Melalui kondisi yang ada di negara lain, mari kita berpikir, cara dan kebijakan mana sajakah yang dapat dipelajari dan diikuti oleh Taiwan?
Manusia telah lama mengembangkan banyak cara atau langkah menurunkan suhu yang berbeda agar dapat hidup beradaptasi dengan lingkungan beriklim suhu tinggi, dalam beberapa tahun terakhir ini, dalam rangka mencapai sasaran konstruksi bangunan insulasi, ada beberapa arsitek malah kembali mempelajari teknik bangunan kuno, berbalik ke cara tradisional dan mempelajari, budaya tradisional cara menurunkan suhu dan menemukan cara yang pas untuk hemat energi.
India yang panas menyengat, persentase pemakaian AC pendingin masih belum begitu umum, di masa lalu mengembangkan tidak sedikit metode bangunan insulasi, kemudian arsitek saat ini mencoba menggunakan carai ni untuk membangun bangunan yang berkemampuan menurunkan suhu.
Arsitek New York Diana Kellogg dengan contoh sukses bangunan sekolah Rajkumari Ratnavati Girls School di Jaisalmer. Musim panas di Jaisalmer bisa mencapai 49 derajat Celsius, bangunan setempat selalu didesain kemampuan untuk menurunkan suhu, beberapa tahun terakhir ini mendapat pengaruh perubahan iklim, musim kemarau Jaisalmer kian tahun kian panjang, maka keperluan sebuah bangunan yang bisa menyesuaikan suhu udara panas, Diana Kellog yang menekankan penurunan suhu kemudian membangun sekolah terbesar di tengah gurun Thar.
Diana Kellog bekerja sama dengan penduduk setempat, mempelajari pengetahuan dan kehidupan mereka, metode konstruksi penurun suhu tradisional yang dapat beradaptasi dengan lingkungan, agar suhu ruang dalam bangunan sekolah ini dibandingkan dengan suhu luar ruang lebih rendah 10 derajat lebih.
Bahan material yang dia pilih adalah batu pasir lokal yang terkenal di Jaisalmer, batu pasir yang berkarakteristik pada musim dingin bersifat hangat dan musim panas bersifat sejuk, menjadi bahan material yang digunakan masyarakat lokal sejak zaman dahulu kala untuk bangunan penting. Diana Kellog juga mengadopsi teknik pengumpulan air tradisional masyarakat setempat, menampung air hujan dan mendaur ulang guna mengatasi kekurangan air yang terjadi di musim kemarau yang berkepanjangan.
Selain suhu udara panas, hal yang paling ditakuti pada musim panas sebenarnya adalah kelembapan, karena begitu berada di lingkungan dengan suhu dan kelembapan tinggi, tubuh manusia tidak dapat berkeringat secara normal untuk mengatur suhu tubuh, serta rentan terhadap heat stroke atau cedera panas dan lainnya. Oleh karena itu, Diana Kellog membuat tembok bangunan yang dilapisi dengan plester kapur yang berkemampuan mengatur iklim, saat kelembapan tinggi mampu menyerap uap air, saat musim kering malah mengeluarkan uap air sehingga bermanfaat mengatur kelembapan udara dalam ruang.
Selain mengadopsi batu pasir dan plesteran kapur, bangunan yang memiliki fungsi menurunkan suhu juga mengadopsi desain penurun suhu dan sirkulasi India kuno, satu jenis layar kisi yang berbentuk khusus yang disebut dengan Jaali. Jaali yang didesain agar bisa menghindari paparan matahari secara langsung, memperlancar sirkulasi udara dan menurunkan suhu ruangan, ini adalah ciri khas arsitektur tradisional India.
Selain itu, dalam interior bangunan sekolah juga mengadopsi model ruang dengan langit-langit yang lebih tinggi untuk memungkinkan perputaran udara , juga menggunakan papan panel surya yang berfungsi sebagai peneduh dan menghasilkan listrik secara bersamaan, kondisi demikian mencapai 2 tujuan yakni penghematan energi dan menurunkan suhu ruangan. Bangunan sekolah juga dirancang sedemikian rupa yang disesuaikan dengan “arah angin” lokal, guna memperlancar sirkulasi udara dingin.
Sekolah ini khusus dibangun untuk siswa, yang bertujuan mencapai komitmen memajukan pendidikan kaum wanita, kondisi lokal dengan rendahnya anak perempuan yang mengenyam pendidikan dan tingkat anak perempuan yang melek huruf hanya 36% saja, dengan dihadirkan sekolah perempuan maka sangat membantu peningkatan pendidikan lokal.
“Cooling Singapore Project”, Melalui Arah Bangunan Ubah Efek Pulau Panas
Program Penurunan Suhu di Singapura, konstruksi bangunan memiliki penghilang efek pulau panas
Akan tetapi jangan membiarkan suhu lingkungan menurun, hanya mengandalkan bangunan yang memiliki fungsi penurun suhu udara tidak cukup, tetapi seyogyanya diterapkan pada penataan seluruh kota. Pada awal bulan Juli 2023, warga kota Taipei pasti merasakan suhu udara yang sangat menyengat, dikarenakan suhu tubuh melonjak melampaui 40 derajat Celsius, dibandingkan dengan kawasan lain di Taiwan lebih panas.
