(Taiwan, ROC) - Sebuah upacara resmi digelar di Kaohsiung untuk memperingati Hari Perdamaian 28 Februari dan memperingati 74 tahun Insiden 228, pemberontakan sipil pada tahun 1947 yang berakhir dengan penindasan berdarah dari pemerintah.
Acara yang digelar di Taman Memorial Perdamaian 228 ini dipimpin oleh Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文), dihadiri oleh petinggi pemerintah termasuk Perdana Menteri Su Tseng-chang (蘇貞昌), Ketua Yuan Legislatif You Si-kun (游錫堃) dan beberapa legislator yang berafiliasi dengan partai berkuasa Partai Progresif Demokratik (DPP).
Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) mengemukakan melalui sambutannya, acara peringatan ini mewakili penyesalan pemerintah atas kesalahan masa lalu, dan berfungsi sebagai pengingat bagi setiap orang untuk menghargai kebebasan yang diperoleh dengan susah payah.
Selain mengenang korban tragedi dan terus memberi dukungan pada keluarga korban, kepala negara mengajukan tiga hal penting. "Pertama, kita harus menghadapi sejarah dengan jujur; kedua, kita harus sepenuhnya melindungi hak asasi dan martabat manusia; ketiga, kita harus berpegang pada nilai dan keyakinan yang tidak dapat dipertukarkan oleh demokrasi dan kebebasan."
Insiden 228 mengacu pada penindasan berdarah terhadap aksi protes anti-pemerintah yang terjadi dari akhir Februari hingga pertengahan Mei 1947 di Taiwan. Berawal dari penggerebekan terhadap vendor yang menjual rokok selundupan pada 27 Februari, insiden tersebut menyebabkan kematian seorang pengamat, memicu pemberontakan dan penindasan dari pemerintah di seluruh Taiwan yang mengakibatkan ribuan orang hilang atau tewas.
Insiden 228 dan era Teror Putih yang menyusul kemudian menjadi simbol otoritarianisme di Taiwan.