(Taiwan, ROC) -- Laporan industri papan sirkuit cetak (PCB) oleh perusahaan Taiwan menyebutkan bahwa pada tahun ini, pasar PCB global akan terus tumbuh secara stabil, didorong oleh meningkatnya permintaan server berbasis kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik. Diperkirakan pasar PCB global akan mengalami pertumbuhan sebesar 5,5% dengan nilai produksi mencapai US$85,4 miliar (sekitar NT$2,84 triliun). Namun, perkembangan industri ini masih dipengaruhi oleh perubahan teknologi dan kebijakan perdagangan internasional, sehingga rantai pasokan perlu lebih fleksibel dalam beradaptasi.
Laporan industri PCB Taiwan yang dirilis oleh Asosiasi Papan Sirkuit Taiwan (TPCA) dan Institut Penelitian Teknologi Industri (ITRI) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, industri PCB global berkembang dengan dorongan teknologi dan diversifikasi produk. Server AI serta aplikasi kendaraan listrik menjadi pendorong utama pertumbuhan, sementara pasar ponsel dan memori mulai pulih secara bertahap, mendorong pemulihan permintaan secara keseluruhan.
Di antara segmen PCB, PCB HDI, dan PCB HLC mendapat manfaat dari pertumbuhan pasar server AI dan peningkatan spesifikasi teknologi, sehingga menunjukkan performa yang menonjol. Berdasarkan perkiraan awal, nilai produksi PCB global tumbuh sekitar 7,6% menjadi 80,9 miliar dolar AS pada 2024.
Mengenai prospek industri PCB global pada 2025, TPCA dan ITRI merangkum tiga isu utama berikut. Pertama, AI meluas dari cloud ke komputasi tepi (edge computing). Setelah era 5G, perkembangan AI diprediksi akan memicu gelombang baru peningkatan produk elektronik. Seiring dengan meningkatnya pemrosesan data, pembelajaran mesin, dan teknologi otomatisasi, permintaan untuk komponen utama seperti semikonduktor, packaging, dan PCB juga akan meningkat. Khususnya, inovasi dalam fungsi smartphone, komputer, dan perangkat wearable diperkirakan akan mendorong kenaikan penjualan.
Kedua, banyak pabrik manufaktur elektronik (EMS) yang memindahkan produksi ke negara-negara, seperti Asia Tenggara, India, dan Meksiko. Diperkirakan setelah tahun 2025, Amerika Serikat juga akan menjadi basis produksi penting. Meskipun kapasitas produksi di AS saat ini masih perlu dipantau, tren ini berpotensi mengubah pola perdagangan industri hulu, memaksa rantai pasokan untuk menyesuaikan strategi ekspor agar selaras dengan kebijakan manufaktur AS. Dampak terhadap ekspor dan konfigurasi kapasitas PCB global juga perlu diperhatikan ke depannya.
Ketiga, laporan juga mencatat bahwa sejak 2023, perusahaan PCB dari Taiwan dan Tiongkok telah mempercepat ekspansi mereka ke Thailand. Hingga akhir 2024, lebih dari 30 perusahaan telah mendirikan pabrik di Thailand dan berencana untuk memulai produksi massal pada tahun 2025. Namun, seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi PCB di Thailand, pasokan tenaga kerja di negara tersebut berpotensi menjadi tantangan terbesar dalam jangka pendek.