(Taiwan, ROC) --- Keputusan Rusia untuk mengurangi pasokan gas alam kepada negara-negara di Eropa, telah membuat banyak pihak memutuskan untuk kembali memanfaatkan batu bara sebagai bahan alternatif.
Invasi yang dilakukan Rusia kepada Ukraina, telah membuat banyak negara Eropa memberlakukan sanksi ekonomi kepada negara tersebut. Sebagai balasan, Rusia mengumumkan akan mengurangi pasokan gas alamnya ke Benua Eropa semenjak pertengahan bulan Juni ini.
Balasan dari Rusia tersebut membuat beberapa negara Eropa terpaksa mengambil tindakan darurat, salah satunya adalah Jerman. Jerman memutuskan untuk mengaktifkan kembali PLT Batu Bara mereka, guna menutupi pengurangan pasokan energi gas alam Rusia. Keputusan Jerman tersebut tentu membuat para aktivis lingkungan cemas akan dampak yang ditimbulkan pada proyek pengurangan emisi karbon.
Perusahaan energi raksasa Rusia, Gazprom diberitakan telah memotong pengiriman gas alam di saluran pipa Nord Stream 1 sebanyak 60%, dikarenakan alasan pemeliharaan unit. Juru bicara Kremlin Moskwa, Dmitry Peskov menyampaikan, bahwa pengurangan pasokan gas alam ke negara-negara Eropa dikarenakan masalah teknis dan tidak ada muatan politik tertentu. Ia juga menekankan, bahwa ini semua diputuskan tanpa ada agenda tersembunyi.
Namun demikian, pejabat Uni Eropa menilainya sebagai aksi pembalasan Moskow terhadap sekutu Ukraina di Benua Eropa. Salah seorang pejabat di Komisi Uni Eropa, Frans Timmermans mengatakan, “Rusia menggunakan energi gas alam sebagai bagian dari senjata mereka. Kami juga melihat bahwa pengurangan energi gas alam dilakukan secara struktural, terutama dalam belakangan ini. Ini adalah strategi dari Rusia untuk memecah persatuan kami.”
Jerman Adalah Negara UE yang Terdampak Besar
Pengurangan pasokan gas alam Rusia telah memberikan efek negatif bagi banyak negara di Eropa. Jerman adalah salah satu negara yang sangat bergantung pada transmisi energi gas alam dari Rusia. Sebelum perang Ukraina – Rusia pecah, pasokan energi gas alam Rusia ke Jerman mencapai angka 55%.
Situasi yang berkembang saat ini tentu memaksa pemerintah Jerman mengambil langkah darurat. Pada tanggal 23 Juni 2022, otoritas Berlin mengumumkan status darurat hingga ke level dua (alarm stage). Yang artinya adalah penurunan pasokan gas alam disinyalir memberikan risiko tinggi dalam jangka panjang.
Dan pada saat seperti ini, melalui persetujuan pemerintah, maka para pengusaha swasta dapat menaikkan harga gas alam, yang mana dicemaskan akan meningkatkan inflasi di kalangan masyarakat. Semakin mahalnya biaya yang dikenakan, maka dapat mengurangi jumlah permintaan pasar terhadap pasokan gas alam.
Jika Jerman menaikkan status darurat hingga ke level tertinggi atau ketiga, maka Jerman berkemungkinan harus mulai menerapkan mekanisme penjatahan gas alam.
Di samping itu, beberapa negara Eropa juga mengumumkan untuk kembali mengaktifkan PLT Batu Bara mereka, termasuk Austria, Belanda dan Jerman. Keputusan tersebut terpaksa dilakukan guna membantu mereka untuk dapat bertahan dari krisis gas alam saat musim dingin datang.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 