(Taiwan, ROC) --- Situasi perpolitikan di Afghanistan kini telah berubah. Pasukan Taliban telah memasuki Ibukota Kabul dan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri hingga ke negara lain. Kepala China Broadcasting Corporation, Chao Shao-kang (趙少康) memposting di akun facebooknya menyampaikan, bahwa kejadian yang terjadi di Afghanistan saat ini adalah pelajaran bagi Taiwan. “Ketika tantara telah berada di pinggiran kota, apa yang akan dilakukan oleh Presiden Tsai Ing-wen,” lanjut Chao Shao-kang.
Saat ditemui hari ini (17/8), Perdana Menteri Su Tseng-chang (蘇貞昌) menyampaikan, saat Taiwan dikuasai oleh Partai Kuomintang (KMT) secara otoritatif, dan selama darurat militer berlangsung ia tidak gentar terhadap ancaman pembunuhan atau kurungan penjara yang ada.
Saat Taiwan telah menjadi negara penganut demokrasi seperti hari ini, masih ada kekuatan luar yang ingin menguasai Taiwan. PM Su menyampaikan, dirinya tidak takut dipenjara atau dibunuh, dan akan terus memperlihatkan tekad kuat untuk melindungi Bumi Formosa.
PM Su menambahkan, warga Taiwan menaruh kepercayaan yang besar terhadap Presiden Tsai Ing-wen dan dirinya. Mereka memegang amanah kuat untuk menjaga Bumi Formosa beserta seluruh rakyatnya.
PM Su mengatakan, “Presiden Tsai dan saya mengembang kepercayaan seluruh warga. Kita harus berpegang teguh untuk melindungi tanah ini beserta seluruh masyarakatnya. Kita jangan menstigmasi diri sendiri atau merasa Taiwan adalah kawasan kacau. Jika demikian maka akan mudah dimanfaatkan oleh pihak luar. Kita jangan pesimis.”
Menanggapi kejadian yang kini tengah terjadi di Afghanistan, PM Su menyampaikan bahwa itu tampaknya adalah kekacauan internal, dan pihak luar tidak mudah memberikan bantuan mereka. Taiwan harus memiliki rasa optimis dan terus memperkukuh keyakinannya, sehingga tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak luar, Taiwan juga membuka kesempatan bagi pihak luar yang benar-benar ingin membantu.
Ia melanjutkan, Presiden Tsai Ing-wen menghargai seluruh interaksi yang dilangsungkan bersama dengan negara-negara yang memiliki prinsip serupa selama ini. Beberapa negara besar juga telah menyatakan dukungan kuatnya atas Taiwan, sebut saja Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Lituania. Negara-negara tersebut telah menegaskan pentingnya perdamaian dan stabilitas di kawasan Selat Taiwan.
PM Su melanjutkan, kekompakan warga Taiwan dapat jelas terlihat, terutama di era pandemi saat ini. Taiwan hanya membutuhkan waktu 90 hari untuk terlepas dari gelombang penularan yang terjadi pada akhir bulan Mei lalu. Ini juga menjadi catatan prestasi penanggulangan epidemi terbaru yang berhasil diraih Taiwan.
Beliau melanjutkan agar Taiwan dapat terus mempertahankan kekompakan ini, jangan terlalu memikirkan hal yang terlampau berlebihan.