History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Kasus ke-2 Dalam Sejarah Taiwan, Seorang Wanita Meninggal Dunia Akibat Terserang Ameba Pemakan Otak

  • 10 August, 2023
Galeri
Kasus ke-2 Dalam Sejarah Taiwan, Seorang Wanita Meninggal Dunia Akibat Terserang Ameba Pemakan Otak

Selang 12 tahun, Taiwan kembali mencatat kasus penyakit yang diakibatkan oleh “Naegleria Fowleri”, atau yang sering disebut dengan “ameba pemakan otak”.

Wakil Ketua Taiwan Centers for Disease Control (CDC), Tseng Shu-hui (曾淑慧) menyampaikan, warga yang terinfeksi tersebut adalah seorang wanita berusia sekitar 30 tahun-an yang tidak memiliki sejarah perjalanan ke luar negeri belakangan ini.

Pada tanggal 26 Juli 2023, wanita yang diketahui bermukim di kawasan Kota New Taipei tersebut mengeluh sakit kepala, serta nyeri pada bagian bahu.

Selain kedua gejala di atas, sang wanita juga mengeluh akan bagian leher yang semakin kaku, serta diikuti dengan badan demam, menggigil, nyeri hebat pada leher dan kejang-kejang.

Meski telah memperoleh perawatan insentif dari rumah sakit, tetapi gejala sang wanita terus memburuk kian cepat. Dan hanya berselang 7 harian, ia pun dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 2023.

Setelah dilakukan penyidikan secara saksama, dapat dipastikan kalau wanita bersangkutan menderita penyakit yang disebabkan oleh ameba “Naegleria Fowleri”, atau yang dikenal sebagai “ameba pemakan otak”.

Dan setelah ditelusuri, pasien yang meninggal tersebut diketahui sempat mengunjungi kawasan fasilitas permainan air di dalam ruangan pada beberapa waktu sebelumnya.

Menurut data CDC, kasus pertama kali adanya manusia terserang ameba “Naegleria Fowleri” terjadi pada tahun 1965 di Australia. Dan dalam 5 tahun belakangan, beberapa negara di dunia juga mencatat kasus kematian serupa, misal Pakistan, Amerika Serikat, Thailand dan India. Mayoritas kasus tersebut terjadi pada bulan Juli hingga Agustus.

Untuk Taiwan sendiri, kasus kematian akibat ameba “Naegleria Fowleri” terakhir kali terjadi pada tahun 2011. Di kala tersebut seorang pria berusia 75 tahun mengeluh gejala sakit kepala, nyeri leher, kehilangan nafsu makan, serta mati rasa pada bagian kaki dan tangan.

Gejala di atas dikeluhkannya, setelah tidak lama melakukan aktivitas berendam di mata air panas. Dan setelah dirawat selama 25 hari, sang pria dinyatakan meninggal dunia.

Salah seorang pakar kesehatan di China Medical University, Huang Kao-pin (黃高彬) menyampaikan, ameba ini biasanya akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui rongga hidung dan menyasar sistem saraf pusat otak.

Hingga hari ini, belum ada obat khusus yang bisa menyembuhkan penyakit ini, dan mereka yang terserang ameba “Naegleria Fowleri” kecil kemungkinan untuk dapat bertahan hidup.

Bahkan tingkat kematian akibat ameba “Naegleria Fowleri” mencapai 99%.

Huang Kao-pin menambahkan, ameba “Naegleria Fowleri” biasanya hidup di alam liar. Dalam beberapa kasus di luar negeri, ditemukan bahwa perairan liar yang jarang ada penduduknya, biasanya akan menjadi tempat bagi ameba untuk beraktivitas.

Jika kawasan kolam renang umum yang terlebih dahulu mengolah air mereka, maka kecil kemungkinan bagi ameba “Naegleria Fowleri” untuk muncul.

Musim panas adalah waktu bagi ameba “Naegleria Fowleri” untuk beraktivitas. Oleh karena itu CDC mengimbau kepada khalayak luas untuk menghindari air masuk ke dalam rongga hidung, saat bermain di kawasan perairan atau pemandian air panas. (Sumber Foto: CT Want)

Penyiar

Komentar