History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Perayaan Meriah 70 Tahun Pemerintahan Ratu Elizabeth II

  • 02 June, 2022
Kedai RTISI
Perayaan Meriah 70 Tahun Pemerintahan Ratu Elizabeth II

(Taiwan, ROC) --- Ratu Elizabeth II genap memerintah selama 70 tahun pada tahun 2022. Mengilas kembali 70 tahun masa pemerintahannya, Ratu Elizabeth II selalu menjalankan tugas dan berperan dalam menstabilkan negara, terutama di masa-masa penuh gejolak. Tidak heran, jika masyarakat Inggris begitu mencintai ratu mereka.

Perayaan “Platinum Jubilee” akan digelar di Inggris semenjak 2 Juni 2022, selama 4 hari mendatang. Ini adalah upacara untuk memperingati 70 tahun bagi Ratu Elizabeth II duduk di kursi takhta. Dari Istana Buckingham hingga ke pedesaan, seluruh warga setempat menyampaikan ucapan selamat kepada sosok pemimpin yang paling lama memerintah dalam sejarah Inggris.

 

Seluruh Kota Turut Andil dalam Platinum Jubilee”

Perayaan “Platinum Jubilee” terasa kental di kota kecil Bidford-on-Avon, yang terletak di Ingrris sentral. Jalan utama dan rumah penduduk ramai diwarnai oleh bendera Inggris atau bendera peringatan 70 tahun pemerintahan Ratu Elizabeth II. Penduduk setempat telah mencanangkan persiapan selama berbulan-bulan lamanya, seperti acara konser, pameran, kontes olahraga dan lain-lain.

Pihak pengelola menyampaikan, bahwa mereka akan melakukan yang terbaik untuk merayakan momen bersejarah ini.

Ketua Komite Penyelenggara “Platinum Jubilee” di Bidford-on-Avon, Suzanne Meredith mengatakan, “Ratu adalah sosok yang sangat penting bagi kami. Dia telah memberikan 73 tahun masa hidupnya, itu adalah hal yang luar biasa. Di sini, Bidford-on-Avon, kami sangat berterima kasih, mencintai dan ingin memberikan penghormatan terbaik bagi Ratu kami.”

 

Pemimpin Terlama di Dunia, Dedikasi Kepada Negara

Pemerintahan dari Ratu Elizabeth II yang tahun ini menginjak usia 96 tahun, tidak hanya menjadi yang terlama di Inggris, melainkan juga untuk dunia. Ia memimpin Negeri Britania Raya melewati masa-masa konflik bersejarah, seperti Perang Dunia

Selama wabah COVID-19 pecah di berbagai belahan dunia, Ratu Inggris terlihat lebih sering menghabiskan waktu sendirian, terutama setelah kepergian suami tercinta, yakni Pangeran Philip.

Pada bulan Februari 2022, Ratu Elizabeth II positif COVID-19. Di samping itu, Beliau diberitakan harus melewati beberapa agenda penting nasional dikarenakan kondisi kesehatannya.

Bagi warga Inggris, Ratu Elizabeth II adalah symbol stabilitas di tengah ketidakpastian yang menyelimuti dekade belakangan.

 

Dinobatkan Menjadi Ratu di Usia Muda

Ratu Elizabeth II lahir pada tahun 1926. Ketika ia berusia 10 tahun, sang ayah yang dikala itu adalah Raja George VI, menjadikannya sebagai pewaris takhta pertama. Pada tahun 1952, Raja George VI wafat, sehingga kursi kerajaan dinobatkan kepada Putri Elizabeth yang di saat itu baru berusia 26 tahun.

 

Melewati Masa Sejarah Dunia

Pada tahun 1956, krisis di Terusan Suez pecah dan jatuh ke tangan Mesir. Gagal mempertahankan Terusa Suez di kala itu menjadi simbol mulai melemahnya kedudukan internasional Inggris.

Pada tahun 1980, pemogokan para penambang terjadi dan berdampak buruk bagi hubungan industrial Inggris. Selain itu, pada tahun 2005, serangkaian serangan teroris terjadi Ibukota London.

Di tengah gejolak yang ada, Ratu Elizabeth II tetap berpegang pada tugasnya, berperan dalam mengatasi perselisihan politik dan menstabilkan negara.

Penulis biografi Ratu Elizabeth II, Robert Hardman mengatakan, “Saya pikir, yang dilihat orang-orang dalam dirinya adalah orisinalitas. Saya rasa, di dunia perpolitikan, para politisi pada akhirnya akan mengecewakan kita. Anda tahu, bahwa dia (Ratu) memperlihatkan ketulusan yang murni. Yang saya maksudkan adalah, Anda akan tahu apa yang akan Anda peroleh. Anda tahun dia tidak akan mengecewakan Anda.”

 

Insiden Kematian Putri Diana Hingga Skandal Seksual Pangeran Andrew

Namun, meski sosok ratu sangat dicintai, tetapi pemberitaan kontroversial beliau terhadap anggota tubuh kerajaan tidak pernah padam.

Berita gagalnya pernikahan Pangeran Charles dengan Putri Diana pada era 1990-an, menarik perhatian besar dunia. Putri Diana pun akhirnya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, setahun setelah perceraian mereka. Peristiwa memilukan tersebut disinyalir memukul berat reputasi keluarga kerajaan Inggris.

Pemberitaan miring perihal anggota keluarga kerajaan santer terdengar di era abad 21. Putra kedua ratu, Pangeran Andrew kini tengah berhadapan dengan gugatan atas skandal pelecehan seksual.

Cucu ratu, yakni Pangeran Harry beserta istrinya, Meghan Markle mengundurkan diri dari kerajaan Inggris dan memutuskan pindah ke AS. Keluarga kerajaan mendapat kritik keras atas peristiwa Pangeran Harry dengan Meghan Markle, yang dianggap telah melakukan diskriminasi rasial.

 

Praktik Monarki Dipertanyakan

Meski dikelilingi oleh berita kontroversial, tetapi Ratu Elizabeth II dapat melewatinya dengan baik. Beberapa ahli menyampaikan, meski generasi muda mulai meragukan praktik monarki, tetapi status mulia sang ratu tetap tidak akan tergoyahkan.

Komentator media sosial, Tiwa Adebayo mengatakan, “Ini hal yang sulit. Ketika berbicara perihal ratu akan berbeda saat kita berbicara perihal monarki. Benar saja, jika keduanya mungkin tidak terpisahkan. Namun, secara entitas, mereka berbeda. Jadi saya pikir, ketika sikap generasi muda, meski mereka mulai mempertanyakan perlunya praktik monarki, atau bahkan meragukan posisi beberapa anggota kerajaan, misal Pangeran Andrew, tetapi mereka tetap menghormati sosok ratu secara pribadi. Itu sebabnya saya percaya, selama ratu ada, maka kita tetap memiliki praktik monarki. Dia adalah sandaran bagi para generasi muda.”

Ratu Elizabeth II telah memerintah Inggris selama 70 tahun dan berhasil mendapat kepercayaan dari masyarakatnya. Terlepas dari gejolak dan kontroversi anggota kerajaan lainnya, tetapi wara Inggris tetap memberikan penghormatan tertinggi mereka kepada sang ratu.

Penyiar

Komentar