
Siapakah mahasiswa NTU? Kehidupan siapakah yang diubah pendidikan Taiwan?
Salah satu riset penelitian Taiwan menemukan, anak orang kaya berkesempatan masuk National Taiwan University (NTU) 6 kali lipat dibandingkan anak orang miskin, sedangkan pemerintah membelanjakan banyak dana untuk mahasiswa NTU daripada perguruan tinggi swasta lainnya, sehingga putra putri anak orang kaya mendapat banyak bantuan dari pemerintah. Di balik beberapa data ini, terselubung permasalahan pendidikan perguruan tinggi seperti apa di Taiwan? Bisakah perguruan tinggi mengubah hidup seseorang? Atau penentu kesempatan seseorang untuk mengubah hidupnya?
Coba terka, pendapatanmu tinggi atau rendah? Pendapatan ini, seberapa besar kemungkinan putra putri masuk NTU?
Masukkan besaran pendapatan keluarganya, coba lihat berapa besar persentase kamu masuk NTU?
Bagan ini menurut makalah penelitian dari dosen pengajar Jurusan Ekonomi, NTU Lin Ming-ren (林明仁) , melakukan riset bersama mahasiswa Shen Hui-chih (沈暉智) yang dirangkum dalam buku“Revisit the Education Opportunity Inequality across Income”, mereka mendapatkan data pelaporan pajak dari Pusat Informasi Pajak Keuangan, dihubungkan dengan data sekolah putra-putri mereka, analisa kondisi pendapatan keluarga dan data anak masuk sekolah dengan tahun kelahiran 1993- 1995. Hasil mendapati, anak dari orang kaya yang masuk universitas bergengsi seperti NTU dan lainnya lebih berkesempatan besar, mendapat lebih banyak sumber daya.
Hasil data pengamatan, dapat terbagi menjadi beberapa fenomena:
(Apa yang ingin disampaikan dari angka itu)

Dalam data penelitian ini, ada 51% mahasiswa dengan pendapatan keluarga tertinggi 20% pertama, dengan pendapatan keluarga 80-100 per seratus Data riset menunjukkan, putra putri dari pendapatan keluarga di atas 70 per seratus, kesempatan masuk NTU berkisar 1%, untuk pendapatan yang lebih dari 70 per seratus, maka putra-putri yang masuk ke NTU semakin berkesempatan tinggi, hingga angka 90 per seratus, % putra putri yang masuk NTU menembus 5%, bahkan mencapai 6%, menunjukkan semakin tinggi pendapatan keluarga maka semakin putra-putri semakin berpeluang besar masuk NTU.
Secara keseluruhan perbandingan pendapatan keluarga 100 per seratus dan 10 per seratus, ditemukan bahwa anak dari keluarga kaya (100 per seratus) lebih berkesempatan besar masuk NTU, angka ini mencatat 6 kali lipat dbandingkan dari keluarga miskin (10 per seratus).
Memahami makna angka per seratus
Angka per seratus adalah, data numerik disusun dari urutan kecil ke besar, dibagi sama 100 bagian, di tengah ada 99 pecahan. Nilai pecahan dari 99 bagian ini diurutkan sebagai angka bagian ke-1 per seratus, bagian ke-2 per seratus, bagian ke-3 per seratus dan seterusnya bagian ke-99 per seratus.

Dalam artikel penelitian ini, pemakaian per seratus untuk membandingkan latar belakang pendapatan keluarga, dengan kata lain mengurutkan pendapatan keluarga nasional dari terendah sampai tertinggi. Misalkan secara nasional menyeleksi 100 orang siswa, mengurutkan mereka sesuai dengan tingkat pendapatan keluarga, dari rendah hingga pendapatan tertinggi. Misalkan posisi ke 70 per seratus, atau siswa yang menempati urutan ke-70, menandakan situasi ekonomi keluarganya dibandingkan dengan 69 siswa lainnya lebih mapan, maka pendapatan keluarga dari siswa ke-70 ini sebagai bagian ke-70 per seratus.
