History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Penyematan Nama Taiwan di Karya Seni LSE Menimbulkan Kontroversi

  • 05 April, 2019
  • 尤繼富
Penyematan Nama Taiwan di Karya Seni LSE Menimbulkan Kontroversi
Penyematan Nama Taiwan di Karya Seni LSE Menimbulkan Kontroversi

(Taiwan, ROC) --- London School of Economic and Political Science (LSE) pada bulan Maret lalu, diketahui menempatkan sebuah hasil karya seni di dalam area universitas mereka. Karya seni yang diberi tema “The World Turned Upside Down” ini, menghadirkan bentuk bola dunia dalam ukuran besar. Dalam bola dunia tersebut tercantum dengan jelas nama-nama negara, kota dan perbatasan. Pemberian nama negara dan kota oleh LSE ini ternyata mengundang perhatian khalayak luas dan mendengungkan kabar yang kontroversial. Oleh karena itu, pihak universitas mengundang mahasiswa asing, guna untuk membahas pemecahan masalah tersebut. Pada hari Rabu waktu setempat, LSE mengundang mahasiswa asal Taiwan, Daratan Tiongkok, Israel dan Palestina, untuk hadir dalam rapat diskusi tersebut. Berita ini pun terdengar santer di Taiwan, dikarenakan LSE merupakan almamater dari Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文).  

Pada awalnya pihak universitas dan seniman Mark Wallinger telah setuju untuk menyematkan nama-nama negara, sesuai dengan peta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun setelah rapat pembahasan berakhir, nama Republik China, Taiwan, harus dihapus. Warna dari huruf Ibukota Taipei yang semula bewarna merah, diubah menjadi warna hitam. Dengan diubahnya warna pada huruf Taipei, menjadi simbol bahwa Kota Taipei setara dengan kota-kota di Daratan Tiongkok. 

Setelah mendapat kabar ini, Kementerian Luar Negeri (MOFA) langsung menghubungi Kantor Perwakilan di Inggris untuk melakukan aksi protes. Tindakan dari MOFA tersebut, juga mendapat dukungan dari mahasiswa asing asal Taiwan, yang tengah menempuh studi di Britania Raya.

Dikabarkan 1.600 orang akan melakukan aksi protes, mereka akan meminta warga sekitar untuk mengekspresikan tanggapan mereka, melalui jejaring media sosial. Salah seorang mahasiswa Taiwan yang tengah menempuh gelar doktor di King’s College London, Li Bai-yi (李柏毅) pada Kamis (4/4) membentuk sebuah petisi. Dalam kurun waktu 16 jam, petisi yang didirikan di media sosial Facebook ini, berhasil mendapat persetujuan 1.600 orang. Melalui aksi protes tersebut, mereka ingin memberitahukan kepada dunia, bahwa Taiwan bukanlah bagian dari Daratan Tiongkok. 

Perwakilan dari Parlemen Taiwan-Inggris, Nigel Evans dan Lord Rogan, pada Kamis (4/4) mengirimkan surat kepada Rektor LSE, Dame Minouche Shafik. Dalam surat tersebut, mereka meminta universitas untuk memperhatikan isu ini, dan mengubah warna yang seharusnya disematkan atas Taiwan.

Dalam surat tersebut tertulis bahwa pihak LSE terpaksa harus menyetarakan Taiwan dengan Daratan Tiongkok, setelah mendapat protes keras dari mahasiswa asing asal Daratan Tiongkok. Hal ini dinilai sebagai hal yang sangat bertolak belakang dan bertentangan dengan kebijakan dari otoritas London.

Melalui surat tersebut, tertulis bahwa Taiwan tidak pernah menjadi bagian dari Daratan Tiongkok. Wakil Ketua Divisi Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri Inggris, Mark Field pada tanggal 10 Juli 2018 lalu, juga telah mengemukakan bahwa kebijakan otoritas Inggris menyebut nama Taiwan sebagai “Taiwan”. Hal ini juga terlihat jelas dalam setiap situs internet dari berbagai lembaga pemerintahan Britania Raya tersebut. 

Nigel Evans dan Lord Rogan kembali meminta pihak LSE untuk tetap menggunakan keputusan semula, yakni tidak melakukan revisi apapun terhadap nama Taiwan. Mereka juga berharap sudah sepatutnya, karya seni tidak disusupi oleh unsur politik dan melindungi nilai kebebasan berekspresi dari semua pihak.

Komentar

Terbarumore