(Taiwan, ROC) -- Partai berkuasa Partai Progresif Demokratif yang mengalami kekalahan telak dalam pemilu 9 in 1, Presiden Tsai Ing-wen mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua partai dan seiringan dengan itu mengadakan “tour keliling dengar” untuk mendengarkan suara dari berbagai tingkatan masyarakat tiap-tiap kota dan kabupaten.
Presiden Tsai hari Rabu (28/11) dalam media sosial Facebooknya mengungah “sepucuk surat untuk anggota partai” yang mana dalam artikel tersebut Presiden mengemukakan setelah kekalahan dalam pemilu beliau telah mengatakan yang paling harus berubah adalah dirinya, untuk itu beberapa hari ini ia mendengarkan penjelasan dari semua anggota partai untuk melakukan instrospeksi diri, berharap bisa mendapatkan pendapat dan masukan agar dapat dijadikan acuan introspeksi diri dari kekalahan ini.
Presiden menyampaikan “reformasi tidak bersalah” dalam pemilu kali ini pemerintah dengan kekuatan yang besar memberitahukan masyarakat atas penting dan tekad dari reformasi tetapi dalam proses reformasi telah menimbun ketidakpuasan masyarakat yang mana ini menghantam semangat DPP, terlebih pemerintah masih belum dapat memberikan dampak positif reformasi pada rakyak ; dalam langkah meraih suatu nilai dan tidak memperhatikan apakah masyarakat dapat mengikuti langkah ini ; langkah mengejar perkonomian, sumber energy, transformasi polusi dan lainnya sementara tidak membantu dan peduli pada kaum rentan yang tidak dapat mengikuti langkah transformasi ini. Selain itu pemerintah dalam menetapkan target transformasi jangka panjang mengabaikan perasaan yang dirasakan masyakrakat, bersamaan dengan itu juga menggunakan bahasa pakar dalam menjelaskan kebijakan nasional dan tidak melakukan komunikasi dengan masyarakat sehingga mengakibatkan hasil seperti ini, ditambah lagi dalam pelaksanaan dan promosi kebijakan pemerintah, tim pelaksana tidak memikirkan hal-hal terkait dengan baik sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat, perekonomian yang tidak terasakan, penggunaan personil yang kurang tepat dan unsur-unsur lainnya yang sehari demi sehari, sebulan demi demi sebulan menumpuk ketidakpuasan, inilah yang menjadi penyebab perasaan rakyat Taiwan terhadap pemerintahan sekarang ini.
Tsai Ing-wen lebih lanjut mengemukakan, ia lebih memilih diam atau ambiguitas pada isu perbedaan nilai untuk mengurangi konflik. Meskipun ia telah menetapkan kebijakan namun bukan berdiri di garis paling depan sehingga semakin memecahkan masyarakat sosial, pendukungnya tidak mengetahui bagaimana membela sedangkan lawan semakin keras dan keras, mereka terjebak ditengah-tengah berupaya menyeimbangkan dari kedua sisi tetapi mereka malah diserang oleh kedua belah pihak. Selain itu selama dua tahun ini banyak masalah yang dihadapi, ia berharap dapat memiliki ruang waktu untuk berkomunikasi dengan mereka yang memiliki pendapat yang berbeda, tetapi penundaan mengakibatkan ketidaktoleran dan ketidakpuasan rakyat serta menghilangkan antusias dari pendukung mereka bahkan telah menjerumuskan perasaan dari selurh Taiwan.
Kepala negara menyampaikan, era internet membawa perubahan besar dengan tahun 2016 saat ia terpilih sebagai presiden, tetapi cara komunikasi pemerintah dan masyarakat tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan. Pemerintah harus melakukan instrospeksi, politik harus jelas, harus memiliki ritme agar rakyat dapat merasakan bahkan sebenarnya politik merupakan jawabannya.