Mahasiswa NTU dengan pendapatan keluarga tahunan rata-rata berkisar NT$ 1,5 juta, lebih dari dari pada semua universitas negeri dan swasta untuk mahasiswa dengan pendapatan keluarga hampir mencapai NT$ 1,1 juta, jauh melebihi mahasiswa universitas swasta dengan angka NT% 1 juta. Analisa urutan universitas domestik juga mendapati, diantaranya median pendapatan keluarga mahasiswa, dari urutan tinggi secara perlahan menurun, menunjukkan putra putri anak orang kaya lebih berkesempatan tinggi dibandingkan dengan orang miskin.

Pakar ekonomi Lin Xian-xun(林建勳) menjelaskan, meskipun kesenjangan kaya dan miskin sangat tinggi, akan tetapi tingkat kaya-miskin dapat bergeser, maka menandakan bahwa berupaya keras akan mendapatkan hasil; jika kelas sosial demikian sama sekali tidak bergeser, maka setelah dilahirkan ditakdirkan menjadi miskin sepanjang hidupnya, membuat orang tidak lagi berkeingin menginvestasi diri sendiri, maka akan menyebabkan siklus buruk dalam komunitas secara keseluruhan.

Profesor jurusan ekonomi NTU, Luo Ming-qing (駱明慶) dalam 2 studi risetnya yang dibentuk mahasiswanya mendapati, sebagian besar mahasiswa NTU berasal dari kawasan struktur ekonomi yang lebih baik, sementara bagi yang berasal dari kawasan pengembangan relatif lamban dan berpenghasilan rendah masih perlu pertimbangan jauh untuk masuk NTU. Meskipun saat ini menjalankan proyek Star Plan dan beragam proyek lainnya menerapkan “dukungan untuk siswa pedesaan dan kurang mampu”, meskipun situasinya agak melambat akan tetapi kesenjangan peluang anak orang kaya masuk universitas populer masih serius.

Analisa di balik angka
Sistem pendidikan tidak dapat mendorong pergeseran kelas sosial
Secara keseluruhan, makalah penelitian ini yang pertama kali digunakan sebagai bukti ilmiah di Taiwan, pendapatan orang tua sangat memengaruhi pendidikan anak. Lin Jian-xun mengemukakan, penelitian menunjukkan data bukti yang jelas, yang disebut dengan prestasi akademik, mendapat pengaruh dari latar belakang keluarga. Oleh karena itu, ketika pemerintah atau mekanisnme sekolah mendorong “prestasi” murid, apakah sebenarnya juga mempromosikan perpanjangan ketidakadilan? Kemudian, jika berharap pendidikan menjadi alat untuk pergeseran kelas sosial , mungkin kita semua perlu berpikir, mekanisme Taiwan saat ini apakah sudah mencapai tujuan?
Chen Ming-lei (陳明蕾) beranggapan, semua pendapatan lebih dilihat dengan pembagian orang miskin dan orang kaya, satu sisi meskipun pendapatan keluarga di posisi 100 per seratus, komposisi putra-putri masuk NTU sebesar 7%, sebenarnya sangat jarang, dilihat dari sudut pandang lainnya, membuktikan “sulit masuk NTU, belum tentu orang kaya juga bisa masuk perguruan tinggi ini.”
“Namun, saya juga setuju bahwa pendidikan perguruan tinggi tidak memiliki realokasi sumber daya yang tepat” Chen Ming-lei mengatakan, studi ini mengingatkan semua orang bahwa masyarakat Taiwan memiliki kelompok keluarga berpenghasilan rendah dan menengah yang kurang memiliki kesempatan untuk pergeseran kelas sosial. Seharusnya siswa tidak hanya melulu belajar, semestinya kuliah di universitas mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik, tetapi pada umumnya tidak ada yang memberitahu orang tua atau siswa, satu semester menghabiskan dana NT$ 50.000,- tetapi tidak sesuai ekspetasi atau apa yang ingin dipelajarinya, “dalam hal ini perlu diperiksa secara terang-terangan”.
