(Taiwan, ROC) -- Pada Selasa hari ini (27/5), Presiden Lai Ching-te (賴清德) menerima Delegasi Anggota Parlemen Eropa yang datang berkunjung ke Taiwan. Beliau mengucapkan terima kasih atas resolusi dukungan untuk Taiwan yang disahkan Parlemen Eropa bulan lalu, dan menegaskan kembali komitmen kuat Uni Eropa dalam mempertahankan status quo Selat Taiwan.
Kepala Negara berharap hubungan Taiwan dengan Uni Eropa akan terus menguat dan berkontribusi pada demokrasi dunia. Anggota Parlemen Eropa juga menekankan bahwa di tengah berbagai tantangan dunia saat ini, negara-negara demokratis harus bersatu dan bekerja sama untuk membela nilai kebebasan dan demokrasi.
Delegasi Parlemen Eropa berkunjung ke Taiwan semenjak 25 Mei hingga 30 Mei 2025. Delegasi ini termasuk anggota Parlemen Eropa Reinis Pozņaks, Beatrice Timgren, dan penasihat kebijakan Parlemen Eropa Jens Vornøe. Ini merupakan kunjungan kedua delegasi Parlemen Eropa ke Taiwan tahun ini.
Dalam pertemuan di Istana Kepresidenan pada Selasa hari ini (27/5), Presiden Lai menyampaikan sambutan hangat dan terima kasihnya kepada Reinis Pozņaks dan Beatrice Timgren yang baru terpilih tahun lalu, serta telah memilih Taiwan sebagai tujuan kunjungan pertama mereka, menunjukkan dukungan nyata untuk Taiwan.
Kepala Negara juga mengucapkan terima kasih kepada Parlemen Eropa atas perhatian berkelanjutan mereka terhadap perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan.
Misalnya, bulan lalu Parlemen Eropa mengesahkan resolusi laporan implementasi mengenai Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Bersama (CFSP) dan Kebijakan Keamanan dan Pertahanan Bersama (CSDP) Uni Eropa, yang menegaskan kembali komitmen kuat dalam mempertahankan status quo di Selat Taiwan.
Taiwan sangat berterima kasih atas seruan kuat Parlemen Eropa untuk terus bekerja sama erat dengan Taiwan.
Presiden Lai mengatakan, "Parlemen Eropa mengecam tindakan provokasi militer berkelanjutan Tiongkok terhadap Taiwan, dan lebih menekankan bahwa Taiwan adalah mitra demokratis kunci UE di kawasan Indo Pasifik. Mereka mendesak UE dan negara-negara anggotanya untuk terus bekerja sama erat dengan Taiwan dan memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi. Saya ingin sekali lagi mengucapkan terima kasih atas suara dukungan Parlemen Eropa untuk Taiwan."
Kepala Negara juga menyebutkan bahwa tahun lalu Menteri Ekonomi J.W. Kuo (郭智輝) memimpin delegasi ke Eropa, menciptakan dialog tingkat tinggi sektor perdagangan antar Taiwan dengan Uni Eropa pertama secara langsung.
Mengingat Uni Eropa adalah sumber investasi asing terbesar Taiwan, dan kedua pihak sangat menitikberatkan bidang-bidang seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, dan energi hijau.
Beliau berharap hubungan Taiwan-UE akan semakin erat, dengan bidang kerja sama yang akan lebih beragam, bersama-sama membangun rantai pasokan demokratis yang lebih tangguh, dan berkontribusi pada perkembangan demokrasi global.
Beliau juga berharap kedua anggota parlemen Reinis Pozņaks dan Beatrice Timgren akan terus menggunakan pengaruh mereka di Parlemen Eropa untuk bersama-sama mendukung penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Taiwan dengan UE, yang akan memperkuat keamanan ekonomi dan daya saing internasional kedua belah pihak.
Dalam pidatonya, Reinis Pozņaks menyatakan bahwa dia berasal dari Latvia, dan meskipun secara geografis jauh dari Taiwan, situasi kedua negara sangat mirip.
Mereka sangat memahami perasaan rakyat Taiwan, karena Latvia juga memiliki tetangga yang sangat besar yaitu Rusia, yang mengklaim Latvia sebagai milik mereka dan memulai perang di Eropa dengan menggunakan berbagai cara termasuk intervensi berita palsu.
Reinis Pozņaks mengatakan, dunia saat ini penuh dengan berbagai tantangan, dan dia menyerukan agar negara-negara demokratis di seluruh dunia bersatu dan bekerja sama untuk membela kebebasan dan demokrasi, serta berupaya mempertahankan dunia yang berdasarkan pada tatanan hukum.
Beatrice Timgren menunjukkan bahwa dari perang Rusia-Ukraina, dunia dapat belajar bahwa negara-negara demokratis harus saling mendukung, karena banyak negara Eropa yang tampil mendukung Ukraina dan memberikan berbagai bantuan, sehingga Rusia tidak bisa dengan mudah menguasai Ukraina.
Dia menekankan pentingnya negara-negara demokratis dunia mengembangkan hubungan persahabatan, dan semua harus bersatu untuk bersuara, yang juga merupakan bentuk pertahanan terhadap Tiongkok dan Rusia.