(Taiwan, ROC) – Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Mark Takano, Elissa Slotkin, Colin Allred, Sara Jacobs, dan Nancy Mace, total sebanyak 17 staf kongres yang lain menumpangi pesawat administrasi khusus AS datang mengunjungi Taiwan, dari 25-26 November 2021. Namun, Elissa Slotkin dalam cuitannya di medsos Twitter membeberkan, setelah rencana mengunjungi Taiwan terekspos, dirinya diminta oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk “Membatalkan Perjalanannya”.
Legislator Partai Kuomintang (KMT), Lee De-wei (李德維) saat diwawancara di Yuan Legislatif pada hari ini (26/11) mengemukakan, seharusnya tidaklah mengherankan apabila Anggota Kongres AS menerima pesan dari Negeri Tirai Bambu yang menentang kunjungan mereka ke Taiwan.
Lee De-wei (李德維) mengatakan, “Saya rasa jika penolakan RRT terhadap kunjungan anggota Kongres AS sebenarnya bukanlah satu atau dua hari ini saja, dan malah akan menjadi sebuah berita apabila pihak Negeri Panda menyetujuinya. Seharusnya sangatlah umum bagi anggota Kongres AS jika menerima pesan seperti itu.”
Namun, Legislator Partai Progresif Demokrat (DPP), Hsu Chih-chieh (許智傑) menuturkan, ancaman intimidasi RRT ada di mana-mana. Elissa Slotkin mengungkapkan jika dirinya diminta untuk membatalkan kunjungannya ke Taiwan oleh Negeri Tirai Bambu, mengingatkannya pada mendiang Ketua Senat Republik Ceko, Jaroslav Kubera yang juga menemui ancaman yang serupa. Namun Taiwan tidaklah sama, Taiwan, AS, dan Eropa semuanya sama, sama-sama percaya pada demokrasi, dan mencintai kebebasan. Tetapi, Taiwan tidak akan tunduk pada RRT.
Hsu Chih-chieh (許智傑) mengatakan, ”Saya juga berharap seluruh negara-negara demokratis di seluruh dunia dapat saling terhubung, bersatu membentuk kekuatan yang lebih kuat. Untuk Negeri Panda, Anda hanya perlu mengatur baik-baik diri Anda sendiri, dan meninggalkan autokrasi merupakan jalan yang benar.”
Legislator Partai Progresif Demokrat (DPP) , Liu, Shyh-Fang (劉世芳) menyampaikan, Kementerian Luar Negeri RRT sangatlah tidak sopan. Anggota Kongres AS melakukan yang terbaik untuk menjalankan tugasnya, terutama anggota Diplomasi Pertahanan yang mengunjungi masing-masing kantor perwakilan militer di seluruh dunia, juga bertujuan untuk memantau apakah anggaran domestik mereka telah diterapkan dengan benar. Negara lain justru membuat tuntutan yang tidak bertanggung jawab dengan meminta agar tidak mengunjungi tempat mana pun, ini sangatlah tidak sesuai dengan etiket diplomatik.