Tiga Larangan Utama: Hindari untuk Menjaga Harmonisasi
1. Jangan Memotong Kuku
Selama lima hari menjelang dan setelah Qingming (30 Maret 2025 hingga 4 April 2025), hindari memotong kuku. Kuku dipercaya melambangkan akar kekayaan. Dengan membiarkannya tetap tumbuh, Anda menjaga energi positif yang mendukung keberuntungan finansial sepanjang tahun.
2. Hindari Aktivitas yang Melibatkan Penggalian atau Pembangunan
Pantangan ini mencakup kegiatan seperti membangun rumah, menggali tanah, menanam pohon, atau melakukan pekerjaan konstruksi. Pada masa Qingming, energi bumi dianggap tidak stabil.
Mengganggu tanah dapat memicu gangguan terhadap Dewa Tanah, yang berpotensi menyebabkan konflik kecil hingga mengancam keharmonisan rumah tangga. Jika ada kebutuhan mendesak untuk melakukan aktivitas ini, hindari periode 1April hingga 7 April 2025.
3. Jangan Mengonsumsi Makanan Mentah atau Dingin
Saat Qingming, suhu belum sepenuhnya hangat, dan makanan dingin seperti minuman es, sashimi, atau salad dapat membahayakan pencernaan, menyebabkan sakit perut atau diare.
Sebagai gantinya, pilih makanan hangat dan bergizi, seperti kue mochi daun mugwort atau bubur angco untuk menjaga kesehatan serta mengusir hawa dingin, sekaligus melindungi energi positif tubuh.
Lima Orang Tidak Boleh Bersama Saat Ziarah
Saat melakukan ziarah ke makam pada Festival Qingming, ada kepercayaan bahwa lima orang tidak boleh pergi bersama. Tradisi ini berakar pada keyakinan bahwa jumlah tersebut dapat menarik energi negatif.
Sebaiknya, lakukan ziarah dengan kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang untuk menjaga keharmonisan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Mereka yang Tidak Dianjurkan untuk Ikut Ziarah
Beberapa kelompok tertentu juga disarankan untuk tidak ikut serta dalam kegiatan ziarah makam, demi menjaga kesehatan fisik dan psikologis mereka. Berikut adalah kelompok-kelompok tersebut:
Ibu Hamil
Medan energi di area makam cenderung memiliki energi yin (陰性) yang kuat, sedangkan kondisi fisiologis ibu hamil lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan ibu maupun janin.
Anak-Anak di Bawah Usia 12 Tahun
Anak-anak memiliki kondisi mental dan emosional yang belum matang, sehingga lebih mudah merasa takut atau terganggu oleh suasana di makam. Selain itu, mereka sering kali belum sepenuhnya memahami makna tradisi ini.
Lansia Berusia di Atas 60 Tahun
Dengan daya tahan tubuh yang cenderung menurun, perjalanan jauh atau aktivitas intens seperti ziarah dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit.
Orang yang Sedang Sakit atau Lemah
Mereka yang sedang dalam kondisi fisik lemah atau dalam proses pemulihan memiliki energi yang (陽性) yang lebih rendah, sehingga lebih mudah beresonansi dengan energi yin di area makam. Hal ini dapat memperlambat proses pemulihan atau bahkan memperburuk kondisi kesehatan.
Festival Qingming bukan hanya waktu untuk mengenang leluhur, tetapi juga momen untuk menjaga harmonisasi antara dunia fisik dengan spiritual. Dengan memahami tradisi dan pantangan ini, kita dapat menjalani Qingming dengan lebih bijak, menghindari risiko yang tidak perlu, serta tetap menghormati leluhur dengan cara yang aman dan penuh makna.
Bagi mereka yang tidak dapat hadir langsung di makam, ingatlah bahwa penghormatan tidak selalu harus dilakukan secara fisik. Doa tulus dari hati tetap memiliki kekuatan yang sama untuk menyampaikan rasa hormat dan kasih kepada mereka yang telah tiada.
Asal-usul dan makna Festival Qingming?
