(Taiwan, ROC) Presiden Tsai Ing-wen pada Kamis ini (10/12) diundang menghadiri pertemuan virtual yang digelar oleh wadah pemikir Hudson Institute untuk berceramah. Presiden Tsai Ing-wen menyampaikan, dunia kembali menghadapi pilihan besar antara kebebasan atau otoritarianisme. Beliau mengutarakan, Hongkong pernah menjadi kota termakmur yang bebas di Asia, tetapi kini terpuruk dalam ketakutan, kecemasan, dan kekacauan; Laut Tiongkok Selatan yang pernah menjadi zona bebas navigasi dan pelayaran penting internasional kini menjadi kawasan militerisasi. Xinjiang dan beberapa tempat lainnya dengan unsur keagamaan yang semakin mendapat tekanan, hal ini juga menarik perhatian serius dari dunia internasional, harapan di abad 21 yang semula didambakan kini semakin jauh dari kenyataan.
Presiden Tsai mengemukakan, pihak RRT semakin sering memberikan ancaman dan provokasi terhadap Taiwan, melepas pesawat tempur dan melintasi garis tengah selat Taiwan, meningkatkan ancaman perang. RRT meremehkan 23 juta warga Taiwan, menghalangi partisipasi Taiwan ikut dalam siding WHO, ICAO, kerjasama polisi internasional, UNFCCC, berniat jahat menyebarkan berita hoaks menghasut warga agar meragukan pemerintah, menantang kelemahan demokrasi Taiwan. Presiden Tsai ingin mengklarifikasikan, ini bukan hubungan lintas selat yang diinginkan, pihak Taiwan meminta adanya dialog lintas-selat yang konstruktif, tanpa ada premis apapun menyelesaikan perbedaan secara damai.
Presiden Tsai beranggapan, kedua belah pihak wajib saling menghargai, bersikap ramah dan memahami, mengutamakan perdamaian, inilah dasar kebijakan yang dipegang dalam pembinaan hubungan lintar selat, dengan posisi ini juga memenuhi hak kepentingan dalam perdamaian regional. Masyarakat Taiwan tidak ingin selamanya bersikap menentang, tetapi teguh membela kehidupan yang bebas.
Presiden Tsai mengatakan, “Populasi Taiwan 23 juta orang tidak ingin selamanya terus menentang, tetapi kami yakin dan teguh dengan kehidupan bebas yang akan terus kami bela. Yang kami utamakan adalah aset yang paling berharga yakni sistem demokrasi, dengan cara yang bertanggung jawab, transparan dan terbuka menangani berita hoaks.”
Presiden Tsai mengemukakan, Taiwan melalui legitimasi untuk menanggapi pengaruh politik jahat RRT, bersama AS dan mitra internasional lainnya menyampaikan ketahanan perjalanan demokrasi Taiwan, saat bersamaan menggelar pertemuan bebas beragama perdana, membentuk “komisi HAM nasional”, semua tindakan ini menunjukkan cita-cita Taiwan menjadi wilayah bebas yang berkilau.
Presiden Tsai menekankan,Taiwan telah yakin berada di jalan yang berbeda, maka dari itu wajib menghentikan doktrin kemiliteran, dalam kondisi menghadapi semakin meningkatnya ketegangan militer. Maka dari itu, di masa 4 tahun yang lalu, Presiden Tsai telah memenuhi komitmennya untuk menambah anggaran Kemenhan, tahun depan pengeluaran umum Kemenhan mencapai 14,9 milyar NTD, lebih dari 2,2% produk domestik bruto (PDB) Taiwan, Presiden Tsai yakin tren ini akan terus berlanjut. Presiden Tsai juga berterima kasih kepada AS memenuhi kebutuhan pesawat tempur terbaru untuk Taiwan, meningkatkan kekuatan tempur asimetris Taiwan, juga menekankan pembinaan hubungan Taiwan-AS sektor keamanan pertahanan, ia mengharapkan adanya pembahasan lebih lanjut dengan pihak AS terkait pertahanan nasional.