(Taiwan, ROC) – Dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan mengalami sejumlah insiden pemutusan kabel bawah laut, yang memicu kekhawatiran di kalangan politisi Amerika Serikat (AS) jika hal tersebut bisa menjadi “langkah awal” invasi oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Komandan Komando Indo-Pasifik AS, Jenderal Samuel Paparo dalam sidang dengar pendapat di Kongres menegaskan bahwa AS perlu memperkuat kemampuan deteksi dan pencegahan, serta membantu Taiwan dalam membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh untuk menghadapi ancaman hibrida semacam ini.
Anggota Kongres AS memperingatkan bahwa pemutusan kabel bawah laut mungkin bagian dari strategi “Perang Non Tradisional”.
Komite Angkatan Bersenjata Senat AS pada Kamis (10/4) menggelar sidang dengar pendapat mengenai situasi keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam sesi tanya jawab, Senator Partai Demokrat Jacky Rosen menyoroti bahwa Negeri Panda berulang kali merusak kabel bawah laut di sekitar Taiwan. Meskipun bukan merupakan serangan militer langsung, tindakan tersebut berkemungkinan dilakukan oleh agen sipil atau pasukan tidak resmi, yang bertujuan melemahkan infrastruktur komunikasi Taiwan dan mengganggu stabilitas kawasan.
Rosen menunjukkan, ada pandangan yang menganggap tindakan semacam ini sebagai uji coba sebelum konfrontasi, tetapi sejumlah pakar memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa jadi merupakan bagian dari strategi besar Negeri Panda untuk membuka jalan bagi upaya menekan Taiwan di kemudian hari, bahkan kemungkinan untuk invasi.
Jenderal Paparo menambahkan bahwa RRT menggunakan kekuatan hibrida untuk melemahkan kemampuan informasi lawan.
Jenderal Samuel Paparo menyatakan bahwa aksi pemutusan kabel oleh RRT bersifat disengaja dan sebagian besar dilakukan oleh “kekuatan gabungan” seperti Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) dan milisi maritim. Melalui metode ini, Negeri Panda dapat melakukan sabotase nyata tanpa secara eksplisit menyatakan perang.
Dirinya menekankan bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan komunikasi dan operasi informasi lawan, serta merupakan bagian dari strategi asimetris yang diterapkan oleh Tiongkok.
Dari sudut pandang intelijen, AS seharusnya melakukan pendalaman terhadap lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi target pemutusan kabel, serta memperkuat kemampuan deteksi dan sistem peringatan dini. Selain itu, perlu juga untuk membangun mekanisme komunikasi cadangan, seperti sistem satelit orbit rendah (LEO) dan orbit menengah (MEO), guna memastikan kelangsungan arus informasi antara negara yang diserang dan sekutu-sekutunya dalam sitausi kritis.
Membantu Taiwan dalam memperkuat ketahanan komunikasi dan membangun sistem cadangan yang beragam.
Jenderal Samuel Paparo menunjukkan bahwa memperkuat ketahanan digital Taiwan sangatlah penting. Meskipun AS tidak dapat sepenuhnya mencegah tindakan sabotase terhadap kabel bawah laut, hal yang paling krusial adalah memastikan Taiwan tetap dapat menjaga kelangsungan komunikasi melalui jalur frekuensi dan teknologi informasi alternatif, serta memiliki kapasitas bandwidth yang cukup untuk menangani misi-misi penting.
Dalam pernyataan pembukaannya di sidang dengar pendapat, Paparo juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, skala operasi TPR Tiongkok terhadap Taiwan telah meningkat sebesar 300% dibandingkan sebelumnya. Hal ini mencerminkan peningkatan kekuatan militer Tiongkok, dan tekad mereka dalam mengambil tindakan.
Dia menegaskan, latihan militer Negeri panda yang semakin agresif di sekitar Taiwan bukan sekedar bentuk intimidasi militer, tetapi lebih menyerupai “gladi bersih”, yang bertujuan untuk memperkuat kesiapan tempur dalam rangka unifikasi paksa terhadap Taiwan.
Jenderal Paparo merasa, meskipun Tiongkok berusaha mengintimidasi rakyat Taiwan dan memamerkan kapasitas koersifnya, langkah-langkah tersebut justru semakin menarik perhatian dunia terhadap situasi di Taiwan. Selain itu, hal ini juga mendorong Taiwan untuk terus meningkatkan kemampuan pertahanannya secara mandiri.