Di tengah merebaknya wabah COVID-19, otoritas Taiwan pertama kali membuka pintu perbatasannya pada bulan Juni silam, guna mendatangkan anggota keluarga Lina ke Taiwan untuk menjalankan Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT).
Lina adalah Pekerja Migran Asing asal Indonesia yang mengadu nasibnya Taiwan. Pada bulan November tahun lalu, Lina yang berusia 23 tahun tersebut diberitakan mengalami gangguan Menorrhagia, atau pendarahan berlebihan saat menstruasi datang
Lina diberitakan sering pusing, kelelahan dan demam, yang mana sangat menganggu aktivitas sehari-harinya. Atas berkat bantuan dari Asosiasi TIWA (Taiwan International Worker’s Association), Lina pun dipindahkan ke rumah sakit Taipei Veterans General Hospital.
Pada bulan Maret tahun 2020, pihak rumah sakit pun mendiagnosis Lina mengidap “Anemia aplastik”.
Anemia aplastik adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakmampuan sumsum tulang memproduksi sel darah baru dalam jumlah yang cukup.
Tim dokter pun merekomendasikan Lina untuk segera menjalankan prosedur Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT).
Di tengah masih memanasnya wabah COVID-19, sempat membuat prosedur pengobatan HSCT Lina sedikit tertunda. Apalagi kendala bahasa dan anggota keluarga Lina yang bermukim di kawasan pedesaan, menambah kerumitan proses penyelamatan di kala itu.
Di samping itu, fasilitas uji coba pencocokan transplantasi di Indonesia tidak berjalan sesuai dengan target waktu yang diharapkan.
Setiap minggunya, Lina hanya bisa bergantung pada tranfusi darah, guna mempertahankan hidupnya. Tim rumah sakit harus berupaya keras untuk segera mengatur kedatangan anggota keluarga Lina ke Taiwan, guna menjalankan prosedur pencocokan transplantasi.
TIWA dan tim dokter pun berupaya keras untuk menjamah anggota keluarga Lina di kampung. Di samping itu, mereka juga aktif mengontak pihak Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC) untuk membuka pintu perbatasan Taiwan dan mempersilakan anggota keluarga Lina datang.
Upaya keras tersebut pun mulai memperlihatkan hasil yang gemilang. Pada bulan Juni tahun 2020, Ibunda dan kedua adik perempuan Lina pun mendarat di Bandara Internasional Taoyuan.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim Taipei Veterans General Hospital, dapat dipastikan bahwa adik perempuan Lina memiliki kecocokan yang tepat atau related donor (RD).
Setelah menjalani prosedur isolasi selama 21 hari, tim dokter Taipei Veterans General Hospital pun langsung melaksanakan prosedur transplantasi.
Proses Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT) berjalan dengan lancar. Setelah menjalani perawatan insentif selama 9 bulan, jumlah sel darah putih dan trombosit Lina berangsur normal.
Tim dokter pun menyatakan bahwa tubuh Lina sudah memperlihatkan gejala membaik, dan memperbolehkan Lina untuk pulang ke rumah.
Pada tanggal 5 November 2020, Taipei Veterans General Hospital menggelar jumpa pers dan merayakan keberhasilan ini. Lina pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Taiwan yang sudah membuka pintu perbatasannya, di tengah masa pandemi seperti saat ini.
Lina melanjutkan, rasa kemanusiaan Taiwan tidak dapat tertandingi. Taiwan mengedepankan nilai moralitas, dengan berupaya menyelamatkan nyawa kaum lemah. Hal ini juga sekali lagi membuktikan tekad Taiwan untuk menyebarkan cinta kasih tanpa melihat perbedaan yang ada. (Sumber Foto: CNA News)
RTI Radio Taiwan International 













