History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Penggunaan Media TikTok Bagian dari Perang Kognitif? PM Su: Menitikberatkan pada Isi Konten

  • 29 March, 2022
  • 尤繼富
Penggunaan Media TikTok Bagian dari Perang Kognitif? PM Su: Menitikberatkan pada Isi Konten
Penggunaan Media TikTok Bagian dari Perang Kognitif? PM Su: Menitikberatkan pada Isi Konten

(Taiwan, ROC) --- Anggota legislator Partai Progresif Demokratik (DPP) – Lin Chu-yin (林楚茵) belakangan ini mempertanyakan akan penggunaan media TikTok sebagai bagian dari Perang Kognitif. Namun, para netizen menemukan bahwa Lin Chu-yin pribadi memiliki akun di TikTok. Ujaran Lin Chu-yin yang bertolak belakang dengan tindakannya pun langsung mendatangkan banyak pendapat dari kalangan masyarakat.

Menanggapi hal di atas, saat ditemui pada Selasa pagi (29/3), Perdana Menteri Su Tseng-chang (蘇貞昌) menyampaikan, yang harus diselidiki dan dicegah adalah isi kontennya dan tidak harus selalu media platformnya.

Lin Chu-yin menjelaskan, bahwa kepemilikan akun TikToknya tersebut dibuat oleh salah satu stafnya di masa lampau. Bahkan, ia pribadi sudah lupa jika memiliki akun tersebut, mengingat dirinya tidak pernah mengelolanya. Lin Chu-yin menuding anggota Partai Kuomintang (KMT) telah sengaja mengangkat kasus ini ke publik, guna menjatuhkan reputasinya.

Anggota legislator Partai DPP - Lin Chu-yin baru-baru ini mempertanyakan kemungkinan menyusupnya tentara siber RRT (Republik Rakyat Taiwan) ke Taiwan melalui akun TikTok dan Xiaohongshu. Tidak lama berselang, netizen menemukan fakta bahwa Lin Chu-yin pribadi memiliki akun di TikTok, bahkan suami dan beberapa anggota dewan Kota Taipei lainnya juga terlihat di dalam sebuah video pendek yang direkam oleh Lin Chu-yin.

Saat ditemui di Yuan Legislatif pada Selasa pagi (29/3), PM Su menuturkan bahwa, perang kognitif lebih menitikberatkan pada isi konten dan tidak melulu harus berkaitan dengan platformnya.

PM Su Tseng-chang mengatakan, “Yang harus diselidiki dan dicegah dari perang kognitif adalah isi kontennya, bukan melulu platformnya. Jika ada pelanggaran, kita harus segera mengklarifikasi dan menanganinya sesuai hukum yang berlaku.”

Lin Chu-yin pribadi menambahkan, akun TikToknya tersebut dibuat pada tahun 2018 oleh tim editornya. Akun tersebut tidak lagi digunakan, setelah tidak lama dibentuk. Lin Chu-yin pun lupa terhadap kepemilikan akun di media TikTok, mengingat bukan dirinya yang mengelola akun yang bersangkutan.

Lin Chu-yin menambahkan, media TikTok memiliki fitur utama yang memungkinkan seluruh pihak membuat akun maupun mengunggah video, tanpa didasari mekanisme pelacakan fakta. Yang mana hal tersebut akan sangat mudah disusupi informasi palsu, dan disinyalir telah menjadi sarang bagi RRT untuk melancarkan perang kognitif.

Semenjak menjabat, Lin Chu-yin kerapkali membahas permasalahan di atas dan akan terus memantaunya pada masa mendatang. Lin Chu-yin mengimbau kepada tokoh politik dari partai oposisi, bahwa postingan yang merendahkan martabat pihak lawan mungkin dapat meningkatnya jumlah viewer, tetapi hal tersebut tidak dapat mematahkan fakta bahwa TikTok telah menjadi media utama RRT untuk melancarkan perang kognitif.

Komentar

Terbarumore