(Taiwan, ROC) --- Perdana MenteriSu Tseng-chang (蘇貞昌) baru-baru ini mengemukakan jika perang antar lintas selat terjadi, maka ia akan berjuang meski hanya dibekali segagang sapu. Perkataan ini langsung menarik perhatian dari masyarakat luas. Belum lagi dengan pernyataan Presiden Tsai Ing-wen yang berulang kali menyinggung isu perang di Selat Taiwan, membuat masyarakat luas khawatir akan semakin menegangnya hubungan antar selat. Perdana Menteri Su Tseng-changsaat menghadiri rapat interpelasi di Yuan Legislatif pada Selasa (26/2) kembali mengemukakan bahwa perang tetap didengungkan oleh pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler, meskipun perjanjian perdamaian telah ditandantangani oleh Mantan Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain. Selain itu, sejarah juga mencatat, perang yang dilancarkan Jepang atas Daratan Tiongkok tetap terjadi meskipun Wang Jing-wei (汪精衛) telah menandatangani perjanjian perdamaian. Daratan Tiongkok diketahui hingga hari ini belum melepaskan kekuatan militernya atas Taiwan dan Ketua Partai Kuomintang (KMT) Wu Den-yih (吳敦義) telah menganjurkan untuk melaksanakan perjanjian damai. Jika makna dari perjanjian ini gagal, maka negara dan masyarakat harus turut dikorbankan.
Perdana Menteri Su Tseng-changmenekankan bahwa hanya dengan tekad melindungi negara dan bumi pertiwi-lah yang dapat membuat musuh-musuh asing tidak berani mencemooh atau bahkan menyulut peperangan. Menilik dari kisah sejarah masyarakat Britania Raya, yang pernah mengumandangkan “Lindungi Negara Walau Hanya dengan Segagang Sapu”, pasukan Nazi Jerman berhasil ditaklukan. Su Tseng-changmelanjutkan semangat yang dikobarkan masyarakat Inggris patut menjadi contoh bagi masyarakat Taiwan.
Su Tseng-changmengatakan, “Saat ini masyarakat Taiwan telah menunjukkan tekad mereka untuk membela negara. Namun ada segelintir orang yang pesimis dan dengan Daratan Tiongkok bernyanyi bersama. Hal demikian yang paling ditolak oleh masyarakat Taiwan”.
Pernyataan dari Perdana Menteri ditanggapi kembali oleh anggota legislator Partai Kuomintang (KMT) Hsu Chih-jung (徐志榮). Ia menanyakan apakah perjanjian perdamaian memiliki pengertian yang sama dengan menyerah? Hsu Chih-jung menyarankan agar PM lebih memprioritaskan jalan perdamaian, dibandingkan mengeluarkan pernyataan yang dinilai dapat memperburuk suasana.
Su Tseng-changkembali mengemukakan perdamaian menjadi tujuan utama yang harus dicapai. Namun jika perjanjian perdamaian hanya akan berujung pada peperangan berikutnya, maka masyarakat luas harus membayar mahal.
Anggota legislator Partai KMT Wang Yu-min (王育敏) mengutip data jajak pendapat dari Duke University pada tahun 2017, yang menguak bahwa hanya ada 10% penduduk Taiwan yang akan melawan, jika perang antar selat terjadi. Mendengar pernyataan ini, PM Su Tseng-changkembali menjawab, “Jika benar demikian, apakah kita harus menyerah?”
PM Su Tseng-changmelanjutkan bahwa fokus dari seluruh argumen yang berkembang di masyarakat adalah tekad untuk meningkatkan perlindungan terhadap tanah air. Namun yang tidak habis diapiir, mengapa tidak pernah mengkritisi tindakan Daratan Tiongkok yang berulang kali menekankan tidak akan melepaskan kekuatan militernya atas Taiwan. Wang Yu-min lebih lanjut mengomentari langkah menentang yang kerap kali didengungkan oleh partai berkuasa. Su Tseng-changkembali membantah dan menekankan hubungan lintas selat harus tetap terjaga dan pemerintah harus bertindak sebagai pelindung negara.