(Taiwan, ROC) --- Ajakan untuk #stayathome nyaring didengungkan di tengah wabah COVID-19 melanda. Namun demikian, kecenderungan masyarakat tinggal di dalam rumah ternyata telah meningkatkan angka kekerasan dalam rumah tangga. Menurut data statistik yang dirilis oleh Pusat Perlindungan Keluarga Kota Taipei memperlihatkan, angka kekerasan rumah tangga meningkat 4,3 % jika dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan jumlah kekerasan di Kota Taipei pada bulan Maret silam, meningkat 30%. Otoritas setempat menyerukan kepada khalayak luas untuk menjaga keharmonisan antar anggota keluarga.
Sekretaris Biro Sosial Kota New Taipei, Wu Shu-fang (吳淑芳) mengatakan, “Banyak kegiatan telah dibatalkan, aktivitas hiburan para warga menjadi berkurang. Tidak dapat melepaskan stres (penat), sehingga di dalam rumah akan lebih mudah membuat emosi negatif ini dilimpahkan kepada sesama anggota keluarga.”
Pusat Perlindungan Keluarga Kota Taipei mengumumkan jumlah laporan kasus kekerasan pada bulan Januari hingga Maret meningkat sebanyak 4.3%. Angka ini dilaporkan lebih banyak 170 kasus, jika dibandingkan tahun lalu. Konflik rumah tangga di Kota New Taipei pada bulan Maret bahkan meningkat 30%.
Sekretaris Biro Sosial Kota New Taipei, Wu Shu-fang mengatakan, “Ketidakpuasan bukanlah (ungkapan) emosi secara langsung, dalam menciptakan hubungan antar anggota keluarga yang komunikatif, seharusnya mengedepankan sikap saling mengingatkan atau mendukung.”
Diimbau kepada anggota keluarga untuk senantiasa menjaga kerukunan di dalam rumah tangga masing-masing, apalagi di tengah masa pencegahan epidemi.







