(Taiwan, ROC) - Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan menyampaikan penyesalan atas kembali dilaksanakannya penindasan berdarah oleh militer Myanmar terhadap warga yang mengadakan unjuk rasa mendukung demokrasi, juga menyerukan pihak militer Myanmar untuk mengekang diri, mendengarkan suara rakyat, menyelesaikan perselisihan politik melalui dialog yang damai, dan secepatnya memulihkan demokrasi di Myanmar.
Pernyataan pers yang dirilis MOFA mengutip laporan tentang aksi demo besar-besaran di Kota Yangon pada tanggal 28, yang kembali berakhir dengan penindasan dari pihak militer. Ini adalah kedua kali aksi unjuk rasa pro-demokrasi di Myanmar ditindas dengan kekerasan senjata oleh militer, sejak terjadinya kudeta di mana pihak militer mengambil alih kekuasaan dan memberlakukan "keadaan darurat" 1 Februari lalu.
MOFA mengecam penggunaan kekerasan senjata terhadap massa pendemo yang damai, menegaskan bahwa kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah, sebaliknya militer Myanmar seharusnya mendengarkan suara rakyat, secepatnya mengakhiri gejolak politik di Myanmar dengan memulihkan sistem demokrasi.