(Taiwan, ROC) -- Setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan penerapan tarif balasan terhadap banyak negara, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) turut mengumumkan untuk membalas dengan tarif sebesar 84%. Trump kemudian menaikkan tarif terhadap RRT menjadi 125%, dengan kedua belah pihak saling bersikukuh. Media RRT, CCTV pada hari ini (10/4) menerbitkan artikel yang mengecam kebijakan tarif balasan Trump, dan menyebutnya sebagai “langkah yang salah, dan salah minum obat”.
Negeri Panda pada Rabu (9/4) malam mengumumkan bahwa per 10 April, pukul 12:01, tarif balasan sebesar 84% akan diterapkan. CCTV melaporkan bahwa pemerintah Tiongkok menyatakan meskipun mereka tidak ingin memulai perang dagang, mereka juga tidak akan membiarkan hak dan kepentingan sah rakyat RRT dirugikan atau dirampas. Jika pihak Negeri Paman Sam bersikeras untuk lebih meningkatkan langkah-langkah pembatasan perdagangan, maka Negeri Panda memiliki tekad yang kuat dan memiliki berbagai metode untuk melakukan pembalasan yang tegas, serta akan siap menghadapi hal ini hingga akhir.
Trump kemudian melalui jejaring sosmed menunjukkan, berdasarkan kurangnya rasa hormat RRT terhadap pasar dunia, maka dirinya memutuskan untuk menaikkan tarif terhadap Negeri Tirai Bambu menjadi 125%, yang berlaku segera.
Selain itu, Donald Trump menyatakan bahwa lebih dari 75 negara telah menghubungi perwakilan AS, termasuk Departemen Perdagangan, Departemen Keuangan, dan Kantor Perwakilan Dagang AS untuk mencari solusi terkait isu perdagangan, hambatan dagang, tarif, manipulasi mata uang, dan tarif non moneter. Dirinya menambahkan bahwa negara-negara tersebut tidak melakukan aksi balasan terhadap AS dalam bentuk apa pun.
“Saya telah menyetujui penangguhan selama 90 hari, dan selama periode tersebut, tarif balasan akan dikurangi secara signifikan menjadi 10%, yang juga berlaku segera” ujarnya.
Terkait hal ini, media Tiongkok CCTV pada hari ini (10/4) kembali menerbitkan artikel yang menyebutkan bahwa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menggelar pertemuan tahunan pertama “Dewan Perdagangan Barang” pada Rabu (9/4) kemarin, di mana RRT mengungkapkan keprihatinan serius terhadap kebijakan tarif balasan AS, dan meminta Negeri Paman Sam untuk mematuhi aturan WTO serta menghindari dampak negatif terhadap ekonomi global dan sistem perdagangan multilateral.
Negeri Panda menunjukkan, tarif balasan AS adalah “langkah yang salah, dan salah minum obat” yang tidak hanya tidak membantu mengatasi masalah ketidakseimbangan perdagangan, tetapi juga akan merugikan AS sendiri, serta secara serius mengganggu tatanan perdagangan internasional.
CCTV menyebut jika pernyataan RRT dalam pertemuan tersebut mendapat dukungan luas. Sebanyak 46 negara anggota WTO, termasuk Uni Eropa, Inggris, Kanada, Jepang, Swiss, Norwegia, Korea Selatan, Malaysia, Brasil, Peru, Kazakhstan, dll, juga turut menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kebijakan tariff balasan AS, dan mendesak Negeri Paman Sam untuk benar-benar mematuhi aturan WTO.