(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 6 Juni 2022, Ketua Partai Kuomintang (KMT), Eric Chu (朱立倫) merilis pernyataan bahwa Konsensus 92 adalah Konsensus Tanpa Konsensus (Non-Consensus Consensus), yang juga merupakan suatu “ambiguitas”. Ini akan terus digunakan untuk memupuk komunikasi, hingga ditemukan langkah terbaru pada masa mendatang.
Eric Chu menyampaikan pidatonya di Brookings Institution, Washington, Amerika Serikat dengan tema “Arah Masa Depan Taiwan”. Selain memaparkan perencanaan hubungan antar AS dengan Taiwan dan kebijakan pemerintahan Partai KMT kepada para akademisi AS, Eric Chu juga mengumumkan peresmian Kantor Perwakilan Partai KMT di AS.
Eric Chu melanjutkan, meski terdapat perbedaan politik dan kebijakan lintas selat, tetapi niat baik dari kedua masyarakatnya masih menjadi “rantai” yang tidak terputuskan. Dengan berpijak pada prinsip ini, maka Taiwan dapat menjadi kunci akan stabilnya tatanan dan norma internasional, serta pembela prinsip demokrasi dan menjadi penjembatan antara Timur dengan Barat.
Eric Chu menyampaikan, pertahanan yang kuat dan aliansi dari negara-negara demokrasi, sangat diperlukan untuk keamanan regional. Langkah untuk tetap menggelar komunikasi lebih disukai ketimbang konflik atau benturan. Partai KMT bersikukuh untuk menggelar “pertukaran yang bertumpu pada prinsip” dengan pihak Beijing, guna menstabilkan hubungan lintas selat, serta mengurangi ancaman dan mengontrol terjadinya krisis.
Ketika ditanya pendapatnya perihak Konsensus 92, Eric Chu menyampaikan, ini adalah suatu pemahaman ambiguitas yang kreatif dan konstruktif antara kedua pihak, tidak salah jika menyebutnya sebagai “Konsensus Tanpa Konsensus”. Partai KMT akan memprioritaskan pencegahan terjadinya konflik dan terus bergerak maju.
Eric Chu juga mengutip pernyataan dari Wakil Ketua Partai KMT, Andrew Hsia (夏立言), jika semua harus diperjelas, maka dicemaskan akan menyebabkan masalah dalam non-perpolitikan lintas selat. Partai KMT ingin agar permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat dapat terselesaikan, serta tidak ingin membuang waktu dengan hanya berfokus pada “Konsensus yang Dibuat Tanpa Konsensus”. Ini sama dengan Kebijakan Satu Tiongkok yang dianut oleh Amerika Serikat, yang mana adalah sebuah ambiguitas yang diciptakan oleh kedua pihak.
Di samping itu, Eric Chu juga melakukan kunjungan ke Departemen Luar Negeri AS. Ia menyampaikan, rasa antusiasnya untuk mengunjungi kerabat dan sahabat lama di sana, Kedua belah pihak juga terlibat pembicaraan membahas masalah keamanan, ekonomi, teknologi dan energi terbarukan.
Eric Chu diketahui pernah berkunjung ke Washington pada bulan November 2015 silam, di kala itu dirinya adalah kandidat presiden yang diusung oleh Partai KMT.