(Taiwan, ROC) - Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) menyampaikan suatu pidato dan menjawab pertanyaan melalui konferensi video dalam acara tahunan Dialok Pemimpin Indo-Pasifik (Indo-Pacific Leaders Dialogue) yang diorganisasi oleh Australian Strategic Policy Institute (ASPI) pada hari Kamis, 27 Agustus, pukul 13:00 siang.
Juru Bicara Kantor Kepresidenan Kolas Yotaka mengemukakan, pidato Presiden Tsai akan menyenggol tanggung jawab bersama Taiwan dan Australia untuk menjaga "perdamaian" dan "kemakmuran" sebagai pemain penting di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut Kolas, Tsai sempat membahas tentang upaya saling berbagi perlengkapan dan informasi yang akan membantu kedua negara melewati dampak gelombang pertama pandemi Covid-19.
Presiden Tsai, tutur Kolas, juga sangat menantikan dimulainya negosiasi Perjanjian Kooperasi Ekonomi (Economic Cooperation Agreement/ECA) antara Taiwan dan Australia, yang dipastikan akan menguntungkan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan kedua negara.
Berbicara tentang perjuangan demokrasi di Hong Kong, kepala negara menekankan bahwa Taiwan sangat mendukung rakyat Hong Kong dalam "mengejar kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia," serta upayanya menentang Undang Undang Keamanan Nasional Hong Kong, yang dilukiskan Tsai sebagai ancaman bagi perdamaian di Laut Tiongkok Selatan.
Usai menyampaikan pidato, Presiden Tsai menjawab lima pertanyaan dari ASPI, termasuk tentang "kebijakan satu Tiongkok" dan potensi konflik antar selat, menegaskan bahwa gagasan Beijing tentang "satu Tiongkok" pada dasarnya adalah "satu negara, dua sistem" yang tidak dapat diterima oleh rakyat Taiwan.
Taiwan adalah negara demokratis, tukas Tsai, dan warganya menikmati otonomi politik dan menolak segala upaya untuk meminimalkan status internasionalnya, termasuk dari Republik Rakyat Tiongkok yang sama sekali tidak memiliki yurisdiksi atas Taiwan.