(Taiwan, ROC) -- Presiden Lai Ching-te (賴清德) telah menjabat selama satu tahun. Sepanjang tahun ini, hubungan Taiwan-Amerika Serikat (AS) terus berkembang di atas landasan yang kokoh. Meskipun dipengaruhi oleh dinamika internasional seperti perang Rusia-Ukraina dan kebijakan tarif AS, para akademisi menilai hubungan Taiwan-AS tetap menunjukkan prospek yang hati-hati, tetapi optimis.
Dengan strategi AS yang bergeser dari Eropa menuju Asia, para akademisi juga menilai bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menerapkan strategi diplomasi menyeluruh atau mengembangkan kerja sama “mini multilateral” di kawasan, sebagaimana yang dikemukakan Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍). Strategi ini sejalan dengan tujuan strategis Indo-Pasifik AS dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Satu Tahun Masa Jabatan Presiden Lai, Hubungan Taiwan-AS Tetap Optimis dengan Sikap Hati-hati
Presiden Lai Ching-te (賴清德) telah menjabat selama satu tahun, dan hubungan Taiwan-AS tetap menjadi prioritas utama dalam urusan luar negeri. Setelah mantan Presiden AS, Donald Trump kembali ke Gedung Putih, Negeri Paman Sam telah membuat sejumlah keputusan penting dalam kebijakan luar negeri dan ekonomi, termasuk berjanji untuk mempercepat berakhirnya perang Rusia-Ukraina dan konflik di Gaza. Selain itu, kebijakan tarif yang dilontarkan oleh Trump turut mengguncang tatanan perdagangan global.
Menilik perkembangan hubungan Taiwan-AS selama setahun terakhir, delegasi anggota Kongres AS terlihat terus berdatangan ke Taiwan; Pengiriman batch pertama sistem peluncur roket ganda HIMARS yang dibeli dari AS telah dilakukan, begitu pula dengan kedatangan tank tempur M1A2T yang dijuluki “tank terkuat di dunia” ke Taiwan. Di saat yang sama, Amerika Serikat juga terus menegaskan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan melalui pernyataan pejabat tinggi, forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan berbagai ajang multilateral lainnya.
Wakil Direktur Pusat Studi Hubungan Internasional Universitas Chengchi (NCCU), Chen Zhi-jie (陳至潔) menilai bahwa hubungan Taiwan-AS dalam setahun terakhir berlangsung dengan sikap yang hati-hati tetapi tetap optimis. Ketika Trump membicarakan Taiwan, topik yang diangkat sebagian besar berkaitan dengan semikonduktor atau perdagangan, bukan nilai strategis Taiwan, dan menurutnya, hal tersebut bukanlah sesuatu yang buruk bagi Taiwan.
Profesor Lin Tai-he (林泰和) dari Institut Studi Strategis dan Urusan Internasional Universitas Chung Cheng (CCUU) menyatakan bahwa perang Rusia-Ukraina telah mendorong pergeseran strategi AS dari Eropa ke Asia. Sementara itu, kebijakan tarif Negeri Paman Sam memberikan dampak paling besar terhadap Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kedua faktor ini, dalam jangka panjang, dinilai sebagai perkembangan yang positif bagi Taiwan.
Setelah Trump kembali ke Gedung Putih, hubungan AS dengan sekutu-sekutunya mengalami pergeseran dari penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia seperti sebelumnya, menjadi lebih fokus pada kepentingan praktis. Misalnya, Trump menuntut negara-negara sekutu di Eropa dan Asia untuk lebih bertanggung jawab dalam hal pertahanan diri, serta memberlakukan kebijakan tarif guna mengurangi defisit perdagangan luar negeri. Pergeseran ini memunculkan perdebatan mengenai apakah hubungan AS dengan para sekutunya masih seerat seperti dahulu.
Lin Tai-he (林泰和) merasa dari sudut pandang realisme, setiap negara harus menyelamatkan dirinya sendiri, tidak ada yang akan berperang demi kita. Oleh karena itu, Taiwan harus menunjukkan tekad kuat dalam mempertahankan diri. Adapun dalam negosiasi tarif, pendekatan yang diambil juga harus realistis dan pragmatis.
AS Tekankan Perdamaian Selat Taiwan di Berbagai Forum, Narasi "Meragukan AS" Tak Berdasar
Pernyataan Donald Trump terkait industri chip Taiwan dan TSMC memicu kehebohan di dalam negeri. Sebagian opini publik juga menilai bahwa komitmen Trump terhadap keamanan Taiwan semakin “kabur”. Di tengah memanasnya persaingan antara AS dan Tiongkok, ada kekhawatiran bahwa Taiwan bisa menjadi “bidak catur” bagi pihak AS.
Lin Tai-he (林泰和) merasa bahwa analisis tersebut tidak memiliki dasar yang kuat. Trump melalui juru bicara Gedung Putih, pernah menyampaikan akan pentingnya menjaga stabilitas di Selat Taiwan dan mendorong penyelesaian damai atas masalah lintas selat. Selain itu, baik panduan strategi dari Departemen Pertahanan AS, pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, maupun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, semuanya secara konsisten menegaskan penolakan terhadap perubahan sepihak atas status quo di Selat Taiwan melalui kekerasan. Komitmen AS dalam membela Taiwan, menurutnya tidak akan berubah.
