(Taiwan, ROC) --- Pada Kamis dini hari kemarin, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar konferensi pers untuk mengumumkan rincian kebijakan tarif timbal balik.
Dalam kebijakan tersebut, produk impor dari Taiwan akan dikenakan tarif sebesar 32%, Jepang 24%, Korea Selatan 25%, dan Australia 10%. Pengumuman ini langsung mengguncang pasar saham Asia, yang dibuka dengan tren pelemahan tajam.
Sementara itu, ketidakpastian ekonomi global akibat kebijakan ini mendorong harga emas melonjak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai US$3.118 per ons.
Menurut laporan media internasional, kebijakan tarif ini bertujuan untuk menyeimbangkan defisit perdagangan Amerika Serikat. Namun, langkah tersebut justru memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global. Pasar saham di kawasan Asia langsung bereaksi negatif.
Indeks Nikkei Jepang anjlok 4% pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, sementara indeks Australia turun sekitar 2%. Di Korea Selatan, indeks Kospi melemah 1,52%.
Di tengah meningkatnya kecemasan terhadap prospek ekonomi global, para investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Harga emas dunia terus melesat hingga mencetak rekor baru di level US$3.118 per ons.
Para analis memperingatkan bahwa jika ketegangan perdagangan ini terus berlanjut, maka dampaknya terhadap perekonomian kawasan Asia-Pasifik dapat semakin signifikan.
Tren aliran dana menuju aset-aset aman diperkirakan akan terus berkembang, seiring dengan meningkatnya ketidakstabilan di pasar keuangan global.
Langkah Donald Trump ini bukan hanya menjadi ujian bagi hubungan dagang internasional, tetapi juga menambah tekanan pada negara-negara mitra dagang utama Amerika Serikat, yang kini harus menghadapi tantangan baru dalam menjaga daya saing produk mereka di pasar global.