Bagaimana pemerintah mengalokasi sumber daya yang terbatas? Agar terjadinya pergeseran kelas sosial, seharusnya tidak hanya ditujukan untuk pendidikan perguruan tinggi. Chen Ming-lei percaya bahwa sebenarnya banyak universitas populer baik dalam dan luar negeri juga menyediakan banyak kursus online dan gratis. Ditambah dengan fenomena penurunan angka kelahiran Taiwan, sekolah yang tidak baik menghadapi krisis tutup sekolah. Perlu pemerintah mengucurkan dana untuk penerapan nyata, semenjak kecil dibina agar setiap orang memiliki kemampuan belajar, agar siswa dari keluarga ekonomi rendah dan menengah juga mampu mendapat sumber ini, saat bersamaan fenomena pembagian sumber yang tidak adil dapat diperbaiki dan tidak separah dahulu.
Manfaat Keberagaman Jalur Masuk Perguruan Tinggi Masih Terbatas Untuk Siswa Ekonomi Kurang Mampu
Rekonstruksi mekanisme pendidikan memerlukan waktu untuk mengakumulasi. Beberapa tahun terakhir ini, program Star Plan atau jalur khusus seleksi bakat, semua bertujuan agar semakin banyak siswa yang berpotensial berkesempatan masuk ke universitas top yang sesuai. Chen Ming-lei beranggapan, ada kemungkinan semua beranggapan bahwa masuk sekolah masih kurang banyak cara, akan tetapi dilihat dari masa lalu hanya ada satu cara yakni ujian masuk bersama, tetapi kini ada banyak cara untuk masuk perguruan tinggi, ketika “arah sudah benar, selebihnya adalah waktu yang diperlukan untuk menyempurnakannya”
Akan tetapi ada pakar yang beranggapan, sepertinya Star Plan hanya manis di permukaan saja, Profesor Departemen Keuangan dan Dekan Sekolah Administrasi Bisnis Universitas Sains dan Teknologi Jianxing, yang berspesialisasi dalam studi tentang hubungan antara ekonomi keluarga dan pendidikan dan budaya, Tseng Chen-chen berterus terang, Star Plan adalah jurusan kurang peminatnya, misalnya sebagian besar jurusan ini ditawarkan kepada siswa SMA pedesaan merupakan jurusan yang relatif tidak populer, pada dasarnya bersifat tidak adil.
Selain itu, Tseng Chen-chen menilai, tinggi rendahnya pendapatan keluarga menandakan, orang tua tidak memiliki waktu dan uang untuk diinvestasikan ke anaknya. Mekanisme masuk perguruan tinggi yang beragam, siswa perlu mempersiapkan program belajar, ketrampilan, bahkan catatan capaian kejuaraan dan lainnya. “setiapnya memerlukan uang dan perlu ada rencana sistematis, jika ditekuni dalam masa jangka panjang, bisa dibayangkan bagi keluarga yang penghasilan rendah adalah hal yang luar biasa sulit.”
Mengubah hidup dimulai dengan pendidikan prasekolah
"Latar belakang keluarga akan memengaruhi imajinasi anak-anak tentang gaya hidup," kata Lin Jian-xun. Masyarakat harus membiarkan anak-anak memiliki lebih banyak pilihan lebih awal. Dia pernah bertugas sebagai pengganti sekolah di desa Jianshi尖石鄉, Kabupaten Hsinchu. Dia bertanya kepada anak-anak gunung, apa yang mereka ingin dilakukan di masa depan. Jawaban anak-anak itu sederhana, “separuh dari mereka mengatakan ingin menjadi perawat atau guru, dan sisanya ingin menjadi pemain bola basket atau atlet.” Namun, orang tua di daerah metropolitan mungkin telah memberi mereka kesempatan untuk ke luar negeri atau belajar banyak hal. Jadi jika kita lihat perbandingan ini, pandangan dan imajinasi akan kehidupan masa depan pun juga lebih luas.
