(Taiwan, ROC) --- Dampak dari virus korona diketahui terus mewabah di berbagai belahan dunia. Negara-negara yang terinfeksi wabah tersebut pun telah mengeluarkan langkah-langkah penanggulangan, guna menekan angka penyebaran, meliputi pengontrolan di kawasan perbatasan, mengeluarkan peringatan atau larangan berwisata dan bahkan mengisolasi kota.
Italia yang terletak di selatan Benua Eropa, merupakan negara yang memiliki kasus positif COVID-19 terbanyak untuk kawasan Uni Eropa. Pada tanggal 9 Maret 2020, lonjakan pasien yang terinfeksi epidemi tersebut melonjak drastis, yakni 1.900 kasus. Hingga saat ini, jumlah warga di Italia yang positif COVID-19 hampir mencapai angka 10.000. Italia merupakan negara terbanyak di luar Republik Rakyat Tiongkok, yang memiliki pasien positif pneumonia virus korona. Perdana Menteri Giuseppe Conte pun telah mengeluarkan perintah untuk mengisolasi seluruh kawasan di Italia. Beliau berharap seluruh warga dapat tetap berada di dalam rumah dan menghindari kegiatan yang melibatkan kerumunan banyak orang.
Jerman yang terletak di Eropa Tengah, juga telah mencatat lebih dari 1.100 warga yang positif tertular COVID-19. Pada tanggal 9 Maret 2020, untuk pertama kalinya Jerman melaporkan 2 warganya yang meninggal akibat wabah tersebut. Jika epidemi ini terus meluas, otoritas kesehatan Jerman bukan tidak mungkin akan mengeluarkan langkah yang lebih konkret, misal mengimbau untuk membatalkan kegiatan yang melibatkan lebih dari 1000 partisipan. Petinggi setempat juga telah meminta warganya untuk sementara tidak melakukan perjalanan keluar negeri. Di samping itu, warga Jerman juga diminta untuk mengurangi menaiki alat transportasi umum dan beralih menggunakan sepeda atau berjalan kaki.
Tidak hanya di Eropa, virus korona juga menyebar cepat di Amerika Serikat. Hingga saat ini, virus COVID-19 telah mewabah di lebih dari 30 negara bagian Amerika Serikat. Di samping itu, petinggi setempat telah mengeluarkan pernyataan akan kemungkinan untuk mengisolasi kota, jika diperlukan. Yang mana hal tersebut telah membuat banyak pihak bertanya-tanya, akan kemampuan Presiden Donald Trump dalam menghadapi situasi genting seperti saat ini. Epidemi COVID-19 menyebar sangat cepat di Negara Bagian New York. Hingga saat ini, New York telah mencatat 140 kasus warga yang positif terinfeksi virus korona. Pada tanggal 9 Maret 2020, Walikota New York, Bill de Blasio telah mengeluarkan peringatan yang mengimbau warganya untuk bekerja dari rumah dan mengurangi penggunaan alat transportasi umum. Pernyataan ini dikeluarkan, dengan harapan untuk menekan angka penularan di kota yang dihuni 8,5 juta penduduk tersebut.
Hingga hari ini, tidak ada jawaban pasti perihal kapan wabah ini akan berakhir. Banyak pihak yang mengujar, jika virus ini akan menghilang di saat musim panas tiba. Namun demikian, peneliti Jerman, Christian Drosten, mengimbau seluruh pihak untuk tetap bekerja sama menerapkan langkah pencegahan, guna menekan angka penyebaran COVID-19.