Meskipun Taipei terletak di garis lintang yang lebih tinggi, namun suhunya terasa lebih panas dibandingkan wilayah Taiwan lainnya, hal ini justru karena dipengaruhi oleh "efek pulau panas" yang umum terjadi di perkotaan. Efek pulau panas mengacu pada fakta bahwa suhu perkotaan lebih tinggi dibandingkan di daerah pinggiran kota karena padatnya bangunan, langkanya ruang hijau, dan peningkatan limbah panas buatan dari AC dan transportasi. Jika masalah dampak pulau panas ingin diselesaikan, perencanaan kota saat ini harus direformasi.
Singapura, pusat keuangan internasional memiliki iklim hampir serupa dengan Taiwan, secara aktif berupaya mengurangi efek pulau panas. Singapura sendiri merupakan negara dengan iklim panas dan tingkat urbanisasi yang tinggi, dengan rata-rata kelembapan udara mencapai 84%.
Di tengah lingkungan yang panas dan lembap, mengandalkan pemakaian AC pendingin secara umum, menciptakan keajaiban ekonomi iklim tropis. Akan tetapi mulai mencari cara untuk menurunkan suhu udara selain memakai AC pendingin, guna memastikan
bahwa mereka dapat mempertahankan posisi terdepan sebagai pusat keuangan internasional di lingkungan dengan suhu yang meningkat.
Pemerintah Singapura meluncurkan "Cooling Singapore Project" pada tahun 2017, menggunakan data ilmiah untuk membangun model dan melakukan simulasi guna mempelajari cara mengubah kota-kota di Singapura secara sistematis untuk mencapai tujuan adaptasi perubahan iklim. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi efek pulau panas di Singapura. Studi tersebut menemukan bahwa suhu rata-rata di kawasan gedung bertingkat tinggi di Singapura, lebih tinggi 4,3 derajat Celcius dibandingkan di wilayah yang belum berkembang, secara keseluruhan, efek pulau panas telah meningkatkan suhu Singapura sekitar 1,5 derajat Celcius.
Cooling Singapore Project mengusulkan sejumlah rekomendasi desain pendingin untuk perencanaan kota - termasuk perubahan arah bangunan untuk memandu angin bertiup mengarah masuk ke dalam kota,
menggunakan aliran air untuk mendinginkan bangunan, dan banyak lagi.
Penghijauan juga menjadi kunci penting untuk mengurangi efek pulau panas dalam proyek ini. Tanaman tidak hanya dapat mengurangi karbon dioksida di atmosfer, tetapi juga membantu melindungi orang yang lewat dan mengurangi kemungkinan sengatan panas saat keluar rumah. Di masa lalu, ada yang beranggapan kota-kota dengan harga tanah yang mahal harus berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan seluruh ruang terbuka untuk membangun gedung-gedung tinggi. Namun, seiring dengan semakin tidak terkendalinya tren pemanasan global, pemikiran lama ini harus berubah.
Untuk mengatasi masalah kurangnya ruang hijau, pemerintah Singapura menargetkan penanaman 1 juta pohon pada tahun 2030. Singapura telah membangun koridor hijau perkotaan di kota-kota yang mahal lahannya, yang berarti menanam pohon untuk meningkatkan cakupan ruang hijau dan mengurangi polusi udara. Bangunan semen panas menghasilkan efek ventilasi yang meredakan suhu panas.
Sistem Sirkulasi Udara Alami Jerman, Metode 85 Tahun Yang Silam “Beri Jalan Untuk Angin”
Selain menambah kawasan hijau, cara apa lagi yang bisa efektif menurunkan suhu di kota? Jawabannya adalah “angin”.
Selama angin melewati kota, angin dapat menghilangkan limbah panas yang dihasilkan manusia dan mencapai efek suhu dingin di perkotaan. Namun, kota tidak dapat menghasilkan aliran udara dari udara yang tipis. Aliran udara harus dihasilkan melalui perbedaan suhu di lingkungan alam dan kemudian dimasukkan ke dalam kota untuk menghilangkan panas. Namun, sebagian besar desain perkotaan dalam beberapa dekade terakhir kurang memperhatikan konsep “memberikan jalan untuk aliran angin”, sebaliknya, untuk menampung lebih banyak orang yang berdatangan ke kota, gedung-gedung bertingkat digunakan untuk menghalangi aliran udara.
Dengan meningkatnya efek pulau panas, konsep koridor ventilasi mulai muncul dalam perencanaan kota kota-kota metropolitan seperti Tokyo dan Beijing dalam beberapa tahun terakhir.Namun, pada awal tahun 1938, Stuttgart di Jerman menemukan manfaat angin terhadap kota.
