(Taiwan, ROC) - Tahun ini menandai peringatan 75 tahun penandatanganan Piagam PBB. Sidang Umum PBB tahun ini juga akan digelar pada 15 September. Menteri Luar Negeri ROC (Taiwan) Joseph Wu Jau-shieh (吳釗燮) secara khusus menulis artikel, menyerukan Indonesia dan negara lain untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam konferensi, mekanisme dan kegiatan PBB, karena dengan keberhasilan yang luar biasa Taiwan dalam menangani pandemi Covid-19, menunjukkan bahwa partisipasi Taiwan di Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat berkontribusi pada kesejahteraan manusia.
Menurut rilis pers bertanggal 7 September dari TETO atau Taipei Economic and Trade Office yaitu kantor perwakilan ekonomi dan perdagangan Taipei di Jakarta, Indonesia, Menteri Wu dikutip mengatakan bahwa tahun ini Covid-19 telah membawa krisis kesehatan masyarakat global, dan komunitas internasional perlu lebih melakukan upaya bersama dibandingkan masa sebelumnya, untuk membangun masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan yang dicita-citakan oleh PBB dan negara-negara anggotanya. Taiwan telah siap, bersedia dan mampu berpartisipasi dalam upaya bersama ini.
Menteri Wu mengatakan, jumlah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di Taiwan kurang dari 500 kasus, dan kematian hanya dalam satu digit, dan hasil penanganan pandemi sangat luar biasa. Semua ini terutama karena berbagai tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Taiwan dalam menghadapi pandemi Covid-19, dan Taiwan juga menyediakan peralatan dan bahan medis ke negara lain yang sangat membutuhkan. Hingga akhir Juni tahun ini, Taiwan telah menyumbangkan 51 juta masker medis, 1,16 juta masker N95, 600.000 baju isolasi, 35.000 termometer dahi dan berbagai peralatan medis lainnya ke lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia. Taiwan juga bekerja sama dengan negara-negara demokratis yang memiliki gagasan yang sama untuk mengembangkan alat rapid test, obat-obatan dan vaksin untuk Covid-19.
Menteri Wu menyatakan bahwa dalam "Deklarasi untuk memperingati 75 tahun berdirinya PBB", pemerintah dan kepala negara sepakat bahwa hanya solidaritas global yang dapat secara efektif mengakhiri pandemi. Oleh karena itu, PBB harus lebih inklusif dan tidak boleh mengabaikan negara mana pun termasuk Taiwan dan siapa saja.
Namun kenyataannya, Taiwan terus menerus dikesampingkan dari sistem organisasi PBB. Wu melanjutkan, Republik Rakyat Tiongkok terus menekan PBB untuk secara keliru menggunakan Resolusi 2758 yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1971 sebagai dasar hukum untuk memblokir partisipasi Taiwan di PBB. Faktanya, resolusi tersebut tidak membahas masalah perwakilan Taiwan di PBB, juga tidak menyebutkan bahwa Taiwan adalah bagian dari RRT.
Taiwan tidak pernah menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok (China), tegas Wu, Presiden dan anggota kongres Taiwan dipilih langsung oleh rakyat Taiwan, yang sama sekali berbeda dari Tiongkok yang tidak demokratis. PBB harus mengakui bahwa hanya pemerintah yang dipilih melalui prosedur demokrasi di Taiwan yang dapat mewakili 23,5 juta rakyat Taiwan, dan Republik Rakyat Tiongkok tidak memiliki hak untuk berbicara atas nama Taiwan.