(Taiwan, ROC) - Perang Rusia-Ukraina akan mendampak laju ekonomi Taiwan tahun ini sebanyak 0,3-0,4%, sehingga prakiraan Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi dan Statistik (DGBAS) sebelumnya setinggi 4,42% diharapkan bisa dipertahankan pada 4%.
Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pembangunan Nasional (NDC) Kung Ming-hsin (龔明鑫) dalam sidang Komisi Urusan Perekonomian di Yuan Legislatif pada hari Senin, yang juga dihadiri oleh Menteri Ekonomi Wang Mei-hua (王美花) dan pejabat Kementerian Keuangan serta Bank Sentral untuk membahas dampak perang Rusia-Ukraina terhadap pasokan dan permintaan energi dan bahan baku global, dan kebijakan yang akan diterapkan untuk mengurangi dampak tersebut terhadap Taiwan.
Kung Ming-hsin mengatakan, “Prakiraan DGBAS adalah 4,42%, maka kami harap pertumbuhan bisa dipertahankan pada 4%. Ini adalah prestasi cukup menonjol di dunia, maka tidak ada masalah stagnasi.”
Ketua NDC juga menyenggol isu indeks harga konsumen (CPI) yang mengalami kenaikan 0,2% seiring kenaikan minyak mentah setinggi 10%. Dihitung dengan patokan harga minyak Brent setinggi Amerika Serikat$ 110 per barel, lanjut Kung, CPI Taiwan tahun ini mungkin akan naik 2,5%, angka yang masih moderat dibandingkan banyak negara lain.
Menurut Kung, pemerintah telah menetapkan tiga kebijakan untuk selanjutnya menstabilisasi harga barang, yakni menstabilisasi pasokan, merendahkan pajak impor, bea cukai dan bisnis, dan memastikan bahwa langkah-langkah pengurangan pajak ini tercermin di pengecer.