(Taiwan, ROC) – Semakin mendekati masa pemilu 2020, kondisi suhu politik juga semakin menghangat. Dari isu yang beredar di kalangan masyarakat umum, tersiar kabar bahwa Mantan CEO Foxconn Terry Gou, memiliki niat keinginan untuk mencari Walikota Taipei Ko Wen-je sebagai pasangan untuk melaju dalam pemilu presiden mendatang, diharapkan pasangan “Gou-Ko” dapat menarik banyak surat suara. Walikota Taipei Ko Wen-je pada hari Jumat tanggal 9 Agustus saat menerima wawancara dari media mengutarakan bahwa jika hanya menjadi kandidat wakil presiden, maka dirinya lebih memilih untuk tetap berada pada posisi sebagai Walikota Taipei saja, dan tidak perlu memusingkan masalah lainnya.
Hingga saat ini, berita yang terus menghangat dan beredar di khalayak umum adalah perintis perusahaan Foxconn, Terry Gou, Mantan Kepala Yuan Legislatif Wang Jin-pyng dan Walikota Taipei Ko Wen-je, yang akan ikut melaju dalam pemilu presiden 2020 mendatang, dan jika ketiga calon kandidat tersebut mampu menjalin kerjasama maka tentu akan memberikan dampak pengaruh yang sangat besar dalam dunia perpolitikan dan pemilu mendatang.
Berkenaan dengan rumor bahwa tim sukses Terry Gou meragukan jika Walikota Taipei Ko Wen-je menolak untuk menerima tawaran sebagai kandidat wakil presiden, maka akan sangat sulit untuk menarik surat suara dari para fans setia Ko Wen-je. Oleh sebab itu, banyak yang mengharapkan jika dapat terbentuk sebuah paduan antara Gou dan Ko. Untuk itu, Ko Wen-je segera memberikan pernyataan bahwa jika hanya dipilih untuk menjadi kandidat wakil presiden, maka dirinya lebih memilih untuk tetap bertahan sebagai Walikota Taipei, sehingga tidak merepotkan banyak pihak. Namun Ko Wen-je juga menyampaikan bahwa dalam pemilu 2020 mendatang, ada 2 kandidat yang baru saja terpilih sebagai walikota, dan menjadi pilihan banyak orang untuk melaju bersaing dalam pemilu presiden, hal ini tentu bukan sesuatu yang lumrah dalam perpolitikan sebuah negara yang normal.
Ko Wen-je mengatakan, “Satu hari hanya ada 24 jam, kecuali jika Anda menganggap bahwa pemilu hanya berupa sebuah slogan ideologi semata, hanya mendaftarkan diri dan tidak benar-benar maju untuk bersaing dalam pemilu, maka ini menjadi sebuah hal yang aneh. Pada umumnya, untuk yang ikut dalam pemilu maka berharap untuk bisa menang, jika hanya berupa sebuah simbol semata, atau hanya berupa sebuah ide, sebuah harapan saja, maka ini merupakan hal yang sangat tidak masuk akal. Jika benar-benar ingin ikut dalam pemilu, maka harus benar-benar gigih dalam bersaing, saya mohon, satu hari hanya ada 24 jam saja, bagaimana mungkin bagi seorang walikota dapat membagi waktunya, sembari menjalankan tugas selaku walikota dan sembari melakukan hal yang lainnya, maka semua ini merupakan hal yang sangat kompleks serta rumit.”
Ko Wen-je juga menyampaikan bahwa terkait berita bahwa dirinya ingin membentuk partai baru, tentu telah menimbulkan suara pro dan kontra, ada yang beranggapan bahwa dengan demikian maka akan kehilangan keunikannya sebagai kandidat non partai, namun jika ingin mendapatkan kesempatan maju melangkah ke dalam kongres, maka harus membentuk sebuah partai.
Ko Wen-je mengatakan, “Dalam kondisi kita semua berada di bawah payung hukum UUD, maka jika Anda ingin masuk ke dalam kongres, yang mana anggota legislatif umum hanya berjumlah 34 orang, maka Anda tetap membutuhkan kekuatan sebuah partai, barulah berkemungkinan meraih posisi tersebut, oleh sebab itu dalam pondasi yang ada saat ini, mari pikirkan kembali langkah apa yang terbaik yang dapat diambil. Membentuk partai tentu memicu pandangan yang berbeda di antara sesama, ada yang pro dan ada yang kontra, maka semua orang sebaiknya menghilangkan prasangka yang tidak-tidak terlebih dahulu.
Selain itu, berkenaan dengan menurunnya jumlah fans dalam akun media sosial, apakah dikarenakan serangan netizen lainnya? Ko Wen-je menjawab bahwa setelah menerima uang, maka tentu tidak mungkin meninggalkan tugas yang diberikan, terkadang diserang oleh netizen merupakan sebuah hal yang lumrah dan wajar.