(Taiwan, ROC) --- 8 warga Taichung diduga menjadi korban penipuan setelah menerima tawaran untuk pergi berwisata gratis ke Thailand. Setelah tiba di Thailand, mereka semua dijual ke kamp penipuan di Myanmar.
Tiga wanita berhasil ditebus dan kembali ke Taiwan dengan membayar NT$300.000, sementara 5 orang muda lainnya dijual kembali karena dianggap memiliki nilai tinggi untuk dimanfaatkan dalam aksi penipuan. Hingga kini nasib mereka tidak diketahui.
Dilansir dari media lokal Taiwan, Liberty Times Net (LTN), pada hari keberangkatan, kelompok ini didampingi anggota sindikat penipuan. Setelah masuk Thailand, mereka dipaksa ke Myanmar. Tiga wanita yang berhasil kembali mengungkapkan bahwa mereka diminta untuk mengirim foto melalui Telegram saat di Bandara Taoyuan.
Menurut kesaksian salah satu korban, setibanya di Myanmar, mereka dijaga dan dikendalikan oleh orang-orang berkewarganegaraan Tiongkok dengan manajemen yang sangat ketat. Jika berbicara dalam bahasa Taiwan atau menunjukkan ketidakpuasan, mereka akan dipukul di kepala, diancam, bahkan dihajar.
Kemudian para korban pun mulai dipisah-pisah. Sindikat penipuan melakukan penyaringan terhadap 8 orang tersebut. Lima orang yang masih muda dan bertenaga kuat dibawa untuk wawancara dan segera dijual ke kamp penipuan setempat.
Sedangkan, tiga wanita lainnya dianggap tidak memiliki nilai manfaat, sehingga keluarga mereka diminta untuk membayar tebusan. Tanpa basa-basi, salah satu anggota sindikat penipuan langsung menyampaikan jika biaya (tebusan) per orang adalah NT$300.000.
Di bawah pengawasan sindikat, para wanita tersebut dipaksa menghubungi keluarga mereka di Taiwan untuk mengumpulkan uang. Mereka hanya bisa melihat dengan putus asa saat 5 orang lainnya dibawa pergi, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Lima anak muda tersebut dipaksa masuk ke dalam bangunan yang disinyalir adalah markas inti sindikat penipuan. Setiap hari mereka harus berpura-pura sebagai ahli investasi cryptocurrency untuk menipu orang asing, bahkan harus melakukan penipuan dengan berpura-pura menjadi pasangan sejoli dalam video call.
Semua ponsel disimpan oleh sindikat untuk mencegah pelacakan lokasi dan komunikasi. Seorang pria yang ketahuan diam-diam menggunakan ponsel yang diberikan sindikat untuk menghubungi pacarnya di Taiwan dipukuli dengan keras dan akhirnya dikurung di ruang gelap hingga kehilangan kontak.
Hingga saat ini, kelima orang tersebut masih belum ada kabar.