(Taiwan, ROC) – Dilansir dari pemberitaan media Reuters, pada saat ketegangan di Taiwan kian memanas, isu terkait peran keamanan Jepang mungkin akan menjadi topik utama pertemuan para Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) dan Jepang, yang diadakan pada tanggal 7 Januari.
Satu hari sebelum pertemuan yang diberi nama 2+2 diselenggarakan, pemerintah Jepang dan Australia menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dan pertahanan nasional, serta mengkhawatirkan militer dan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang kuat dapat terus meningkat dari hari ke hari.
Seiring menguatnya tekanan militer dan diplomatik RRT, ketegangan di Taiwan yang demokratis telah meningkat dalam dua tahun terakhir.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan, “Para Menteri diperkirakan akan membahas mengenai kerjasama keamanan regional”, dan ini “menegaskan” akan mencakup kerja sama antara kedua negara yang ingin bekerja sama dengan Australia dan mitra-mitra lainnya.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price dalam konferensi pers yang diadakan pada 6 Januari kemarin mengemukakan, kedua belah pihak akan membahas “Memperkuat serta memodernisasikan aliansi kami, mempromosikan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka serta menanggapi kecamuk COVID-19, krisis iklim, dan tantangan global lainnya.”
Kantor Berita Kyodo Jepang sebelumnya memberitakan jika Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) dan militer AS telah merancang aksi militer gabungan Jepang-AS dalam menanggapi kemungkinan keadaan darurat yang mungkin akan terjadi di Taiwan. Pemberitaan tersebut membeberkan, pertemuan 2+2 di tanggal 7 Januari ini diharapkan dapat melihat kedua sekutu secara resmi mengkonfirmasi dan menyetujui pekerjaan mereka pada perencanaan ini.