Kata "Qingming 清明" awalnya hanya merupakan nama untuk salah satu dari 24 periode dalam kalender pertanian, yang kemudian berkembang menjadi hari untuk mengenang leluhur, yang ternyata memiliki keterkaitan erat dengan Festival Han Shi (寒食節).
Secara harfiah, Festival Han Shi (寒食節) dapat diartikan Festival Makanan Dingin.
Pada zaman dahulu, tradisi utama saat Festival Han Shi termasuk membersihkan makam, berjalan-jalan di alam terbuka, dan larangan untuk menyalakan api untuk memasak. Sehingga masyarakat hanya makan makanan dingin atau yang tidak memerlukan proses pemasakan.
Karena Festival Qingming dan Festival Han Shi berdekatan, maka sejak zaman Dinasti Song, tradisi membersihkan makam pada Festival Han Shi secara bertahap bergeser ke Festival Qingming.

Pangeran Ji Chong’er (姬重耳) dari Negara 晉 (baca:Jin). 圖/維基百科
Berdasarkan cerita rakyat dari era Zaman Musim Semi dan Musim Gugur, pada saat itu, Pangeran Ji Chong’er (姬重耳) dari Negara 晉 (baca:Jin) terpaksa melarikan diri karena pemberontakan Li Ji (驪姬之亂) dan mengembara di luar negeri.
Suatu hari, ketika rombongan pelarian tersesat di pegunungan dan kehabisan makanan, seorang menteri bernama Jie Zhitui (介之推) memotong pahanya sendiri, merebus dagingnya, dan menyajikannya kepada Pangeran Ji Chong’er.
Sembilan belas tahun kemudian, Ji Chong'er kembali ke Jin dan naik takhta sebagai Duke Wen dari Jin. Ia pun memberikan penghargaan kepada para menteri setianya yang telah menemaninya selama masa pengembaraan.
Namun sayangnya, Ji Chong'er lupa kepada Jie Zhitui. Di lain pihak, Jie Zhitui adalah sosok sederhana yang tidak suka mencari penghargaan, ia memilih untuk pulang dan hidup menyendiri dengan ibunya.
Setelah diingatkan oleh orang lain, Ji Chong'er yang telah menjadi Duke Wen dari Jin pun bergegas mengunjungi rumah Jie Zhitui di Gunung Mianshan (綿山).
Namun, karena kesulitan menemukannya, seorang menteri menyarankan untuk membakar Gunung Mianshan agar Jie Zhitui keluar. Namun, setelah api padam, Jie Zhitui tidak ditemukan. Ia kemudian ditemukan telah meninggal sambil menggendong ibunya di bawah pohon willow.

Menteri Jie Zhitui yang kemudian ditemukan telah meninggal sambil menggendong ibunya di bawah pohon willow. 圖/維基百科
Untuk mengenang jasa Jie Zhitui, Duke Wen memerintahkan seluruh negeri untuk menjadikan hari kematiannya sebagai Festival Han Shi (寒食節), di mana semua orang dilarang menyalakan api untuk memasak dan hanya boleh makan makanan dingin.
Pada Festival Han Shi tahun berikutnya, Duke Wen mengunjungi Gunung Mianshan untuk memperingati Jie Zhitui. Keesokan harinya, ia menemukan bahwa pohon willow tempat Jie Zhitui beristirahat telah bertunas. Dia memetik salah satu cabangnya untuk membuat sebuah lingkaran yang dikenakan di kepala, menamai pohon tersebut sebagai "Willow Qingming", dan memerintahkan hari setelah Festival Han Shi sebagai Festival Qingming.
Dengan menggabungkan tradisi Festival Han Shi, Qingming pun bertransformasi dari yang awalnya sekadar periode dalam kalender, menjadi hari raya tradisional Tionghoa yang diisi dengan tradisi membersihkan makam dan penghormatan kepada leluhur.
Untuk mengenang jasa Jie Zhitui, Duke Wen memerintahkan seluruh negeri untuk menjadikan hari kematiannya sebagai Festival Han Shi (寒食節). 圖/xinsheng.net