Sebenarnya, bagi orang yang tidak mamou masuk NTU, pergeseran kelas sosial juga tidak semestinya hanya mengandalkan “berpendidikan di universitas”. Chen Ming-lei mengatakan, sumber daya yang dialokasikan di desa terpencil, sehingga desa terpencil di Taiwan memiliki perangkat keras dan 5G, langkah selanjutnya adalah bagaimana memberikan edukasi dasar di desa terpencil, meniadakan kekurangan pengetahuan dan visi hidup karena keterbatasan dalam latar belakang keluarga,“pilihan anak-anak dari desa terpencil terbatas menjadi pemain bisbol atau tukang masak”, seyogyanya membuka pandangan mereka. Ia beranggapan, jika ingin mendorong pergeseran kelas sosial, tidak melulu pada perubahan“metode masuk perguruan tinggi”, tetapi perlu dimulai dari pendidikan pra sekolah, seharusnya bagi keluarga dengan ekonomi menengah atau ke bawah diberi bantuan pendidikan kepada anak-anak mereka, mengadopsi mekanisme yang lebih sempurna dengan memberi anak-anak kesempatan tumbuh berkembang.
Chen Ming-lei memberi contoh, seperti dosen turun ke desa, berbagi temuan penelitian dari dosen dengan guru SD, agar guru SD berkesempatan untuk membagikan kepada anak-anak di desa terpencil, secara perlahan dan bertahap menumbuhkan imajinasi terhadap dunia luas dan visi hidup anak-anak ini. Selain itu, juga mempertimbangkan perbaikan guru TK dan SD, ia mengambil contoh buku Thirty Million Words: Building a Child’s Brain , di dalam buku ini ada eksperimen, contohnya ada beberapa orang tua yang membuat perencanaan untuk membimbing putra-putrinya, berkata, “sudah saatnya tidur, sebelum tidur apa yang akan kamu lakukan?”akan tetapi ada juga beberapa orang tua kerap kali dengan cara demikian, “ sampai hitungan ke-3, bereskan mainan, segera tidur.”Bimbingan pertama, tidak hanya menuntun agar anak bisa membuat perencanaan sendiri, juga meningkatkan lingkup, logika dan konsep. Maka dari itu, semasa TK atau SD, guru-guru dapat mencoba memberi lingkup bagi anak untuk berpikir atau menuntun mereka bagaimana menentukan pilihan, “Tidak perlu mengeluarkan sepeser pun” malah berkesempatan merubah siswa.
Rektor Huafan University, lin Tzong-yi (林從一) mengambil contoh James Heckman pemenang penghargaan Nobel dengan riset penelitian yang menunjukkan investasi pendidikan anak semakin dini dilakukan, maka hasilnya akan semakin maksimal. Penelitian James Heckman menunjukkan, imbalan investasi keluarga untuk anak-anak mereka, pada usia 0-3 tahun, jika investasi 1 dolar maka bisa mendapat imbalan 18 dolar; usia 3-4 tahun investasi 1 dolar maka imbalan yang diperoleh adalah 7 dolar; seandainya semasa SD mendapat imbalan 3 dolar, maka saat kuliah mendapat imbalan 1 dolar, ketika dewasa mendapat imbalan minus. Lin juga menjelaskan konsep First 1000 Days, yang menceritakan stimulus anak sebelum usia 3 tahun sangat penting, misalnya berbicara dengan anak atau membacakan untuk mereka sangat membantu. Meski tidak mudah untuk mengubah lingkungan bawaan keluarga, ia percaya bahwa pemerintah dapat berinvestasi dalam pendidikan prasekolah tanpa mengeluarkan banyak uang, misalnya dengan cara mendukung mahasiswa magister dan doctoral ke desa-desa terpencil untuk bercerita kepada anak-anak.


RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
