(Taiwan, ROC) – Setelah kisah seorang siswi Hsu Zhih-han menulis surat dan ditayangkan dalam media massa, baik Taiwan dan Indonesia, pada akhirnya berhasil menemukan kembali pengasuhnya yang berasal dari Indonesia, yang telah kehilangan kontak selama 15 tahun. Kisah pun berlanjut dan menjadi sebuah program kolaborasi berbagai media, instansi dan juga organisasi masyarakat yang ada. Kali ini, tersebut sebuah kisah seorang pemuda berusia 27 tahun, William Jan, juga tengah mencari pengasuhnya yang juga berasal dari Indonesia, dimana telah 17 tahun lamanya tidak pernah bertemu.
Tidak lama setelah William Jan dilahirkan, dirinya hanya mengingat ada seorang pengasuh asal Indonesia yang kerap dipanggil E-DAM oleh dirinya, dan E-DAM sendiri mengasuhnya hingga kelas 4 SD. Tali persahabatan yang terjalin antara William dan E-DAM, sudah bagaikan sanak saudara sendiri, bahkan mereka berdua sama-sama menyukai buah jeruk. Namun tanpa diduga, suatu ketika saat William Jan pulang sekolah, sembari mengambil jeruk dan menuju ke tempat les, sang guru memberitahukan jika E-DAM telah kembali pulang ke Indonesia. William Jan menyebutkan jika perpisahan tersebut terus menjadi bayang-bayang psikologis bagi dirinya.
William Jan mengatakan, “Setelah itu, saya kerap mengikuti kelas bimbingan psikologis, karena rasa yang ada sangat amat besar, bagaikan hati yang dikorek sebagian. Bahkan saat menonton film, ada bagian yang menunjukkan perpisahan, maka emosional saya juga menjadi naik, meneteskan air mata dan kadang tidak dapat terbendungi.”
Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun, William Jan barulah dapat memahami alasan mengapa E-DAM pulang kembali ke negaranya. Ia menyebutkan bahwa ibunya sendiri adalah keturuan Tionghwa Indonesia, setelah dirinya dilahirkan, nenek William Jan yang berada di Indonesia mengatur E-DAM untuk ke Taiwan dan merawat dirinya. Tanpa terasa, waktu bergulir hampir mencapai 10 tahun, dan kemudian E-DAM kembali ke tanah air. Sebelumnya, William Jan berpikir jika E-DAM mungkin tidak mendapatkan upah gaji, dan membantu melaporkannya kepada instansi terkait, sehingga berakhir dengan pemulangan E-DAM.
Kini William Jan hanya memiliki 2 lembar foto bersama dengan E-DAM. Ia berharap suatu hari dapat bertemu kembali dengan “Bunda E-DAM”. Mengetahui ada kasus penemuan yang berhasil tercapai, William Lai pun mencoba untuk dapat kembali menemukan sang bunda yang telah berpisah 17 tahun silam.