(Taiwan - ROC) -- Wabah epidemic Asfivirus (African swine fever virus) semakin merebak di Daratan Tiongkok, berdasarkan laporan Daratan Tiongkok pada World Organization for Animal Health (OEI), terdapat 95 kasus tersebar di 34 provinsi. Dikarenakan cukup banyaknnya perputaran di antar Selat Taiwan, pemerintah Taiwan memperketat penjagaan jangan sampai Asfivirus masuk ke Taiwan, untuk itu pada tanggal 18 Desember membentuk Pusat Penanggulangan Bencana yang mana ini merupakan perdana mendirikan pusat bantuan penanggulangan bencana sebagai langkah pencegahan sebelum wabah epidemi hewan masuk ke Taiwan.
Pencegahan epidemi Asfivirus dijadwalkan lebih cepat, Dewan Pertanian menargetkan apabila Asfivirus lebih cepat menyerang Taiwan bila perlu melakukan pembantaian babi untuk mencegah penyebaran wabah, strategi terkait telah ditetapkan. Berdasarkan rencana, langkah awal Dewan Pertanian apabila ditemukan perternakan hewan yang terjangkit Asfivirus, maka pergerakan perternakan terkait hingga radius 3 km akan dipantau paling sedikit 14 hari, dan melakukan pemusnahan sesuai dengan situasi dari masing-masing kota dan kabupaten baik itu dengan penguburan, dengan penggunaan bahan kimia dan lain sebaginya. Dalam keadaan darurat diperkirakan Taiwan akan memusnahkan 1,59 juta hewan dengan cara penguburan dan setiap harinya sekitar 15 ribu hewan dengan penggunaan bahan kimia.
Pusat Penanggulangan Bencana menanggulangi wabah Asfivirus telah terbentuk, Perdana Menteri William Lai juga secara khusus hadir dalam rapat laporan antar kementerian. Selain menginstruksikan Dewan Pertanian untuk membagi pencegahan dalam berbagai tingkatan agar pencegahan memerangi wabah dapat berjalan lebih lama, selain itu juga meminta Dewan Pertanian untuk melakukan simulasi pecegahan wabah di pemerintah pusat maupun daerah dan mengatur jadwal pemeriksaan, jangan sampai ada yang terlewatkan.
Perdana Menteri William Lai mengatakan,“Setelah terbentuknya Pusat Penanggulanan Bencana maka pemerintah pusat dan daerah lebih memiliki dasar hukum bagi masyarakat sosialnya dan bersama-sama melakukan tugas pencegahan. Untuk itu juga meminta Dewan Pertanian mengatur jadwal perjalanan termasuk bea cukai, peternakan dan lainnya, agar saya sendiri dapat memantau langsung, sehingga pelaksanaan pencegahan dapat lebih maksimal.”
Pencegahan Asfivirus, perbatasan merupakan batas paling penting, Dewan Pertanian telah merevisi hukum dasarnya, dari yang awalnya mereka yang membawa daging dari daerah terjangkit wabah Asfivirus dikenakan sanksi sebesar NTD50 ribu untuk pelanggaran pertama dan 1 juta apabila melanggar sebanyak 3 kali, tetapi 4 hari lalu bukannya mengurangi melainkan memperberat sanksi yang dikenakan, mulai tanggal 18 tengah malam bagi mereka yang melanggar akan dikenakan denda untuk pertama kali sebesar 200 ribu, kedua kali sebesar 1 juta