History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

RRT Berupaya Memecah Belah, Kemenlu: Eropa Jangan Pilih Jalur Pro-Tiongkok

  • 18 April, 2025
  • 陳柏萇
RRT Berupaya Memecah Belah, Kemenlu: Eropa Jangan Pilih Jalur Pro-Tiongkok
RRT Berupaya Memecah Belah, Kemenlu: Eropa Jangan Pilih Jalur Pro-Tiongkok

(Taiwan, ROC) – Dalam menghadapi situasi regional yang semakin kompleks, Taiwan kini tengah aktif menjalin hubungan yang lebih erat dengan mitra-mitra Eropa yang memiliki kesamaan nilai. Namun, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga secara bersamaan berupaya untuk menarik dukungan. Berdasarkan siaran informasi yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan pada hari ini (18/4), Deputi Menteri Luar Negeri Wu Chih-chung (吳志中) dalam wawancaranya dengan media Prancis, mengungkapkan bahwa strategi utama RRT untuk melemahkan posisi Amerika Serikat (AS) adalah dengan berusaha menjalin aliansi dengan Eropa. Oleh karena itu, Wu Chih-chung (吳志中) secara khusus menghimbau negara-negara Eropa agar tidak memilih jalur yang pro-Tiongkok.

Deputi Menteri Luar Negeri Wu Chih-chung (吳志中) pada Rabu (16/4) lalu melakukan wawancara melalui video call dengan program diskusi politik di saluran berita TF1, televisi nasional Prancis. Menanggapi isu terkait Negeri Panda, Wu menyatakan bahwa karena Negeri Tirai Bambu saat ini belum memiliki kekuatan untuk melampaui Negeri Paman Sam, strategi utamanya adalah berupaya membangun aliansi denagn Eropa guna melemahkan posisi AS. RRT juga berusaha mencuri teknologi dan pengetahuan profesional dari Eropa untuk memperkuat kemampuan industrinya, dengan tujuan akhir mengubah tatanan internasional yang ada dan membentuk sistem global yang dipimpin oleh Beijing. Oleh karena itu, di tengah upaya RRT untuk memecah belah blok negara-negara demokratis, ia menghimbau Eropa agar tidak memilihi jalur yang pro-Tiongkok.

Wu Chih-chung (吳志中) menunjukkan, RRT terus melancarkan strategi “zona abu-abu” terhadap dunia dalam berbagai aspek. Wu menyerukan agar Eropa memandang serius dampak dari infiltrasi dan aktivitas mata-mata Negeri Panda. Dirinya menjelaskan bahwa kekuatan demokrasi terletak pada kebebasan yang dimiliki setiap individu, tetapi keterbukaan ini juga menjadi celah yang dimanfaatkan oleh negara-negara otoriter. Oleh karena itu, blok negara-negara demokratis harus menghadapi ancaman ini dengan sikap yang serius dan tegas.

Terkait isu Selat Taiwan, Wu Chih-chung (吳志中) menyampaikan bahwa dalam menghadapi tekanan militer dari Negeri Panda yang semakin meningkat, tugas utama Taiwan adalah menjalin kerja sama yang erat dengan negara-negara sahabat seperti Prancis dan negara-negara Uni Eropa lainnya, serta AS, Jepang, dan Kanada, guna bersama-sama menjaga demokrasi dan stabilitas. Dirinya juga menekankan pentingnya dalam memperkuat kerja sama di bidang seperti semikonduktor, demi membangun masa depan yang sejahtera bersama. Selain itu, belakangan ini negara-negara Eropa juga mulai mengirim kapal perang untuk berpatroli di kawasan Asia-Pasifik, yang menunjukkan bahwa Eropa mulai menyadari pentingnya isu ini.

Mengenai hubungan Taiwan-AS, Wu menyatakan bahwa keberadaan AS yang kuat sejalan dengan kepentingan Taiwan. Saat ini Taiwan sedang menjalin komunikasi dengan AS terkait isu tarif, dan dirinya meyakini bahwa kedua negara pada akhirnya akan menemukan cara kerja sama yang efektif.

Komentar

Terbarumore