Maka dari itu para ilmuwan iklim turut berpartisipasi dalam perencanaan kota, yang bisa dikatakan perencanaan proaktif. Pada saat itu, Stuttgart menggunakan kebijakan untuk mengendalikan pembangunan gedung dan membangun kembali mekanisme ventilasi alami kota, sehingga memperbaiki permasalahan pelik yaitu polusi udara dan efek pulau panas. Yang lebih penting, kebijakan ini mengurangi penggunaan energi oleh gedung, sekaligus mencapai suhu yang menurun.
Konsep koridor ventilasi relatif lebih lambat diterapkan di Taiwan. Taipei, yang saat ini paling terkena efek pulau panas, memiliki banyak taman, sungai, dan ruang hijau yang dapat menghasilkan angin alami. "Slogan harga rumah yang tinggi telah menyebabkan pembangunan berkelanjutan bangunan dengan kepadatan tinggi, hanya menyisakan jarak sempit antara bangunan yang berdekatan, menghambat aliran udara bertiup ke lingkungan lain, sehingga menyebabkan panas terperangkap di dalam kota.
Baru-baru ini, semakin banyak kota di Taiwan yang mulai menyisipkan koridor angin ke dalam perencanaan kota. Kota pertama di Taiwan yang memberikan penghargaan atas praktik desain koridor angin adalah Taichung. Sisi utara Banqiao Jiangcui (板橋江翠) adalah koridor angin, percobaan pertama di Taiwan. Di wilayah lain juga masih ada proyek sporadis koridor angin, misalkan kawasan HSR Shalun (沙崙) di Tainan juga merancang koridor angin, kota New Taipei Fuzhou, Banchiao (板橋浮洲)juga membangun koridor angin yang bertujuan untuk menurunkan suhu tinggi di kawasan pemukiman penduduk.
Namun, desain koridor angin suatu kota perlu suatu perencanaan yang komprehensif untuk menghubungkan seluruh koridor angin dan mencapai efek penurunan suhu dengan baik. Profesor Lin Ziping (林子平) dari Fakultas Arsitektur di NCKU (Universitas Nasional Cheng Kung), yang saat ini memimpin Laboratorium Bangunan dan Iklim (Building and Climate Lab, BCLab) telah bekerja dengan tim peneliti di berbagai kota di Taiwan untuk membuat "Peta Iklim Lingkungan Perkotaan" melalui sistem pemantauan iklim mikro, dan juga melalui penulisan artikel yang mempopulerkan ilmu pengetahuan tentang isu-isu suhu tinggi memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam promosi perubaha terkait isu-isu suhu udara.
Stategi Pereda Efek Pulau Panas, Apa Yang Dapat Taiwan Lakukan?
Musim panas di Taiwan panas dan lembab, dan musim dingin terkadang dingin. Oleh karena itu, selain insulasi panas dan peneduh, desain bangunan juga harus memperhatikan desain ventilasi. Pasal 17 dari "Peraturan Teknis Bangunan" "Standar Bangunan Ramah Lingkungan" didasarkan secara khusus tentang karakteristik iklim Taiwan dan merumuskan desain anti panas. Kode desain hemat energi untuk cangkang bangunan di iklim basah adalah metode evaluasi yang mengintegrasikan desain peneduh bangunan, kinerja ventilasi, isolasi struktural, dan orientasi bangunan untuk memastikan bahwa bangunan di Taiwan dapat memenuhi ambang batas dasar yang disyaratkan oleh negara dan menghindari konsumsi energi dan pemborosan yang berlebihan pada bangunan di masa depan.Masalah seperti daya AC dalam jumlah besar.
Tingkatkan ruang hijau perkotaan, Kurangi dampak lingkungan, Jadikan bumi berkelanjutan
Mengubah pemikiran perencanaan kota tidak hanya akan membantu mengurangi suhu, namun juga mencapai tujuan berkelanjutan dengan lebih cepat. Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa hampir 70% emisi karbon global dihasilkan oleh perkotaan, dan hampir 40% emisi karbon berasal dari industri konstruksi.Bangunan yang mengurangi karbon dan perencanaan kota telah menjadi kunci pembangunan berkelanjutan. “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030” yang diumumkan oleh PBB pada tahun 2015 juga menyoroti peran penting kota dalam masa depan yang berkelanjutan. Ayat ke-11 adalah “membangun kota yang inklusif, aman, berketahanan dan berkelanjutan”. Kota dan desa khusus", di antaranya meningkatkan ruang hijau perkotaan dan mengurangi dampak lingkungan merupakan tugas penting.
Baik itu penanaman pohon atau pembuatan koridor ventilasi, rencana transformasi perkotaan ini akan memakan waktu puluhan tahun untuk membuahkan hasil. Pemikiran masa lalu telah mengarah pada terbentuknya efek pulau panas, dan kini prioritas pertama adalah mengubah pemikiran masa lalu guna mempercepat reformasi perkotaan, siap siaga menyambut masa mendatang dengan suhu udara yang tinggi.


RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
