History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

(Part 2) Jutaan Muda-Mudi di Tiongkok Terancam Menganggur, Keresahan Sosial Meningkat

  • 02 June, 2023
Perspektif
(Part 2) Jutaan Muda-Mudi di Tiongkok Terancam Menganggur, Keresahan Sosial Meningkat

(Taiwan, ROC) --- Tekanan dan kekecewaan terhadap peluang untuk bertahan hidup, telah melahirkan fenomena “berbaing” di kalangan pemuda Tiongkok. Daripada harus bekerja keras tanpa adanya jaminan imbalan pasti, mereka lebih baik bekerja apa adanya dan hidup mengikuti arus.

Dengan melonjaknya angka pengangguran dan semakin sulitnya mencari lapangan pekerjaan, juga telah melahirkan fenomena baru yang dikenal dengan istilah “Kong Yi Ji” (孔乙己) di kalangan warganet Tiongkok. Kong Yi Ji adalah karakter yang ditulis oleh penulis Lu Xun (魯迅), yakni seorang yang miskin yang tidak pernah menyerah untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.

Warganet Tiongkok menggunakan karakter ini untuk kemudian menyindir fenomena yang berkembang saat ini, yakni banyaknya orang berpendidikan yang kemudian hidup susah atau miskin.

 

Nganggur Atau Kerah Biru

Seorang pakar di wadah pemikir asal Washington “Foundation for Defense of Democracies”, Craig Singleton mengatakan, kaum pelajar Tiongkok kelelahan karena kebijakan lockdown yang dilakukan selama hampir 3 tahun lamanya. Belum lagi mereka merasa pesimis dengan model negara kapitalis yang dianut oleh otoritas setempat. Mereka menyadari, gelar pendidikan yang diperoleh dengan susah payah, mungkin tidak menawarkan status sosial maupun nilai keuntungan yang terjamin.

Mereka terjebak dalam pilihan yang sulit, mengambil risiko kehilangan peluang bekerja hanya untuk menggeluti sektor kerah putih, atau menanggalkan impian untuk mengecap pendidikan setinggi mungkin kemudian menggeluti pekerjaan kerah biru.

Para ahli percaya, Tiongkok saat ini tengah menuju ketidakstabilan sosial karena tingginya angka pengangguran pemuda.

Salah seorang pakar, Brock Silvers menyampaikan, pengangguran di kalangan pemuda yang terus berkelanjutan dapat menjadi ancaman bagi kestabilan sosial masyarakat. Dan parahnya, Beijing tidak memprioritaskan urgensi untuk mengatasi krisis ketenagakerjaan, sehingga semakin banyak kaum muda yang merasa frustasi dan merasa terasingkan dari janji kemakmuran ekonomi Tiongkok.

 

Pergi ke Pedesaan

Dalam sebuah surat khusus yang ditujukan kepada mahasiswa, Pemimpin Xi Jin-ping mendorong kaum pemuda untuk mencoba turut bergabung dalam pembangunan di pedesaan. Bahkan pemerintah provinsi Guangdong mengusulkan untuk mengirim 300.000 pemuda pengangguran untuk bekerja di wilayah pedesaan.

Ini tentu mengingatkan kepada “Gerakan Pergi ke Pedesaan” yang sempat diprakarsai oleh mantan Pemimpin Mao Ze-dong di era tahun 1950-an.

Di kala tersebut, puluhan juta pemuda terpelajar perkotaan dikirim ke pedesaan, yang akhirnya menghilangkan banyak kesempatan bagi muda-mudi untuk mengenyam pendidikan tinggi. Sejarahwan kemudian menyebut fenomena ini sebagai “Generasi Tiongkok yang Hilang”.

Para ahli percaya, penyebaran kaum muda perkotaan ke pedesaan, di lain pihak bisa membantu mempersempit kesenjangan pendapatan antara kota-kota tingkat pertama/kedua dengan daerah-daerah lebih miskin di Tiongkok.

Tujuan utama dari kebijakan ini mungkin dikarenakan Pemimpin Xi ingin mengatasi meluasnya angka pengangguran kaum muda yang ditakutkan bisa mengancam atau memicu terjadinya keresahan sosial.

Seorang pakar di Hinrich Foundation, Alex Capri percaya, gerakan “kertas putih” yang memprotes kebijakan pencegahan epidemi memiliki ungkapan sesuatu, yakni kemarahan para pemuda terpelajar Tiongkok akan ketidakpuasan mereka terhadap serangkaian peraturan atau keputusan pemerintahan setempat. Tentu hal ini menyulut masalah yang lebih besar di dalam kehidupan sosial masyarakat Tiongkok.

 

Kemarahan Kaum Muda-Mudi

Pakar Pusat Studi Tiongkok di Universitas Oxford, George Magnus dengan gamblang menyampaikan, semua pemerintah di seluruh dunia harus waspada terhadap ketidakpuasan yang timbul di antara kaum pemuda. Tidak hanya menjadi penyimpangan bagi mobilitas sosial, tingginya angka pengangguran dan ketidakpuasan bisa menimbulkan keresahan.

“Di Tiongkok, ini akan menjadi sangat sensitif, karena bisa mengurangi kepatuhan warga terhadap pemikiran Xi Jin-ping dan stabilitas sosial setempat,” terang George Magnus.

Di era tahun 1950-an, para pemuda terpelajar masih “tersihir” oleh paham komunisme, membuat mereka akhirnya mengorbankan diri untuk negara dan memutuskan pergi ke pedesaan. Tidak heran, jika akhirnya mereka juga dikenal dengan sebutan “Generasi Tiongkok yang Hilang”.

Dewasa ini, Pemimpin Xi kembali mendorong kaum muda untuk pergi ke pedesaan dengan misi “merevitaliasi ekonomi”, seakan-akan kembali menggemakan kebijakan Mau Ze-dong di masa lampau.

Di lain pihak, George Magnus menyatakan keraguannya terhadap keinginan kaum muda saat ini untuk menuruti dan menerima kebijakan tersebut.

Penyiar

Komentar