(Taiwan, ROC) --- Kecamuk pandemi COVID-19 belum memperlihatkan tanda-tanda melambat. Seluruh negara kini tengah berupaya untuk menekan angka penularan di wliayah masing-masing. Di sampng itu, beberapa negara besar juga sedang berlomba-lomba untuk menanamkan investasi besar-besaran mereka, guna mengembangkan dan menemukan vaksin COVID-19.
Menurut pemberitaan media asing, saat ini terdapat lebih dari 150 proyek vaksin COVID-19 yang tengah berjalan. Di antaranya, ada vaksin yang telah memasuki tahap uji coba ketiga, yakni eksperimen terhadap tubuh manusia. Salah satunya adalah vaksin Moderna yang tengah dikembangkan oleh institusi perusahaan biiteknologi Amerika Serikat.
Pihak Tiongkok sendiri diberitakan sedang mengerjakan 3 proyek vaksin lainnya.
Seiring dengan masih belum meredanya situasi pandemi saat ini, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat telah menggelontorkan dana fantastis untuk memesan ratusan juta dosis vaksin COVID-19. Tindakan tersebut juga telah meningatkan harga penjualan vaksin virus korona.
Sekretariat Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan, persaingan di dunia perkembangan vaksin telah memunculkan paham “vaccine nationalism”, membuat harga vaksin menjadi tidak realistis.
Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Begitu vaksin berhasil muncul ke permukaan, jumlah permintaannya akan melebihi kapasitas pasokan. Jumlah permintaan yang terlampau banyak dan persaingan pasokan telah menciptakan paham “vaccine nationalism” dan risiko penipuan harga.”
Sebagian besar ahli percaya, jika proses pengembangan vaksin membutuhkan waktu beberapa tahun. Dengan fasilitas penelitian dan pengembangan yang lengkap, dirasa mustahil untuk menghadirkan vaksin COVID-19 pada tahun mendatang.
Namun demikian, otoritas Rusia pada pekan lalu mengumumkan bahwa mereka telah menemukan vaksin COVID-19, yang diberi nama Sputnik-V. Rusia mengklaim bahwa vaksin mereka aman digunakan. Namun demikian, para ahli meragukan vaksin tersebut, karena proses pengembangannya dinilai terlampau cepat.
Meskipun beberapa negara tengah berlomba-lomba menemukan vaksin, tetapi para pakar menyarankan supaya persetujuan vaksin tidak buru-buru dilakukan. Melainkan harus diteliti lebih lanjut, sebelum diproduksi dan digunakan secara masal.
Sebelum kecamuk epidemi mereda, seluruh pihak menaruh harapan mereka untuk segera mengembangkan vaksin, guna menekan angka penularan COVID-19 yang kian hari kian mengkhawatirkan.






