(Taiwan, ROC) - Taiwan terus berupaya memperkuat pertahanan negara dan meraih dukungan dari negara berpendirian sama untuk melawan agresi Tiongkok, dan Tiongkok hendaknya belajar dari Perang Rusia-Ukraina saat mengevaluasi harga yang harus dibayar dalam menginvasi Taiwan.
Demikian ditegaskan Menteri Luar Negeri Joseph Wu (吳釗燮) dalam wawancara bersama Fareed Zakaria dalam acara The Global Public Square, CNN, yang disiarkan pada hari Minggu, 1 Mei.
Menurut keterangan pers yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri (MOFA) malamnya, Wu mengemukakan bahwa Ukraina berhasil melawan invasi Rusia selama dua bulan lebih ini karena tekad yang kuat, penggunaan perang asimetris dan pertahanan sipil yang efektif.
Mengingat hal ini, Wu melanjutkan, Taiwan selain akan terus mengembangkan kekuatan pertahanan negara, juga akan berusaha meraih solidaritas dari rakyat, meningkatkan kemampuan mobilisasi pasukan cadangan, dan meraih dukungan dari negara berpendirian sama.
Wu mengatakan, ekspansi otoriter Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik dan invasi Rusia ke Ukraina telah membangkitkan demokrasi di seluruh dunia dan membuat mereka menyadari pentingnya Taiwan. “Kesadaran telah tumbuh di komunitas internasional untuk peduli dengan situasi Taiwan saat ini,” tegasnya.
Menlu menyebutkan bahwa beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris dan Prancis, telah menekankan pentingnya perdamaian Selat Taiwan dan memperbaru strategi Indo-Pasifik masing-masing.
Banyak negara Eropa juga telah mengirim delegasi parlemen ke Taiwan, lanjutnya, menunjukkan bahwa kawasan itu sangat memerhatikan Taiwan dan mengambil tindakan nyata untuk mendukung demokrasi Asia Timur.
Menlu Wu juga meyakinkan kokohnya hubungan Taiwan-Amerika Serikat, ditampilkan melalui delegasi mantan pejabat senior pertahanan dan keamanan AS yang mengunjungi Taiwan segera setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina, serta sejumlah kebijakan lain untuk mendukung penjualan senjata kepada Taiwan untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya.