(Taiwan, ROC)-- Dalam rangka mendorong transformasi digital di sektor medis Taiwan, Kementerian Kesehatan (MOHW) telah mendirikan tiga pusat AI utama, salah satunya adalah “Pusat Penerapan AI yang Bertanggung Jawab” yang kini telah berhasil diterapkan di 10 rumah sakit di seluruh Taiwan, sekaligus menjadikannya yang pertama di Asia.
Dengan menerapkan 10 item AI yang telah terimplementasi, pusat ini telah melayani sekitar 230 ribu kunjungan pasien. Ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Taiwan menuju digitalisasi layanan kesehatan dan transformasi menuju sistem medis cerdas, dan ke depannya diharapkan dapat menjadi panutan internasional dalam penerapan AI di dunia medis.
Pada Oktober tahun lalu, MOHW mengumumkan pembentukan tiga pusat AI: “Pusat Penerapan AI yang Bertanggung Jawab”, “Pusat Verifikasi dan Pembuktian Klinis AI”, serta “Pusat Riset Dampak AI”, dengan tujuan mengatasi tiga tantangan utama dalam penerapan AI di ranah klinis, yaitu: implementasi, pembuktian, dan sistem pembiayaan.
Di antaranya, “Pusat Penerapan AI yang Bertanggung Jawab” berfokus pada penerapan teknologi AI secara stabil dalam sistem layanan kesehatan. Dalam kurun waktu enam bulan sejak program dimulai, sudah ada 10 rumah sakit di Taiwan yang berhasil membentuk sistem sertifikasi sesuai standar.
MOHW menggelar konferensi hasil kerja “Pusat Penerapan AI yang Bertanggung Jawab” pada 21 April pagi. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri MOHW Lue Jen-der (呂建德) menyampaikan bahwa meskipun potensi perkembangan teknologi AI sangat besar, pemerintah lebih mengutamakan bagaimana AI dapat benar-benar digunakan secara aman dan andal dalam dunia medis. Ia menyoroti dua masalah besar dalam penerapan AI, yaitu kurangnya transparansi teknologi dan bias dalam pengambilan keputusan.
Oleh karena itu, “Pusat Penerapan AI yang Bertanggung Jawab” menerapkan mekanisme manajemen yang terstruktur guna meningkatkan kepercayaan dan kesediaan sistem medis untuk menggunakan AI. Taiwan kini menjadi negara terdepan di Asia dalam hal penerapan AI yang bertanggung jawab di ranah klinis, sejajar dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ini bukan hanya langkah besar bagi transformasi digital layanan kesehatan Taiwan, tetapi juga berpotensi menjadi contoh penerapan AI medis secara global.
Direktur Departemen Informasi MOHW Lee Chien-chang (李建璋) mengungkapkan bahwa “Pusat Penerapan AI yang Bertanggung Jawab” telah menunjukkan hasil awal yang positif, dan ke depannya akan fokus pada penerapan resmi di lembaga medis. Langkah selanjutnya adalah mendorong semua rumah sakit untuk melakukan registrasi penggunaan secara menyeluruh.
Setelah masa program berakhir, pusat ini akan digantikan oleh label sertifikasi nasional, sebagai cara untuk memperkuat mekanisme peninjauan, evaluasi, dan kepercayaan terhadap AI medis secara sistematis. Label ini juga akan menjadi dasar kebijakan penerapan AI bagi industri. Ke depannya, Taiwan juga berencana mempublikasikan hasil penerapan AI ini di tingkat internasional, serta berharap dapat membentuk aliansi TRAIN di kawasan Asia.