History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Part 1. Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima, Solidaritas Jepang – Korsel Diuji

  • 01 September, 2023
Perspektif
Part 1. Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima, Solidaritas Jepang – Korsel Diuji

(Taiwan, ROC) --- Presiden Joe Biden mengadakan pertemuan puncak trilateral bersejarah dengan pemimpin Jepang dan Korea Selatan pada tanggal 18 Agustus 2023. Ini juga menjadi pertemuan penting guna memperdalam jaringan kemitraan Negeri Paman Sam.

Selain itu, pertemuan trilateral bersangkutan dianggap menjadi bagian dari strategi diplomatik Joe Biden untuk mempertemukan Jepang dengan Korea Selatan, yang selama ini memang memiliki perselisihan sejarah.

Namun, persatuan antara Negeri Sakura dengan Negeri Ginseng mendapat tantangan, setelah Jepang melakukan pembuangan limbah nuklir mereka dari PLTN Fukushima ke perairan samudera lepas.

 

Anti Tiongkok, AS-Jepang-Korsel Memperkuat Aliansi

Pertama-tama, pada tanggal 22 Agustus, Jepang mengumumkan akan membuang air limbah nuklir PLTN Fukushima. Pembuangan tersebut akan dilakukan mulai tanggal 24 Agustus 2023, dengan membuang hasil pengolahan limbah nuklir sebanyak 1 juta ton, yang selama ini disimpan di pedalaman PLTN Fukushima, Daiichi.

Limbah nuklir tersebut diberitakan terkena dampak dari gempa bumi dahsyat yang melanda kawasan setempat pada bulan Maret 2011 silam.

Faktanya, otoritas Jepang telah menyetujui pembuangan limbah nuklir ke Samudera Pasifik semenjak 2 tahun yang lalu. Jepang menganggap ini adalah langkah penting untuk benar-benar menghentikan prosedur pengoperasian PLTN di Fukushima.

Jelas saja, perencanaan tersebut kemudian mendatangkan pertentangan dari asosiasi nelayan setempat dan negara-negara tetangga.

Menghadapi ancaman dari Tiongkok yang semakin besar, membuat pemimpin AS, Jepang dan Korea Selatan mengadakan pertemuan puncak bersejarah di Camp David pada tanggal 18 Agustus 2023. Pada saat yang sama, suara menentang pembuangan nuklir ke samudera lepas mulai bermunculan di internal Korea Selatan.

Pada bulan Juli 2023, pihak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebenarnya telah menyetujui pembuangan limbah nuklir Fukushima. Namun, Negeri Sakura memilih untuk menunda pembuangan tersebut disebabkan perhelatan KTT di kala itu yang kian dekat, serta untuk menghindari timbulnya perlawanan politik terhadap Presiden Yoon Suk-yeol di Korea Selatan.

Dalam KTT yang dihelat di Camp David, ketiga negara sepakat untuk memperdalam hubungan militer guna melawan ekspansi pengaruh dari Tiongkok di Asia Timur.

Dan setelah beberapa hari pelaksanaan KTT, Jepang segera mengumumkan untuk memulai pembuangan limbah nuklir Fukushima.

Ketika mitra demokrasi di Asia Timur memperdalam kerja sama mereka, otoritas Tiongkok di lain pihak diketahui juga meningkatkan pertukarannya dengan Rusia. Di samping itu, Korea Utara yang merupakan sekutu Tiongkok, juga kian gencar mempercepat program rudalnya.

Duta Besar AS untuk Jepang, Rahm Emanuel menyampaikan, aliansi trilateral antara AS, Jepang dan Korea Selatan merupakan langkah besar dalam lanskap geopolitik, sama halnya dengan pertukaran pertahanan Kemitraan Keamanan Australia, Inggris dan AS (AUKUS).

 

Sikap Moderat Yoon Suk-yeol

Berbeda dengan pendahulunya yang lebih liberal, Presiden Yoon Suk-yeol terkesan lebih mengesampingkan perselisihan panjang antara Korea Selatan dengan Jepang, misal persoalan pemberian kompensasi bagi perempuan Korea Selatan yang dipaksa menjadi wanita penghibur pada era Perang Dunia II. Perselisihan serupa telah merusak hubungan kedua negara selama bertahun-tahun.

Pakar analisis menyampaikan, saat menerima laporan IATA perihal pembuangan nuklir Jepang, Presiden Yoon Suk-yeol memberikan lampu hijau, yang mana ini berkemungkinan memunculkan kontroversi baru. Dan bukan tidak mungkin akan hal ini akan dimanfaatkan oleh Tiongkok untuk kepentingan mereka.

Salah seorang pakar di wadah pemikir CSIS (Center for Strategic and International Studies), Christopher Johnstone menyampaikan, “Tentu saja Yoon Suk-yeol mendapat tekanan terhadap hal ini, apalagi ketika ada data yang memperlihatkan bahwa limbah ini memiliki dampak berbahaya.”

Penyiar

Komentar