History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

ETIKA DALAM MEDSOS.

  • 04 February, 2019
Kedai RTISI
Medsos

ETIKA DALAM MEDSOS.

Kiriman : Linjin Tjan

 

Pada masa 1970 hingga 1990 penggunaan sarana telepon di Indonesia, terutama di kota besar, sebagai alat komunikasi kian meningkat namun masih sangat terbatas persediaannya. Perbandingan antara pasokan dan permintaan yang timpang, membuat biaya pemasangan telpon menjadi puluhan kali lipat di pasar gelap dan antrian yang panjang. Berlaku prinsip, siapa kuat bayar akan dapat sambungan lebih dahulu.

Penggunaan tehnologi sistem putar angka menjadi sistem tekan angka juga menjadi perubahan yang canggih pada waktu itu. Pesawat telpon dengan putaran angka-pun tersingkir setelah beberapa puluh tahun menggantikan sistem pendahulunya yang menggunakan engkol putar untuk minta operator menyambungkan ke nomer tujuan.

Pada tahun 1990 pasokan sambungan telepon gencar masuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan bisnis dengan biaya pemasangan 1 juta Rupiah, jauh dari harga pasar gelap sebelumnya.

Tehnologi komunikasi pun kian cepat melangkah maju, karena telepon bergerak (Mobile Phone) tanpa kabel segera menyusul masuk pasar di tahun 1995 diawali dengan model jinjingan sebesar tas kerja kantoran dengan area jangkauan yg terbatas. Hanya ada satu penyedia jaringan dengan monopoli pelayanan dan penjualan perangkat. Bagi pengguna yang kedapatan menggunakan perangkat yang tidak sah, akan dikenakan pasal pelanggaran hukum berat.

Lompatan tehnologi yang sangat pesat dan tidak terbendung lagi, telah menjadikan perangkat komunikasi beupa pesawat telepon selular berada di tangan hampir setiap orang, dari kakek-nenek yang jauh di pelosok hingga cucu mereka yang duduk di bangku sekolah, sulit meninggalkan gadget yang tak terpisahkan dari segala kegiatan mereka. Produksi besar2an oleh banyak merk dan persaingan luar biasa, mendukung penyebaran perangkat dan fasilitasnya hingga pelosok desa yang dulu bahkan  tak kebagian mimpi untuk menikmati sarana telepon.Segudang kemampuan pesawat kecil ini menyulap dirinya menjadi “Smart Phone” atau telepon cerdas yang lebih dari sekedar pintar saja, ditambah jaringan internet, membuat dunia berpindah ke telapak tangan.

Berkirim surat yang dahulu harus menggunakan kertas, perangko, memasukkan ke kotak surat atau kantor pos, kini dilakukan tanpa beranjak dari tempat  duduk, bahkan dapat balasan tanpa menunggu lama.

Namun, sejauh manakah kemampuan perangkat ponsel “Telepon Cerdas” ini dibandingkan dengan kemampuan manusia yang pada hakikatnya adalah pengendali tehnologi?

Seiring kemudahan dan kecepatan komunikasi melalui ponsel, justru memperlambat daya piker banyak orang yang merasa lebih gampang bertanya pada orang lain daripada berpikir sendiri. Menjadi malas membaca atau mencari informasi yang tersedia di dalam ponselnya karena mudahnya komunikasi yang tersedia. Kemajuan tehnologi justru cenderung mendorong kemunduran perilaku bagi beberapa orang di sekeliling kita. Hal itu bisa kita lihat melalui tingkah laku dalam menggunakan media sosial. Berbeda dengan cermin yang terpampang dalam kamar kita, dimana hanya kita yang bisa melihat sosok diri kita. Namun medsos jauh berbeda, karena akan menjadi cermin diri kita yang dilihat oleh banyak orang tanpa batasan ruang dan waktu.

Banyak orang yang dalam menggunakan medsos lebih sebagai sarana pelampiasan keliaran dan perilaku anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Bermodalkan prinsip “tidak ada aturan”, kemudian beranggapan medsos sebagai hutan belantara yang mereka huni tanpa aturan. Mereka lupa, bahwa dirinya sebagai manusia, berbeda dengan para penghuni hutan, karena kita diciptakan dengan dibekali akal dan etika dalam setiap diri masing2 tanpa kecuali. Ketika nenek moyang kita belum mengenal segala macam aturan, sudah menggunakan etika dalam tata kehidupan bermasyarakat. Ketika sebagian mulai mengabaikan etika dalam peri-kehidupannya, maka dibuatlah peraturan sebagai pengikat mengendalikan keliaran itu. Manusia yang ber-akal budi sehat tentunya akan menggunakan etika ketika belum ada peraturan yang terlihat.

Penggunaan medsos yang sudah meluas ke semua lapisan masyarakat, tidak saja terbatas sebagai sarana pribadi, tapi sekelompok orang juga memanfaatkan dengan membentuk group tertentu, sesuai pada fokus yang diinginkan, misalnya hobi, kesehatan, keluarga, hiburan, seni, politik, kuliner, wisata, dan banyak bidang lainnya. Sebagai anggota kelompok tentu harus mengerti etika untuk menjaga batasan dimana dia berada. Tidak semena-mena mencampur adukkan satu group dengan goup lainnya yang berbeda bidang, sehingga tak ada bedanya orang ini menjadi “tukang nyampah” (berbeda dengan “tukang sampah” kan?). Sebuah artikel atau bahan unggahan yang bermanfaat di sebuah group, belum tentu berguna bagi group lain, bahkan hanya menjadi sampah.

Akun medsos merupakan latar depan atau halaman rumah kita di dunia maya, yang dapat terlihat dan disinggahi oleh para “tetangga” kita yang melintas, bahkan bisa pula ikut memajang sesuatu di halaman kita. Tidak ada peraturan, tapi harus ber-etika, karena memajang sembarangan hanya akan menjadi sampah yang memenuhi halaman orang lain. Ada pula yang beralasan dia membuang sampah di halaman kita karena ada orang lain yang membuang sampah itu di halamannya terlebih dahulu.

Sebagai gambaran saja, menggunakan senjata api ada peraturan yang keras. Namun menggunakan pistol mainan yang menggunakan air, tidak ada aturannya. Kita semua tentu menyukai es sirop sejak kecil. Nah, ketika seseorang tiba2 menyemprot air sirop menggunakan pistol air pada baju kita di tengah pesta, tentu kita akan marah. Bagaimana bila pelaku penyemprotan itu mengatakan “tidak ada peraturannya koq”.

Sering pula kita temui dimana seorang teman kita yang gemar membuang sampah di halaman medsos kita, ketika ditegor, dengan seenaknya menjawab: “ Kalau tidak suka, dihapus saja. Gampang kan?”. Untuk mengajarkan etika pada orang yang masuk kategori “syahwat medsos” seperti ini tentu tidak mudah. Namun, sangat mudah untuk menjaga kebersihan dari gangguan orang ini. Yaitu, hapus saja dari daftar dalam ponsel cerdas sesuai keinginan orang tsb. Gampang kan? Ponsel kita lebih cerdas dari teman kita yang tidak ber-etika…….

Penggunaan medsos di tangan kita juga bisa berubah menjadi senapan yang memberondongkan peluru ke segala arah tanpa kendali. Kita sebagai pengguna medsos perlu kedewasaan berpikir dan bertindak.

Manusia harus yakin dirinya tidak boleh kalah dari perangkat (gadget) di tangannya yang berpredikat CERDAS.

Karena manusia selain bisa CERDAS juga harus BIJAK.

 

(Linjin, 14 Des 2018)

 

Penyiar

Komentar