(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 6 Oktober 2019, Presiden Donald Trump memutuskan untuk menarik mundur pasukan militer Amerika Serikat dari kawasan utara Suriah. Peluang ini langsung dimanfaatkan oleh otoritas Turki, dengan melakukan serangan militer. Selain menyerang Suku Kurdi, anggota militer Turki juga menyerbu kaum wanita dan anak-anak di kamp pengungsian Suriah. Serangan tersebut, membuat penghuni kamp panik dan berlari menyelamatkan diri. Dunia global juga kian cemas akan kemungkinan meningkatnya ketegangan di kawasan terkait. Dan tidak menutup kemungkinan kekuatan ISIS akan kembali bermunculan.
Selain masalah krisis pengungsi, wilayah utara Suriah harus kembali menghadapi serangan dari tentara Turki. Di samping itu, 2 anggota parlemen Amerika Serikat mengutuk keras keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik mundur pasukan militer dari Suriah. Hal ini secara tidak langsung mengkhianati Suku Kurdi, yang selama ini telah bersekutu dengan pasukan Amerika Serikat, guna membasmi tentara ISIS. Menanggapi hal ini, Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengemukakan pasukan militer mereka terjepit di antara permusuhan Turki dengan Suku Kurdi. Negeri Paman Sam dikabarkan akan kembali menarik 1000 pasukan militernya dari kawasan terkait.
Mark Esper mengatakan, “Kami menemukan fakta bahwa pasukan AS kami, terjebak di dalam situasi permusuhan antar 2 belah pihak. Ini merupakan kondisi yang sulit dilanjutkan. Oleh karena itu, saya telah membahasnya dengan Presiden semalam, dan telah mendiskusikannya dengan anggota tim pertahanan nasional lainnya. Terkait hal ini, ia menyampaikan akan berhati-hati menarik pasukan militer dari Suriah utara”.
Sesaat setelah Amerika Serikat mengumumkan untuk menarik 1000 pasukan tentaranya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron juga mengeluarkan pendapatnya. Prancis merupakan sekutu Amerika Serikat dalam memerangi kelompok teror ISIS di Suriah. Presiden Emmanuel Macron menyampaikan bahwa dirinya akan secepatnya mengambil langkah-langkah darurat, guna untuk menjamin keselamatan pasukan militer Prancis di kawasan terkait. Salah satu petinggi Prancis menyampaikan jika Amerika Serikat memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya, maka bukan tidak mungkin bagi Prancis akan melakukan hal yang sama. Mengingat selama ini, pasukan Prancis sangat bergantung terhadap bantuan logistik Amerika Serikat.
Prancis dan Jerman pun telah mengumumkan akan memberikan sanksi kepada otoritas Turki atas penyerangan di Suriah utara. Meskipun demikian, Presiden Turki, Tayyip Erdogan menyampaikan bahwa sanksi tersebut tidak akan menggoyahkan keputusan pasukan Turki untuk menginvasi Suriah. Polemik yang terus berkembang di Suriah, tentu mendatangkan kecemasan dunia internasional terhadap situasi perdamaian kawasan setempat.







