(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 2 Maret 2020, Chen Zhang-yuan (陳章遠) Ketua The Federation of Alumni Associations of Taiwan Universities, Malaysia (FAATUM) menyampaikan, dikarenakan wabah epidemi COVID-19 saat ini, terdapat 60 tenaga pengajar asal Taiwan dan anggota Komite Penerimaan Mahasiswa Asing tidak dapat memasuki kawasan Sarawak.
Media Sin Chen Daily mewartakan, dalam upacara pembukaan Pameran Pendidikan Tinggi Taiwan 2020 Sarawak yang digelar pada tanggal 2 Maret 2020, rencananya akan dihadiri oleh 60 tenaga pengajar dan anggota Komite Penerimaan Mahasiswa Asing.
Namun, pada tanggal 28 Februari 2020, pemerintah negara bagian Sarawak merilis larangan bagi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk memasuki kawasan mereka. Larangan tersebut harus berimbas pada tidak dapat masuknya para anggota ke kawasan Miri untuk mengikuti Pameran Pendidikan Tinggi tersebut.
Ia menyampaikan, daerah epidemi terparah akibat wabah COVID-19 adalah Wuhan, RRT. Dan larangan tersebut telah ditetapkan bagi kawasan RRT. Namun demikian, pemerintah Sarawak telah keliru dengan mendaftarkan Taiwan sebagai salah satu bagian dari RRT. Menanggapi kekeliruan tersebut, Chen Zhang-yuan menyatakan kekecewaannya.
Pameran Pendidikan Tinggi kali ini diselenggarakan oleh FAATUM bekerja sama dengan Alumni Sarawak di Taiwan STGA. Pameran ini digelar pada tanggal 2 Maret hingga 3 Maret 2020 di Miri, dengan mengundang 50 institusi perguruan tinggi Taiwan.
Awalnya, lebih dari 100 delegasi dari universitas di Taiwan terbang ke Siri dari Sabah dan Kuala Lumpur. Penerbangan mereka pun diatur secara berkelompok dan dibagi ke dalam 2 jadwal keberangkatan, masing-masing 29 Februari 2020 dan 1 Maret 2020. Tanpa diduga, penerbangan mereka harus mendapat gangguan, setelah pemerintah negara bagian mengeluarkan instruksi baru.
Pada saat yang sama, 4 kelompok para pengajar Taiwan yang akan mengikuti pameran tersebut harus menerima perlakuan yang sama. Keempat kelompok tersebut terbang dari Kuala Lumpur menuju Miri pada tanggal 29 Februari 2020. Akibat penolakan dari pihak imigrasi setempat, mereka pun harus terbang kembali ke Kuala Lumpur.
Pada awal bulan Februari, pemerintah Sabah dan Sarawak telah mengumumkan larangan bagi wisatawan RRC untuk memasuki kawasan mereka. Selain itu, para pelancong yang dalam waktu dekat ini pernah berkunjung ke RRC, juga dilarang untuk masuk ke kawasan timur Negeri Jiran tersebut. Dengan kata lain, untuk saat ini wisatawan RRC hanya diperbolehkan memasuki kawasan semenanjung barat Malaysia.