Selain itu, Negeri Paman Sam juga menunjukkan kepeduliannya terhadap situasi Taiwan melalui berbagai forum multilateral. Baru-baru ini, AS untuk kali pertama membantah penafsiran Tiongkok yang menyimpang terhadap Resolusi No.2758, yang menjadi bukti perhatian serius AS terhadap posisi Taiwan.
Chen Zhi-jie (陳至潔) juga menyatakan bahwa meskipun Trump belum secara tegas menyatakan akan membantu membela Taiwan, para anggota kabinetnya sepakat akan posisi strategis Taiwan, mengakui nilai penting Taiwan bagi AS di kawasan Pasifik Barat, serta memiliki kesepahaman yang kuat bahwa Taiwan tidak boleh jatuh ke tangan Tiongkok.
Taiwan Tidak Akan Jadi Alat Tawar dalam Negosiasi AS-RRT, Tetapi Harus Waspadai Kemungkinan Dijadikan “Kartu Taiwan”
Saat AS dan RRT tengah menggelar perundingan terkait tarif, muncul pertanyaan apakah negosiasi tersebut akan menyentuh isu terkait Taiwan. Menurut Chen Zhi-jie (陳至潔), dalam ranah ekonomi dan perdagangan, hampir tidak mungkin pembahasan antara AS dan Tiongkok akan mencakup Taiwan. Trump pun diperkirakan tidak akan menukar Taiwan dalam proses negosiasi tersebut. Namun, Chen juga mengingatkan bahwa Taiwan perlu waspada karena AS tidak menutup kemungkinan akan memainkan “kartu Taiwan” sebagai alat tekan terhadap Tiongkok.
Dalam situasi seperti ini, Chen Zhi-jie (陳至潔) menganalisis bahwa situasi di Selat Taiwan tidak akan mereda, sebelum tahun 2028. Pemerintah Taiwan perlu menunjukkan tekad pertahanan diri dalam hal pertahanan nasional dan bekerja sama dengan pihak Negeri Paman Sam dalam isu perdagangan. Namun, di mata Beijing, langkah-langkah ini kemungkinan akan dianggap sebagai tindakan provokatif, sehingga ketegangan dalam hubungan lintas selat tetap berpotensi terjadi.
Chen Zhi-jie (陳至潔) menunjukkan, masyarakat Taiwan harus mulai mempertimbangkan kemungkinan konflik atau perang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan mempersiapkan diri secara mental. Diperlukan mobilisasi serius dan kesiapan dalam hal pertahanan sipil serta ketahanan pertahanan. Hanya dengan cara ini Taiwan dapat mengirimkan pesan yang jelas kepada pihak seberang, yaitu bahwa Taiwan tidak takut akan perang, dan justru karena itulah perang pun bisa dihindari.
Sesuai dengan Tujuan Strategis Indo-Pasifik AS, Strategi Mini-Multilateral di Kawasan Masih Memiliki Ruang Gerak
Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍) pernah menyatakan bahwa strategi diplomasi Trump 2.0 membangun hubungan mini-multilateral di kawasan Indo-Pasifik, seperti kerja sama AS-Jepang-Korea Selatan dan AS-Jepang-Filipina. Para akademisi menilai bahwa meskipun diplomasi dengan Negeri Paman Sam tetap menjadi prioritas utama, tetapi masih ada ruang untuk mengembangkan hubungan dengan negara-negara lain di kawasan. Lin Tai-he (林泰和) menyebutkan bahwa dengan pergeseran cepat poros strategis AS ke Asia dan tuntutan agar sekutu di Asia menunjukkan kemampuan pertahanan diri, hubungan mini-multilateral memiliki peluang besar, termasuk memperdalam kerja sama dengan Jepang, Korea Selatan, maupun Filipina.
Chen Zhi-jie (陳至潔) juga menunjukkan, seiring dengan strategi kawasan yang dijalankan AS, saat ini merupakan momen yang tepat bagi Taiwan untuk mengembangkan hubungan mini-multilateral dengan negara-negara di kawasan. Dalam kunjungan ke Asia Pasifik, Menhan AS Pete Hegseth menyebutkan perlunya pihak Filipina dan Jepang dalam memperkuat kerja sama di bidang penjagaan laut, militer, dan intelijen. Chen mengungkapkan, menurut informasi yang ia peroleh, Komando Indo-Pasifik AS dan Departemen Pertahanan AS secara diam-diam mendorong Jepang dan Filipina untuk meningkatkan interaksi dengan Taiwan. Hal ini tercermin dari pelonggaran pembatasan kunjungan pejabat Filipina ke Taiwan belakangan ini, serta semakin intensifnya kerja sama militer dan penjagaan laut antara kedua pihak. Dalam konteks ini, strategi diplomasi mini-multilateral di kawasan memiliki peluang lebih besar dibandingkan sebelumnya.