(Taiwan, ROC) Menlu Joseph Wu (吳釗燮) kemarin (15/8) mengemukakan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memutarbalik penggunaan nama Taiwan untuk menunjukkan aksi protesnya terhadap kedaulatan Taiwan, ketika Taiwan akan melakukan perubahan pemakaian nama, kemudian mendapat ancaman militer dari pemerintah Beijing. Namun kabar gembira, karena mitra AS sangat memahami dan membiarkan Taiwan menggunakan nama “Taiwan”, ini menjadi strategi yang penting.
Kemenlu kemarin malam (15/9) mengeluarkan pers rilis, Menlu Joseph Wu memberikan ceramah dalam wadah pemikir Washington, Global Taiwan Institute yang diselenggarakan pada tanggal 15 September. Kepala kantor perwakilan di AS, Hsiao Bii-khim(蕭美琴) memberikan sambutan pembukaan, dilanjutkan dengan pembahasan bersama dengan anggota parlemen DPR, ketua komite urusan Asia Pasifik, Ami Bera dan mantan asisten urusan Asia Pasifik Kemenlu, David Stilwell.
Saat ini yang dibeberkan oleh media, AS serius mempertimbangkan perubahan pemakaian nama untuk kantor perwakilan menjadi “kantor perwakilan Taiwan”. Menlu Joseph Wu dalam pembahasan mengatakan, pemerintah Beijing menyerukan Taiwan menjadi bagian dari RRT, agar ekspansi yang agresif ini menjadi hal yang wajar. RRT terus menerus memutar balik nama Taiwan, pemakaian nama Taiwan ingin menunjukkan kedaulatan Taiwan, ketika Taiwan akan mengganti pemakaian nama, maka Beijing menyerukan tindakan provokasi dan Beijing memberikan peringatan balasan dan ancaman perang.
Joseph Wu mengemukakan, hal yang menggembirakan adalah, mitra AS sangat memahami dan membiarkan perubahan pemakaian nama “Taiwan”, menjadi strategi penting.
Ia juga mengungkit, Taiwan juga memiliki industri semikonduktor yang unggul, juga memiliki geopolitik yang penting sehingga menjadi mitra terandalkan bagi AS, pada tahun ini bulan Juni mulai mengaktifkan pembahasan kerangka perjanjian investasi perdagangan(TIFA) Taiwan-AS, membahas isu-isu perluasan seperti semi konduktor, rantai pasokan industri, vaksin, lingkungan, pasar kerja serta perdagangan digital, diharapkan berlandaskan pada pondasi yang ada, dapat memperdalam hubungan ekonomi perdagangan dengan AS, dan kedua belah pihak dapat melanjutkan pembahasan perdagangan bilateral.
Menlu Joseph Wu lebih lanjut mengemukakan, seperti negara Lithuania yang bermaksud ingin memperdalam pembinaan hubungan dengan Taiwan malah mendapat ancaman tak beralasan dari negara otoriter tertentu; Taiwan sangat berterima kasih kepada AS secara terbuka mendukung Lithuania yang berpegang pada konsep nilai demokrasi dan berlanjut memimpin kubu demokrasi untuk menanggapi dampak pengaruh tidak benar dari negara-negara otoriter.
Global Taiwan Institute membahas isu bertema US-Taiwan Relations: Forging a 21st Century Agenda berlangsung pada tanggal 15-16 September.