Semenjak ditutupnya pintu perbatasan bagi negara penempatan PMA (Pekerja Migran Asing) pada bulan Mei lalu, beberapa pelaku usaha manufaktur di Taiwan kini mengaku kekurangan tenaga kerja.
Selain manufaktur, beberapa sektor juga menyampaikan keluhan serupa, misal sektor perindustrian dan konstruksi bangunan. Tidak sedikit dari para pengusaha pun mencoba untuk merekrut PMA berstatus hilang kontak (ilegal), dengan menawarkan jumlah pemasukan yang lebih tinggi.
Fenomena di atas sedikit banyak telah meningkatkan jumlah PMA ilegal di Taiwan. Salah satu pengusaha agensi menyampaikan, sistem manajemen yang tersedia di Taiwan belum cukup sempurna, hal ini dapat terlihat dari angka PMA ilegal yang kian meningkat setiap harinya.
Menilik data statistik Kementerian Ketenagakerjaan (MOL), jumlah PMA di Taiwan saat ini berkisar 705.466 orang (hingga akhir bulan Juli), dan total PMA ilegal berjumlah 52.000 orang (7%).
Angka PMA ilegal terus meningkat, seiring dengan ditutupnya pintu perbatasan Taiwan.
Selama periode bulan Januari hingga Mei tahun ini, Kabupaten Yunlin telah menempatkan 500 PMA. Namun ironinya, angka PMA ilegal di Kabupaten Yunlin juga meningkat sebanyak 500 orang selama periode di atas. (Sumber Foto: CNA News)
RTI Radio Taiwan International 













