(Taiwan, ROC) --- Perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi Daratan Tiongkok Huawei mendapatkan larangan dari Departemen Perdagangan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Setelah larangan kerja sama bagi perusahaan Amerika Serikat dengan Huawei diterbitkan, Google juga mengumumkan akan mengikuti larangan terkait dan menghentikan sebagian kerja sama mereka dengan Huawei. Saat menerima wawancara, pendiri Huawei Ren Zheng-fei (任正非) terlihat biasa-biasa saja. Ren Zheng-fei mengemukakan meskipun Negeri Paman Sam telah mengumumkan untuk melonggarkan sanksi selama 90 hari, Huawei tidak merasa cemas dan telah menyiapkan beberapa langkah pencegahan.
Pada tahun lalu, Amerika Serikat meminta kepada sekutu Kanada untuk menahan Kepala Direksi Keuangan Huawei Meng Wan-zhou (孟晚舟), atas alasan Huawei telah melanggar sanksi internasional atas Iran. Pada tanggal 15 Mei 2019, Donald Trump dan Departemen Perdagangan berulang kali membatasi transaksi dagang antar perusahaan Amerika Serikat dengan Huawei. Perusahaan teknologi Intel dan Qualcomm telah mengumumkan akan berhenti memasok produknya kepada Huawei. Selain itu, perangkat Android yang ditanam dalam telepon cerdas Huawei, dikabarkan akan tidak dapat menggunakan aplikasi Google Maps dan Gmail. Informasi ini tentu mengejutkan beberapa konsumen.
Pengguna ponsel Huawei asal Spanyol, “Saya sering menggunakan Gmail dan aplikasi lainnya. Jadi, saya takut tidak dapat menggunakannya dalam beberapa bulan.”
Beberapa konsumen Huawei di beberapa negara barat mengemukakan keputusan Google membuat mereka berpikir untuk mengganti ponsel Huawei dengan produk lain. Tentu hal ini dapat memukul berat pasar penjualan Huawei.
Namun demikian, Ren Zheng-fei saat diwawancara mengatakan Negeri Paman Sam terlalu meremehkan potensi Huawei. Dilaporkan, Huawei semenjak 7 tahun yang lalu telah merencanakan sistim operasinya sendiri, yang diberi nama Hong Meng. Salah seorang ekonom Amerika Serikat merasa Huawei memiliki peluang untuk memperluas pasarnya, setelah mereka berhasil mempercepat penelitian dan pengembangan mekanisme Hong Meng.
Ekonom SF State University, Anoshua Chaudhuri mengatakan, “Anda tahu, jika melarang Huawei untuk tidak menggunakan produk-produk Amerika Serikat, hanya akan membuat mereka semakin mengembangkan produknya sendiri. Huawei sendiri telah bermaih cukup mahir di pangsa ponsel murah. Atau keadaan ini dapat semakin menguntungkan mereka. Internal memiliki produk yang dapat dipergunakan. Faktanya, mereka dapat membuat harga ponsel menjadi kian murah, dan dijual ke pasar lain.”
Terkait akan rentetan larangan yang dikeluarkan gedung putih atas Huawei, beberapa orang berpikir bahwa Donald Trump tengah berupaya bersaing dengan Huawei, yang notabene memiliki peran dominan di pasar teknologi 5G. Namun demikian, hubungan pendiri Huawei dengan tentara nasional Daratan Tiongkok, membuat sebagian warga dunia ragu akan keamanan data pribadi yang tertanam dalam perangkat ponsel Huawei.







